Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Mencari siasat


__ADS_3

Dave meraih tissue yang berada di atas nakas, lalu mengusap airmatanya yang terus berjatuhan. Pria berusia 25 tahun itu mengendurkan pelukannya, lalu menuangkan air putih kedalam gelas.


"Minumlah Dek, agar hatimu tenang." Savira menerima uluran gelas yang diberikan Dev dan meneguk nya hingga tandas.


"Sudah lebih tenang?! tanya Dev seraya menatap lembut wajah gadis cantik itu. Savira mengangguk pelan.


Syukurlah, Ayo kita duduk disana." Dave menunjuk sebuah sofa yang berada di dalam ruangan rawat inap Safira. Gadis itu mengikuti langkah Dave dan duduk di sofa.


Dave merangkul tubuh Safira seraya mengusap-usap punggungnya "kalau sudah lebih tenang istirahatlah." masih terdengar isakan kecil dari bibir mungil Safira.


"kamu tidur dulu ya. Kakak yang akan menemanimu."


Mata Safira yang terlihat layu bersamaan jatuhnya butiran bening, ia mengangguk patuh.


Dave menyelimutinya tubuh Savira hingga batas dada. Pintu kamar terbuka, masuk dua orang suster, mereka di kejutkan oleh pecahan piring di lantai.


"Maaf tuan, sudah waktunya untuk Nona Savira minum obat."


"Nanti saya yang berikan."


Suster itu mengangguk lalu menaruh obat diatas nakas.


"Suster tolong panggilkan cleaning service untuk membersihkan ruangan ini."


"Baik Tuan, saya permisi!

__ADS_1


"Vir, minum obatnya dulu ya? Savira gelengkan kepala "Nanti saja."


"ini sudah malam, waktunya minum obat dan beristirahat."


"Hmm..."


Akhirnya Savira mengangguk, Dave mulai memberikan lima butir obat bersama air putih hangat pada Savira. usai meminum obat Safira berbaring kembali. Dave menyelimuti tubuh Savira.


"Kak Dev, jangan pergi mana-mana, Vira sangat takut." ucapnya memohon.


"Nggak akan, Kakak akan mejagamu di sini. tidurlah, kak Dev tidak akan pergi ke mana-mana." ia mengusap lembut kepala Savira hingga matanya terpejam.


Tak berapa lama, Savira akhirnya tertidur seraya menggenggam tangan Dev. Gadis itu butuh ketenangan dan perhatian dari orang-orang terdekatnya. Trauma telah membuatnya depresi dan ketakutan. Wajar saja bila Savira gadis yang manja dan sedikit penakut. karena ia terlahir bukan dari keturunan anak-anak macam Asia yang ahli dalam bermain pedang. Delena dan Reno sangat menyayangi Savira seperti anak kandungnya sendiri dan mereka tidak ingin Safira menjadi gadis ahli bela diri, karena karakter nya berbeda dengan Vana yang pemberani dan tidak takut apapun.


***


"Steve di sini banyak CCTV apa pergerakan kita terlihat?


"Sepertinya mereka tidak melihat kita, karena kita berpakaian serba hitam."


"Coba kau lacak posisi CCTV berada di mana saja, agar kita tidak tertangkap oleh mereka."


Steve mengerti ia mengambil sebuah laptop dari tas gemblok nya dan mulai melacak cctv yang tersembunyi di markas Genk kalajengking. Steve seorang pria yang cerdas dan berwawasan luas, kecerdasan nya hampir sama dengan Vano, jelas saja Reno sangat membutuhkan Steve sebagai seorang asisten. Steve mulai melacak cctv dan menghancurkan sistem keamanan kalajengking, hingga mereka tidak akan menyadari kedatangan Reno dan Steve.


"Bagaimana?! tanya Reno yang masih bertengger di atas pohon.

__ADS_1


"Sudah Paman, aku sudah merusak jaringan sistemnya hingga mereka tidak akan menyadari, dan menganggap keadaan akan aman-aman saja."


Good job kau memang sangat bisa diandalkan Aku beruntung memiliki asisten yang cerdas sepertimu."


Terima kasih Paman atas pujiannya Steve tersenyum bangga.


"Ayo kita melompat ke dinding itu."


Steve mengangguk dan ikut melompat kedinding setelah Reno lebih dulu lompat. Keduanya berakhir di sebuah sudut teras yang di penuhi berbagai pepohonan langkah.


"Paman, lihat lah ada bonsai. Setahu aku bonsai ini bernilai jutaan dollar dan berumur ratusan tahun."


jangan menyentuh apapun yang berada di tempat ini." tukas Reno memperingati Steve. "Bisa jadi mereka menaruh sesuatu di tanaman langka ini, aku sudah mengenal beberapa musuh yang melakukan dengan cara licik."


"Paman benar, kita tidak boleh sembarangan di tempat ini. aku hanya kagum saja melihat bonsai bernilai sejarah."


"Ayo cepat kita pergi dari sini dan mencari keberadaan Zidan!"


"Tempat ini sangat luas Paman, bagaimana cara kita mencari Zidan?!


"lebih baik kita berpencar! sepertinya markas ini dibuat dengan banyak ruangan. hingga kita harus membuka ruangan itu satu-persatu."


"Baiklah paman kita berpencar, dan kembali lagi di tempat ini!"


Rena mengangguk lalu melangkah pergi ke arah utara sementara melangkah ke arah barat.

__ADS_1


💜💜💜


__ADS_2