Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Sebuah kejutan


__ADS_3

"Kita selidiki sekarang. Ayo kita temui Dokter Jhon, tadi masih berada di ruangan Papa."


Gegas Delena dan Andini mendatangi dokter Jhon, yang mengetahui kejadian semuanya. kenapa tiba-tiba bukan Reno yang berada di ruangan operasi, seperti itulah pertanyaan dalam benaknya. Sebenarnya Delena merasa lega dan berucap syukur, namun tetap saja ia was-was dan ketakutan bila Reno tiba-tiba di panggil sang pemilik kehidupan tanpa sepengetahuan keluarga nya.


Dimana dokter Jhon? kenapa tidak ada di ruangan suamiku? bukankan tadi ia berada disini?" Andini mengedarkan pandangannya dan mencari sosok Pria paruh baya yang bergelar profesor itu.


Andini melihat sosok suami nya yang terbaring lemah di atas brankar, selang infus dan selang oksigen masih terpasang sempurna ditubuh tua nya. Di usapnya lembut punggung tangan Ramon.


"Pah, akhirnya papa tidak merasakan sakit lagi. Alhamdulillah operasinya berjalan lancar." Andini tersenyum lega.


"Pah, semoga Papa bisa berkumpul lagi bersama cucu-cucu papa" tukas Delena menatap haru sang Ayah mertua.


Ramon masih belum sadarkan diri, matanya masih terpejam sempurna, Namun, detak jantungnya berjalan normal. "Pah cepet lah bangun, kami semua sangat merindukanmu." bisik Andini lembut.


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Andini dan Delena, masuk seorang suster membawa nampan berisi obat-obatan. "Permisi Nyonya, saya mau berikan suntikan untuk Tuan Ramon."


"Silakan sus!


"Suster, dimana Dokter Jhon? bukankah tadi berada di ruangan ini?"


"Barusan saya lihat berada di ruangan kerjanya, Nyah."


"Kalau begitu titip suami saya. Saya akan menemui dokter Jhon sebentar."


"Baik Nyonya."


Delena bersama Andini berjalan meninggalkan ruangan rawat inap Remon.


"Suster, apa ada dokter Jhon? tanya Andini saat melihat seorang suster keluar dari ruangan kerja dokter Jhon.


"Dokter Jhon baru saja pulang, ia ada tugas di rumah sakit lain."


Andini mendesah kesal "Bisa minta nomor kontaknya, saya ada perlu dengan dokter Jhon."


"Maaf Nyonya, saya tidak berani memberikan kontaknya tanpa seizin darinya."


"Ya Tuhan! Andini menahan emosi "Kapan Dokter Jhon kembali bertugas."


"Jadwal kehadirannya dua hari lagi Nyah."


Melihat mama mertuanya mulai emosi, Delena menenangkan nya "Mah! lebih baik kita temui pria asing itu, setelah dia sudah siuman baru kita tanya-tanya."


Andini mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Dua jam kemudian.


"Tolong katakan Siapa anda? dan di mana suamiku berada? Kenapa kau yang berada di ruangan operasi menggantikan posisi suamiku? tanya Delena bertubi-tubi.


Pria itu hanya menatap enggan wajah delena, yang terus memaksanya untuk berterus terang. Sesekali keluar ringisan kesakitan dari bibirnya.


"Cepat katakan! Delena mulai hilang kesabarannya.


"Aku juga tidak tahu, seorang pria kaya raya yang berprofesi sebagai pejabat telah membayarkan ginjal yang saya berikan pada Pria paruh baya tadi."


"Pria paruh baya yang anda maksud, adalah Ayah mertua saya." Decak Delena kesal. ia menarik nafas dalam-dalam untuk menetralisir keadaan, lalu di hembuskan kasar "Lalu di mana suamiku Reno berada?! tanya Delena penuh penekanan.


"Kenapa Nyonya selalu bertanya pada saya? Sudah saya katakan tadi bukan? Kalau saya tidak tahu. Saya hanya melakukan tugas saya untuk mendonorkan ginjal yang saya jual!"


"Lalu siapa pria yang Anda bilang Seorang pejabat itu!" tanya Delena mengintimidasi.


Pria itu menghela nafas gusar, mengalihkan pandangannya kearah jendela.


"Kenapa anda diam! cepat katakan!" Delena mulai emosi dan sudah tak sabar untuk mengetahui keberadaan Reno yang hilang secara tiba-tiba.


"Ma'af, aku juga tidak tahu nama pejabat itu!" ucapnya tanpa beban.


"Apa-apaan kau ini! jangan permainkan aku! pekik Delena "Saya hanya butuh kejujuran anda, permainan apa yang sedang anda buat!"


"Tapi... saya hanya bertanya, dimana keberadaan suami saya, yang seharusnya ia berada di ruangan operasi."


"Delena! Andini menarik tangan sang mantu "Nanti saja kita tanya lagi, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengintrogasi Pria itu. Ayo kita pergi dari sini." gumam Andini, bicara pelan agar tidak terdengar dengan yang lain.


Merasa kurang puas dengan jawaban pria itu, Delena membuang nafas kasar. Akhirnya Delena mengikuti saran ibu mertuanya untuk meninggalkan ruangan itu. Kini ia hadapkan sebuah teka-teki yang harus ia cari jalan keluarnya. Delena berjalan kearah kamar mandi dan menutupnya rapat. Ia menangis dan menumpahkan segala kekesalan nya bersama airmata yang sudah menetes.


"Mas Reno, dimana sekarang kau berada? kenapa kau menghilang begitu saja?! hiks..


***


Esoknya


Sebuah pesawat jet pribadi landing dan mendarat dengan sempurna di Jakarta. Seorang wanita cantik berseragam biru membangunkan Pria yang tertidur pulas dengan ekspresi lelah.


"Maaf Tuan, pesawat sudah landing." ucap wanita itu sopan.


Pria bertubuh tegap dengan raut wajah dingin, Namun tidak menghilangkan kharisma di wajah tampannya, meskipun usia sudah tak muda lagi, tapi masih terlihat gagah dan berwibawa. pria itu mengangguk seraya beranjak dari duduknya.


"Tuan silakan!"

__ADS_1


Seorang pria muda mempersilahkan tuannya untuk berjalan lebih dahulu. Pria itu menuruni anak tangga satu persatu hingga berakhir di aspal hitam. Mereka berdua masuk kedalam sedan hitam yang sudah berada di samping jet. Sedan hitam melaju dengan cepat meninggalkan lapangan terbang khusus untuk pesawat jet pribadi miliknya.


Perjalanan hanya memakan waktu satu setengah jam untuk sampai di rumah sakit "Pelita" milik keluarga Mahesa yang di kelola oleh Zevana alea Mahesa.


Setelah sedan terparkir dengan sempurna, Pria yang masih berparas rupawan di usianya yang menginjak 54 tahun, berjalan dengan langkah panjang memasuki koridor rumah sakit. Setelah berada di depan ruangan private, satpam penjaga membungkuk hormat seraya membukakan pintu kaca untuk Tuan besarnya.


"Selamat datang Tuan besar." sapa nya sopan. Pria tinggi tegap itu hanya mengangguk dan melangkah masuk kedalam ruangan di ikuti Pria muda yang berprofesi sebagai asistennya.


Ceklek!


"Zii!


Sementara Vano dan Dev yang berada di ruangan Vana, terkejut saat melihat sosok pria yang berdiri diambang pintu dengan ekspresi sedih.


"Daddy! pekik Vano, lalu melangkah cepat dan berhambur di perlukan sang Daddy yang sangat ia rindukan kehadirannya. Vano menangis terisak dalam pelukan sang Daddy tanpa mau melepaskannya. Vano terus memeluk erat seakan bebannya mulai terasa ringan. Setelah kehadiran sang Daddy dihadapannya, kekuatannya telah kembali, kejadian demi kejadian beruntun seakan sebuah mimpi buruk yang secepatnya harus Vano akhiri. Ia tidak perduli dengan airmata yang terus menetes membasahi jas hitam sang Daddy. ia bukanlah anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan, Namun Vano menangis merindukan kedua orang tuannya, ia hanya ingin melepaskan beban berat yang berada di pundaknya. Reno mengusap lembut punggung sang anak penuh kasih sayang, ia begitu terkejut saat tangannya menyentuh luka Vano yang masih basah. Reno mengurai pelukannya dan menatap nanar wajah sang anak.


"Apa luka ini perbuatan mereka?" tanya Reno, menatap tak rela.


Vano mengangguk. Seketika kedua tangan Reno bergetar menahan amarah. Darahnya mendidih saat melihat anak-anaknya terluka.


"Tuan Reno." Dave menyapa tanpa ragu, tubuhnya membungkuk hormat. Reno mengangguk kecil dan menoleh kearah ranjang Vana.


"Zii...!!"


Pria itu berjalan kearah brankar, dimana Vana sedang tertidur dengan tenang, gerakan nafasnya turun-naik bersama terdengar suara dengkuran halus dari mulut Vana. Reno mendudukkan bobot tubuhnya ditepi ranjang seraya menatap dalam wajah anak gadisnya yang tak berdaya. Reno mengangkat telapak tangan Vana dan diletakkan diatas permukaan jemarinya, ia genggam tangan Vana, tiba-tiba butiran bening mulai menetes di sudut mata Reno. Menangis dalam diam sungguh menyakitkan bagi seorang pria bergelar Macan Asia. Terlihat punggung lebar Reno terguncang hebat seakan menahan tangisannya agar tidak meledak. Vano berjalan mendekat, di usapnya punggung sang Daddy penuh kelembutan, seakan memberikan ketenangan dan mentransfer energi agar mereka sama-sama kuat.


"Dad! ma'afkan Vano yang tidak bisa menjaga ketiga adik ku ." ucapnya merasa bersalah. lalu Vano menarik nafas dalam-dalam.


Reno mengusap cairan bening yang terus berjatuhan, sungguh ia tak tega melihat penderitaan anak gadisnya, bagaikan raganya ikut tercabik-cabik. Begitu banyak terpasang selang oksigen, selang infus dan alat-alat medis lainnya di tubuh Vana. Bagaimana tidak? seorang ayah yang merawat dan menjaganya sejak kecil, lalu membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Tetapi, hari ini ia harus melihat kenyataan pahit, anak gadisnya terkapar tak berdaya diatas ranjang dengan tubuh penuh perban. Dada Reno bergemuruh, kedua tangannya terkepal kuat bersamaan urat-urat tangannya menonjol, seakan amarahnya mulai tersulut.


"Zii... bangun lah nak, Daddy sudah kembali." bisiknya lembut "Jangan biarkan Daddy merasa bersalah karena telah meninggalkan mu, Daddy sangat menyayangi mu melebihi sayang Daddy pada diri sendiri. kau adalah nafas ku, belahan jiwa Daddy setalah Mama dan mommy mu." Reno mendekatkan wajahnya kearah Vana, dan mencium lembut kening, mata dan kedua pipinya. Lalu pria itu menoleh kearah Vano.


"Dimana Zidane dan Savira!' tanya Reno. Seketika Vano tergagap dan mulai gelisah, ia terus berpikir dari mana harus memulai untuk bercerita yang sebenarnya. Sebenarnya Reno sudah mengetahui tentang hilangnya Zidane dari mansion, namun tidak mengetahui perkembangan Savira yang mengalami depresi. Reno berpura-pura tidak tahu di depan Vano dan Dev, agar mereka jujur dan berterus terang.


Sebenarnya Vano dan Dev sengaja menutupi semua cerita dari kedua orang tuanya, sampai mereka kembali pulang. Namun, tanpa sepengetahuan mereka berdua, Reno pulang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan.


Reno juga sudah tahu cerita tentang Vana dan Vano yang melawan Genk mafia dari orang kepercayaannya.


💜💜💜


@Jagan lupa kasih Bunda kopi dan bunga setaman untuk semedi mencari infirasi 🤣. Terus ikuti keseruan kisah Macam Asia yang banyak mengandung action.


Jangan lupa follow IG dan tiktok bunda ya All...🥰

__ADS_1


@Bersambung


__ADS_2