
"Kau masih ingat?" tanya pria itu.
Gadis itu mengangguk "Jadi pria itu adalah kak Nathan?! lalu.. kenapa kakak bisa melamar jadi bodyguard ku?
"Itu karena__
BRAKK!
BRAKK!
Seketika mereka berdua di kejutkan oleh suara hantaman dari belakang mobil.
"Kak! ada yang menabrak dari belakang."
"Kau jangan lepaskan seat belt. berpegang lah yang kuat!' seru Nathan seraya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Sekali lagi hantaman dari belakang terdengar keras, Namun Nathan tak perduli, ia terus melajukan dengan cepat, tidak perduli jalanan terjal dan bebatuan.
"Apa kakak tahu tempat ini?
"Tidak! ini masih di daerah Papandayan jawa barat. Aku tidak tahu seluk-beluk daerah ini karena aku di besarkan di Bali."
Mobil terus melaju tanpa arah, hingga memasuki sebuah laut dengan hamparan luas didepannya. Mobil Nathan melintasi pasir putih dan batu krikil. Hingga mobil hitam pekat itu sudah di hadang di depan laut.
"Brengsek! mereka mengikuti kemana aku pergi!"
Ciiiiiiiitttttttt!!!!!
Dengan terpaksa Nathan menghentikan mobilnya, ia mendengus kesel dengan nafas kasar.
"Turun kau!" teriak seseorang yang sudah berdiri di samping mobil.
Nathan mengepalkan tangannya kuat, lalu menoleh kearah Vana "Kau tetaplah di dalam, jangan pernah meninggalkan mobil ini apapun yang terjadi."
Gadis itu hanya mengangguk cepat dengan ekspresi khawatir.
Nathan mengelus lembut pipi Vana lalu mencium keningnya. "Aku temui mereka dulu." Gegas Nathan turun dari mobil dan menutupnya kembali dengan keras.
Brakk!
"Apa mau kalian! tantang Nathan
"Tentu saja nyawa gadis itu! suara bariton Pria bertubuh tegap itu terdengar lantang. Tentu saja Nathan tergelak dengan tatapan mengejek.
"Tidak semudah itu kawan! kau pikir aku mau menuruti perintah mu!"
"Tuan Matthew sudah membayar kami untuk menghabisi keturunan Reno Mahesa! Dan kau sudah membawanya ketempat ini, sekarang tugas kami menghabisi gadis itu!"
__ADS_1
Sekali lagi Nathan tergelak "Hey! Gadis itu kekasihku, bila kau ingin membunuhnya hadapi aku dulu!"
"Dasar bodoh! kau masih kelurga Tuan Matthew, kenapa malah membela gadis itu!
"Itu bukan urusan kalian!"
"BEDEBAH! SERANG....!!!!!
Perintah pria itu mengacungkan parang tajam kearah Nathan, dengan gerakan cepat Nathan mampu menghindar dan terjadilah baku hantam dengan segerombolan orang-orang suruhan Matthew.
Dalam waktu setengah jam Nathan mampu menghabisi lawan dengan tangan kosong. Mereka semua tepar di atas batu krikil.
"Katakan pada Matthew, jangan pernah menyentuh wanita ku!" Nathan berseru dengan nafas memburu. Selesai berbicara, ia melangkah pergi menuju mobil yang terparkir, Saat membuka pintu mobil sebuah parang/ Cerurit menghantam batok kepala Nathan.
"Kak Nathan!!! pekik Vana.
"Aaaakkkhhhh...
Nathan terpekik dan merasakan sakit di belakang kepalanya, ia memegang tengkuk dan jemarinya menyentuh darah kental, Nathan terkejut saat melihat kelima jarinya penuh noda darah.
"Brengsek!! dengan sekuat tenaga Nathan berbalik badan dan menahan benda tajam yang akan menghantamkan kembali ke tubuhnya. Pria bertubuh kekar itu berhasil meraih Cerurit dari tangan anak buah Matthew, bersama sebuah tendangan maut kearah perut lawan, hingga pria itu tersungkur keatas batu krikil.
"Kak Nathan! Vana turun dari mobil dan membantu memegang tubuh Nathan yang hampir terjatuh "Kak! darahnya banyak sekali." Vana terkejut.
"Aku saja yang membawa mobil."
"Jangan! Kau belum boleh berkendaraan umurmu belum genap 17 tahun." di saat terluka pun Nathan masih memikirkan keselamatan wanitanya.
"Tapi kak NAD sedang terluka!" protes Vana "Lihat wajah kakak sangat pucat karena mengeluarkan banyak darah, Apa kakak sanggup mengemudi?"
Vana benar, ia tidak akan sanggup mengemudi dalam keadaan terluka. Dalam keadaan terdesak pun Vana tidak ingin mementingkan dirinya sendiri. Keselamatan Nathan juga penting. Akhirnya Nathan mengangguk pasrah dan menyerahkan kunci mobil pada Vana. Dengan sigap Vana membantu Nathan naik kedalam mobil. Melihat banyak darah yang terus mengalir dari kepalanya membuat Vana tak tega, ia mengeluarkan kaos bersih dari dalam tasnya dan menempelkan kebelakang kepala Nathan agar darahnya tidak merembes kemana-mana.
Vana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sudah biasa berkendaraan sejak usia 15 tahun. Sang Daddy selalu mengajari anak gadisnya belajar menyetir di waktu senggang. Beruntung Vana bisa mahir menyetir hingga berguna dalam keadaan terdesak.
Vana mendengar suara erangan dari bibir Nathan yang sudah membiru. ia menoleh dan menatap wajah pias Nathan yang terpejam.
"Kak! aku akan membawa kakak kerumah sakit secepatnya."
"Berhati-hatilah Alea, kau jangan mengebut. kau belum tahu wilayah ini, jangan sampai kita celaka." ucap Nathan lemah, memperingati.
Vana mengangguk dengan perasan kalut. Sebab melihat Nathan yang sudah semakin lemah dan suaranya bergetar seperti menahan sakit.
Vana menepikan mobilnya dan menatap jalanan Kampung yang harus ia lewati "Ya Tuhan! aku harus lewat mana? disini ada tiga jalur. kekanan, kekiri dan lurus." gadis itu menoleh kearah Nathan dan melihat Nathan sudah benar-benar pingsan.
"Kak! kak Nathan! Vana menggoyang pundaknya, Namun ia bergeming. Tak ada lagi suara dari mulutnya, hanya terdengar suara nafas Nathan yang semakin lemah nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa semua jadi seperti ini?! keluh Vana frustasi, "Tempat ini sangat sepi, tidak ada orang yang bisa di tanya." ucapnya bicara sendiri. Vana terlihat panik dan gusar, ia takut salah jalan. Dengan perlahan ia memutuskan kembali berjalan lurus seraya mencari informasi tentang arah jalan ke kota dan mencari rumah sakit.
"Jalanan sangat sepi, sudah jam berapa ini? ia mencari ponsel dalam tasnya dan melihat angka yang tertera di layar depan "Hah? sudah jam 11 lewat 15.? pantas jalanan sepi, nggak ada satupun yang lewat.
"Tenang Vana kau harus tenang." Vana menghirup udara dalam-dalam dan di hembuskannya perlahan, sesekali ia menoleh kesamping dan melihat Nathan sudah tidak bergerak. Disentuhnya tubuhnya yang mulai panas, Vana mengusap tengkuk Nathan yang sudah banjir oleh darah. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dan airmata mulai berjatuhan.
"Kak! Tolong jangan tinggalkan aku dalam keadaan begini? ma'afkan aku yang sudah menyusahkan mu. Aku harus segera mencari rumah sakit." hiks...
Kembali Vana melajukan mobilnya dengan cepat, ia tidak perduli arah mana yang harus ia tempuh. Tiba-tiba ia menghentikan mobilnya saat melihat seorang laki-laki paruh baya sedang melintas jalanan yang Vana lalui. Vana gegas keluar mobil dan mengejar laki-laki itu.
"Pak tunggu!
Panggil Vana, Bapak paruh baya itu menoleh dan menunggu Vana menghampirinya.
"Iya ada apa Neng?"
"Pak, maaf saya mau tanya? arah ke kota kemana ya? saya kesasar, sejak tadi tidak menemukan jalan keluar, hanya muter-muter sekitar sini ajah."
"Eneng dari kota?
"Iya Pak!
"Kalau ke kota masih jauh, harus menempuh perjalanan lima kilometer lagi kalau mau sampai jalan tol ke kota."
Vana mendesah panjang "Lalu dimana rumah sakit terdekat, kakak ku sedang sakit, kepala nya banyak mengeluarkan darah."
Bapak itu terkejut "Kok bisa neng!"
"Iya tadi mengalami musibah. tolong pak antar saya kerumah sakit."
"Ada rumah sakit, satu kilo meter dari sini. Soalnya posisi kita masih di kampung Neng."
"Bapak bisa ikut saya? untuk menunjukkan jalan pintas, kakak saya sudah tidak sadarkan diri."
"Ayo bapak antar."
Vana dan Bapak itu masuk kedalam mobil untuk menuju rumah sakit.
💜💜💜
@Seperti janji Bunda, hari ini 2 episode ya BESTie..
@Jangan lupa follow IG dan Tiktok Bunda 🙏
@Bersambung...
__ADS_1