
Masuk seorang pria berpostur tubuh tinggi tegap dan menatap ke sekeliling ruangan, mata biru nya menatap nanar kearah Vana.
"Siapa kau?! tanya Dev yang melihat pria asing masuk kedalam ruangan khusus Vana.
"Saya akan mendonorkan darah untuk Nona Vana. Kebetulan darah ku sama dengannya."
Seketika semua orang yang berada di dalam ruangan terkejut, Namun ada raut kelegaan di hati mereka semua.
Vano mengalihkan pandangannya, lalu menatap pria tampan yang berdiri di ambang pintu, ia berjalan dan berdiri di depan pria asing itu "Saya tidak mengenal mu, dan saya tidak semudah itu untuk percaya pada siapapun, termasuk kau?! pergilah!" seru Vano menatap penuh tanya.
"Van!
Vano mengagkat tangannya agar Dev tidak berbicara.
"Tidak ada salahnya, kita kasih ia waktu untuk menjelaskan."
"Jangan mudah percaya dengan orang lain, bisa jadi musuh selimut itu ada di dekat kita. Aku tidak ingin mengambil resiko terlalu dalam apalagi mengenai adikku.
"Tuan! Dokter Vana membutuhkan donor darah sekarang juga!" Dr Irwan berusaha membujuk Vano.
"Bagaimana mungkin dia bisa tahu kalau adikku membutuhkan darah yang sama dengannya!" Vano menajamkan matanya pada pria itu. "Dengan tiba-tiba kau datang dan mengakui memiliki darah yang sama dengan adikku. Rasanya mustahil kalau kau tidak siapa adikku!"
"Aku tahu! balas pria itu tegas "Karena aku tahu golongan darahku sama dengan Nona Vana, makanya aku menawarkan untuk mendonorkan darahku untuknya."
Dev menepuk pundak Vano "Biarkan pria ini memberikan darahnya untuk Vana, adikmu sedang krisis. untuk pembuktiannya Dokter akan mengecek dulu darahnya, apakah cocok atau tidak dengan darah Vana. kau jangan terlalu curiga berlebihan, Lihat kondisi adikmu sangat memprihatinkan bukan?
Vano menghela nafas panjang lalu mengangguk pelan. Ia mulai menurunkan ego dan pasrah menerima pria asing itu untuk mendonorkan darahnya.
"Baiklah, lakukan sekarang Dok! perintah Vano pada dokter yang menangani saudara kembarnya.
"Tapi ingat! jangan pernah kau mengelabui kami dengan cara licik, aku sendiri yang akan memantau mu! seru Vano menatap curiga. kini ia terus waspada dan tidak ingin kecolongan lagi dengan apa yang sudah terjadi dengan ketiga adiknya.
Pria itu mengangguk dan mengikuti langkah dokter Irwan dan Dr Nella kerungan donor.
"Silakan tiduran disini." Dr Irwan mempersilahkan, Pria itu mulai berbaring. Dr Irwan di bantu Dua orang suster mengambil simpel darahnya untuk di cocokkan dengan darah Vana. Setengah jam kemudian, Dokter berperawakan tinggi itu terkesima. Ternyata darah pria asing bermata biru memiliki darah yang sama dengan Vana.
"Bagaimana hasilnya? tanya dokter Nella.
"Alhamdulillah, darahnya cocok dengan darah dokter Vana."
"Syukurlah." Dr Nella bernafas lega.
__ADS_1
"Ayo secepatnya kita lakukan pengambilan darah, dan secepatnya lakukan operasi."
"Anda siap untuk diambil darah." tanya Dr Irwan
"Sangat siap! ucap pria itu tegas. "Lakukan secepatnya Dok, Nona Vana sangat membutuh donor darah, jangan sampai terlambat." pinta pria itu ikut khawatir
Dr Irwan mulai menancapkan jarum suntik ke pergelangan tangan Pria itu, darah mulai mengalir masuk kedalam kantong.
"Semoga aku tidak terlambat menolog Alea. Sama halnya seperti yang ia lakukan saat memberikan darah untuk ku." gumamnya dalam hati. Ada binar kesedihan dimatanya saat melihat keadaan wanita yang sedang bertarung melawan maut.
~flash back~
"Kak! kenapa mobil di belakang mengikuti kita terus." tanyanya panik
"Kau tidak usah khawatir, aku akan mengurusnya. Eratkan sabuk pengaman mu."
Wanita itu mengangguk dengan raut wajah tegang.
Mobil Ferrari berlari dengan kecepatan tinggi meninggalkan jauh mobil hitam di belakangnya yang sedang menguntit.
"Sial! sudah pasti ini perbuatan Matthew gila itu yang berambisi ingin membunuh keluarga Reno Mahesa!" batin pria itu mengumpat.
"Kak! apa kau kenal gerombolan yang sedang mengejar kita itu?
"Kak awas!" wanita itu terpekik saat melihat di depan mobilnya sudah di hadang mobil lain, karena kurang konsentrasi pria itu hampir saja menabraknya, dengan cepat ia membelokkan mobilnya menuju jalan kampung. Mobil menembus jalanan berbatu dan berlubang serta di kelilingi banyak pepohonan rindang dan merambat.
"Kak, sepertinya kita masuk kedalam hutan!" serunya menatap gusar pada Pria di sampingnya yang fokus menyetir.
"Untuk menghindari mereka kita harus cari jalan pintas. Kau tidak usah berfikir terlalu dalam, biar ini menjadi urusan ku!"
"Lebih baik aku telepon Daddy, dan meminta bantuan padanya."
"tidak usah, aku bisa mengatasinya!
Wanita itu terdiam dan merasa bersalah, ada binar kesedihan dimatanya "Semua ini gara-gara aku, Andai saja aku tidak nekat pergi kemping bersama teman-temanku semuanya tidak akan pernah terjadi."
Ciiitttttt!
Dirasa cukup aman, pria itu menepikan mobilnya lalu menoleh pada wanita di sampingnya "kau jangan merasa bersalah begitu Alea. Aku yang salah karena telah menjemput mu kesini menjelang sore. Tuan Reno yang meminta aku menjemputmu, karena ia khawatir."
"Daddy terlalu berlebihan! sungut wanita berparas cantik itu.
__ADS_1
"Wajar seorang ayah mengkhawatirkan anak gadisnya."
"Tapi aku sudah dewasa, usia ku sudah hampir 17 tahun. Aku bukanlah anak kecil lagi."
Pria itu tersenyum seraya gelengkan kepala, di usapnya kepala gadis bernama Alea "Kau tahu? pria itu menatap lekat wajah cantik gadis didepannya "Aku pun sangat mengkhawatirkan dirimu, apalagi bila kau pergi keping bersama teman-temanmu, aku tidak ingin kau kenapa-napa."
"Kau sama saja dengan Daddy! apa semua pria seperti itu? gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Tidak semua pria, tapi bagi yang mencintai wanitanya ia akan selalu menjaganya sampai kapanpun." Pria itu menggenggam jemari tangan gadis manja itu "Seperti aku yang akan selalu menjagamu, karena aku tulus mencintaimu Alea.." bisiknya di telinga gadis cantik itu, seketika bulu kuduknya meremang, ada getaran aneh di dadanya.
Gadis itu melebarkan matanya dan menatap lekat mata biru terang itu "Sudah berkali-kali kak Nadt mengucapkan kata-kata itu, apa kakak benar-benar menyukai ku? tanyanya polos.
Pria itu mengangguk "Tentu saja, kau adalah cinta pertamaku."
Seperti ingin tahu isi hati pria itu dan tidak ada keraguan dalam dirinya, Alea terus bertanya "Sejak kapan kakak menyukai aku?"
Pria itu menghela nafas dalam dan menatap mata bulat berbulu mata lentik "Sejak pertemuan kita di Bali, saat usia mu 14 tahun." gadis itu mengeryitkan alisnya dan menatap tak percaya.
"Kakak jangan bercanda!"
"Aku tidak pernah bercanda. Pertemuan kita saat melihat mu di tepi pantai dan menendang bola air, aku yang sedang termenung di atas batu karang melihat bola itu melintas didepan ku, lalu aku berikan bola itu saat kau mencarinya. Pertemuan kita yang kedua saat kau dengan adik sepupu mu makan chicken di sebuah restoran, tanpa sengaja kita bertabrakan lalu minuman dan makanan yang kau bawa jatuh kelantai. Sebagai rasa bersalah ku, aku menggantinya dan kita makan bertiga, namun sayang. Ibu mu dan tante mu datang dan membawa kalian pergi."
Alea mengingat kejadian empat tahun yang lalu saat ia berkunjung ke Bali bersama kedua orang tuanya. Kala itu Vano tidak ikut sera, sementara Zidane belumlah lahir.
"Kau masih ingat?" tanya pria itu.
Gadis itu mengangguk "Jadi pria itu adalah kak Nathan?! lalu.. kenapa kakak bisa melamar jadi bodyguard ku?
"Itu karena__
BRAKK!
BRAKK!
Seketika mereka berdua di kejutkan oleh suara hantaman dari belakang mobil.
πππ
@Akan Bunda lanjutkan nanti sore ya All.. sekarang lagi kejar kata satu bulan harus 60k, semoga Bunda gak molor dan bisa selesaikan sampai 60k ya Allπ...
Tunggu lanjutannya...
__ADS_1
@Jangan lupa masuk ke tiktok bunda ya sayang... follow akun tiktok bunda (Eny. 76 shop) Ikuti live nya jam 8 malam ππ₯°