
"Ibu.. Ayah.. aku akan menemani kalian di alam sana!" Savira mengangkat tangannya dan menghujamkan pecahan kaca itu ke perutnya.
"BRAKK!
"SAVIRA....!!!!! teriak Dev.
Dev terkejut melihat Savira sudah berada di bawah lantai dengan perut mengeluarkan darah, tangannya penuh dengan darah yang masih memegang pecahan kaca. Dengan cepat Dev menarik pecahan kaca dari perutnya yang tidak terlalu dalam. ia begitu panik dan gusar melihat banyak darah di area perut gadis yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ya Tuhan Savira! kenapa kau nekad begini." tukas Vano tak percaya.
"Mba sari ambilkan kain panjang untuk menghentikan darah Savira."
Mbak Sari yang melihat kejadian itu, tampak syok. "I-ya Tuan!" gegas Mba sari berlari dan mencari kain panjang.
"Adanya selendang panjang ini, tuan!" ucapnya dengan nafas tak beraturan.
"Tidak apa-apa! kau cari Pak Yanto dan suruh siapkan mobil, kita harus membawa Savira kerumah Sakit."
"Iya tuan!" setelah memberikan selendang, wanita berusia 35 tahun itu berjalan cepat mencari Pak Yanto.
"Savira bertahanlah, kau harus kuat dan bisa melewati ujian ini!" ucap Dev, seraya melilitkan selendang kebagian perut Savira.
"Kami semua sayang padamu Vir.."
Dev terus berbicara untuk membangunkan kesadaran Savira. setelah perutnya tertutup selendang, Dev mengangkat tubuh Savira dan berlari kearah teras.
"Dimana mobilnya! teriak Dev.
Pak Yanto yang sudah diberitahu, gegas membuka pintu mobilnya untuk Dev masuk di kursi belakang.
"Boy! jaga mansion! perketat keamanan. Teruslah kalian semua berjaga dan jangan lengah. Musuh masih ada di sekitar kita!" seru Dev memberikan peringatan pada bodyguard kepercayaannya.
"Baik Tuan! saya berserta lainnya akan terus berjaga sampai Tuan Dev kembali."
Semua bodyguard dan seluruh anak buah Reno tahu, perintah Dev sama saja dengan perintah Vano.
"Bagus! kabari aku kalau ada masalah di mansion!"
Pria bernama Boy itu mengangguk.
"Cepat pergi Pak! kita sudah tidak ada waktu lagi!"
Pak Yanto melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia juga terlihat khawatir dengan keadaan Savira yang mulai lemas dan tak berdaya.
"Nona Savira gadis yang baik Mas, tutur katanya juga lembut. Ia gadis periang dan murah senyum. Semoga Nona bisa melewati ini semua." ucap Pak Yanto dengan suara tertahan menahan sedih.
"Doakan yang terbaik untuk adik kami. Savira begitu syok dan terguncang setelah melewati masa yang paling menyedihkan." ucap Dev, pelan. ia menatap iba wajah Savira yang dalam pangkuannya. Dev menelan salivanya menahan getir, tak terasa butiran bening menetes dari sudut matanya.
"Ma'afkan kak Dev, terlambat menolong mu Dek." ucapnya lemah, tangan Dev mengusap lembut pucuk kepala Savira.
"Bertahan lah Dek, kakak mohon!"
***
__ADS_1
Vano terus menyusuri jalanan setapak yang becek, tiba-tiba perasaannya semakin tak enak. Bukan hanya perasaan cemas, namun takut terjadi apa-apa pada saudara kembarnya.
"VANA.....!!!!
Teriak Vano menggema di udara, angin malam berhembus sangat kencang, membangkitkan pori-pori kulit yang tertidur. Bulu-bulu halusnya meremang, membuat Vano bergidik karena bulu kuduknya tiba-tiba bangun.
"Tunggu! kenapa semakin kesini rimbunan pepohonan semakin lebat? apakah GPS yang aku pasang kearah ini?" ucap Vano bicara sendiri. "Insting ku menyatakan Vana berada di sekitar sini." Vano terus berjalan semakin dalam, terdengar suara binatang malam saling bersahutan.
Tiba-tiba dari atas kepalanya berkelebat bayangan hitam. Vano mendongakkan kepalanya keatas, ia cepat menghindar saat mendapat serangan tiba-tiba.
"Kau sudah menyambut ku, kawan! pekik Vano seraya melompat setinggi orang dewasa lalu membalikkan serangan. perkelahian tidak dapat di hindari lagi, mereka saling serang di malam hari yang gelap, untungnya malam itu terang bulan bersama bintang-bintang kecil bertaburan diatas langit.
Vano yang tidak memakai senjata apapun sanggup menghindari serangan demi serangan dari pria berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup kain hitam juga.
Sementara Vana merasakan panas dan gatal di area matanya. Bubuk putih yang di lemparkan seseorang kemata nya membuat Vana tidak bisa melihat dengan jelas.
"Kau sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi Nona! sekarang katakan dimana flashdisk itu kau simpan!" seru Pria yang baru datang dan tiba-tiba melempar bubuk putih melalui udara.
"Brengsek, mereka sudah merencanakan ini sejak awal. Mataku sangat perih dan pedas!" gumam Vana dalam hati, tangannya masih terus mengucek-ngucek matanya.
"Sepertinya wanita ini lebih mencari mati daripada kembalikan flashdisk itu!"
"Aku harus konsentrasi penuh dan tidak boleh lengah, aku harus mengetahui keberadaan mereka dari gerakan langkahnya tanpa melihat." Vana sudah memasang kuda-kuda dan waspada
"Sungguh sayang wanita secantik ini kita bunuh! tukas salah satu dari mereka.
"Kita buat cacat saja wajahnya, dan salah satu kaki dan tangannya kita putuskan, agar wanita itu jera dan memberitahu dimana flashdisk itu!"
"Itu bukan urusan mu! Kepala Genk kami meminta flashdisk itu untuk di musnahkan!"
Vana tergelak, walau matanya terpejam, Namun telinganya masih bisa mendengar gerakan kaki mereka.
"Berarti kepala Genk kalian seorang pengecut! Dia tidak berani bertanggung jawab dan membunuh warga satu desa demi merampas harta yang bukan miliknya!"
Empat orang pria itu saling bersitatap dan terkejut dengan ucapan Vana. "Jadi kau tahu semuanya? berarti kau pantas mati dan menghilang dari dunia ini!" pekik mereka
Pria itu bergerak cepat dan menghunuskan pedangnya kearah Vana, dengan sigap Vana melompat dan menendang Pria tersebut. Dari arah belakang kawanan berpakaian serba hitam menendang punggung Vana hingga tersungkur ke tanah. Mereka berempat mengepung Vana dan membuat lingkaran.
"Kak Vano kau berada dimana? jerit Vana dalam hati. "Andai saja mereka tidak curang dan mata kuliah bisa melihat, sudah pasti aku bisa menghadapi mereka semua!"
Vana berdiri dan mendengarkan gerakan kaki mereka satu persatu. Empat Pria itu membuat putaran dan menyerang bersamaan. Vana memutar tubuhnya seperti gulungan dan menggunakan ilmu bayangan, menghindari dari serangan pedang mereka. Namun sial, ilmu mereka tidak main-main dan salah satu pedang dari empat orang itu mengenai pangkal lengan Vana.
"SEEETTTT!!!
"Aaakkhhhhh! pekik Vana dan terjatuh ke tanah dengan keluar darah segar dari pangkal lengannya.
"Cepat tebas tangannya dan buat ia cacat seumur hidup!" perintah salah satu dari mereka.
"Kenapa tidak sekalian kita bunuh saja!" seloroh yang lainnya.
"Kita masih membutuhkan wanita itu untuk mengambil flashdisk yang ada pada dirinya! jangan sampai rahasia Genk kita terbongkar, kita siksa dia dengan memberikan pelajaran yang tidak akan dia lupakan!"
"Lakukan sekarang!" perintah dari mereka
__ADS_1
Pria itu mulai menghunuskan pedangnya kearah lengan Vana yang sudah tak berdaya. Namun sebuah tendangan mengenai Pria tersebut, pria itu terlempar jauh.
"Vana!" teriak pria yang baru datang, gegas ia mendekat.
"Kak Vano!"
"Kakak kau sudah datang?!
"Ma'afkan kakak terlambat datang, Dek!"
Vano menatap iba sang adik yang terkena sayatan pedang, dan menatap mata Vana yang terpejam "Dek, mata mu membengkak!"
"Mereka telah melempar bubuk putih ke mata ku saat aku lengah!"
"Brengsek! akan aku habisi mereka semua! teriak Vano, dengan rahang mengeras juga otot-otot tubuhnya ikut mengeras. Tatapan matanya bagai elang yang siap mencabik-cabik lawannya.
Tiba-tiba dari atas pohon, banyak bayangan hitam berkelebat dan mendarat di tanah
"Hahahaha...." ternyata satu kelurga sudah berkumpul disini! seru salah satu dari mereka yang baru datang.
"Dek, menyingkir lah, kakak akan hadapi mereka semua!"
Vana memasang telinganya tajam "Sepertinya mereka bertambah banyak!"
"Kau tenang saja, tidak usah khawatir. Kakak akan menghadapi mereka sampai titik darah penghabisan!" Vano mengusap punggung sang adik untuk memberikan kekuatan. Lalu melepas jas nya dan disematkan di tubuh sang adik.
"Kak! Vana menarik tangan Vano "Berhati-hati lah, yang kakak hadapi Genk kalajengking dan kita berada di wilayah mereka."
"Kenapa kau bisa sampai disini?! tanya Vano pelan.
Terdengar nafas Vana yang tersengal "Mereka menculik Zidane dan meminta tebusan flashdisk itu."
"Jadi Genk kalajengking yang sudah menculik adik kita?!" Vana mengangguk "Sudah ku duga sebelumnya."
"Doakan kakak, agar bisa menghabisi mereka semua!" Vana mengangguk dengan mata masih terpejam, karena menahan panas dan perih.
Vano berdiri dan berjalan kearah mereka "Apa yang kalian cari dari kami!" teriak Vano lantang.
"Sudah diskusinya? Hahahaha... pria itu terbahak "Kembalikan flashdisk itu!"
Vano menyeringai "Dimana adikku Zidan!
"Apa anda meminta penawaran?! bagaimana kalau kami tidak mau!"
Kedua tangan Vano mengepal kuat, terlihat urat-uratnya yang menonjol.
"Akan aku serahkanlah flashdisk itu ke intelejen nasional dan akan terbukti Siapa orang di balik Genk kalajengking!" seru Vano, yang sebenarnya ia juga kehilangan bukti flashdisk itu.
💜💜💜💜
@Bila kalian suka dengan karya Bunda, Ayo jangan pelit-pelit untuk VOTE/GIFT, LIKE DAN KOMENTAR.🥰🥰
Follow IG Bunda. @bunda.eny_76
__ADS_1