
Seorang bodyguard membukakan pintu mobil belakang. Vano turun dan melangkah masuk kedalam gedung perkantoran di ikuti Savira di belakangnya. Savira tetap menjaga jarak dan memposisikan statusnya yang hanya sebagai seorang sekertaris. Savira terlihat takjub pada para karyawan yang membungkuk hormat saat sang CEO berjalan gagah dengan ekspresi dingin namun terlihat elegan. Vano yang terlihat cool dan berwibawa, memiliki kharisma yang tak bisa terbantahkan sebagai pemilik perusahaan Mahesa Group.
Langkah Vano begitu cepat dan penuh percaya diri sebagai Presdir. Savira mengikuti sang kakak yang bergelar CEO menuju ruangannya.
Didalam lift, wajah Vano sangat dingin mendominasi. Terlihat jelas aura seorang CEO yang layak disegani kalangan pembisnis elite nasional. Tak ubahnya Vano adalah duplikat Reno Mahesa, sang ayah yang banyak di takuti kehadirannya di jagat perbinisan.
"Ting!
Pintu lift terbuka lebar, Vano melangkah lebih dulu di ikuti Savira yang memposisikan dirinya sebagai seorang sekretaris.
Sebelum masuk kedalam ruangan, Vano menghentikan langkahnya dan berkata "Kau temui Devan, dan tanyakan apa tugas-tugas mu sebagai sekertaris!"
"Iya kak!"
Kemudian Vano melangkah masuk kedalam ruangan dan menutup pintu.
Savira berjalan mencari ruangan Devan yang berada di lantai yang sama dengan ruangan Presdir. "Dimana ruangan kak Dev ya..? Savira terus melangkahkan kaki jenjangnya hingga berhenti di sebuah pintu yang bertuliskan nama ruangan Asisten Devanto. ia mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban.
"Cari siapa Mbak? tanya seorang office boy yang kebetulan lewat.
"Apakah ini ruangan Pak Devan?!
"Iya betul Mbak, tapi pak Devan nya sedang di ruangan meeting bersama cliant."
"Ohh ya sudah kalau begitu, nanti saya kembali lagi. Terima kasih pak." ucap Savira sopan.
Di depan ruangan Vano, Savira semakin bingung. "Apa pekerjaan dan tugasku sebagai sekertaris? gumamnya gusar. "Apa lebih baik aku tanya kak Vano saja. Daripada berdiam diri nungguin kak Dev yang belum tahu kapan selesainya."
Dengan memberanikan diri Savira mengetuk pintu ruangan Vano.
"Tok! Tok! Tok!
"Masuk! suara berat Vano terdengar dingin.
Savira membuka pintu. Di balik meja kerja yang penuh berkas, Vano menunduk dan menulis sesuatu dengan pena yang terlihat elegan dan berkelas. kacamata bertengger pas di wajah tampannya menutupi bola mata indah berwarna coklat terang. Ia tampak serius dan dingin, berbeda dengan Vano yang biasa Safira kenal hangat dan selalu tersenyum lembut padanya.
"Sudah bertemu Dev! tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas diatas mejanya.
__ADS_1
"Kak Dev tidak ada diruangan kak!"
Vano mengangkat wajahnya dan menatap sekilas "Ini kantor, bukan rumah! biasakan panggil Bapak! sebagai atasan mu di kantor." ucapan Vano sangat dingin dan terkesan tajam.
"Deg! hati Savira menjerit pilu, jantungnya berdebar lebih kuat dari bisanya. Tenggorokan terasa pahit saat menelan salivanya.
"Ma-af, Pak!" ujarnya dengan mata berembun.
Vano mendesah pelan "Meja kerja sekertaris ada di depan pintu ruangan ini. kau sudah tahu bukan?" Savira mengangguk cepat.
"Ini ada agenda kerja saya yang di buat oleh sekretaris sebelumnya. Di catat dan tandai di Kalender, kalau perlu di hafalkan. "Vano memberikan buku agenda yang tampak diberi banyak penanda kertas di bagian sampingnya.
"Hafalkan! cetusnya. Terbayang berapa banyak hal yang harus dihafalkan di dalam buku agenda itu. ingin rasanya Savira menjerit, Namun ia hanya bisa meringis. Suara Vano masih terdengar dingin dan tegas.-
"Sekitar setengah jam lagi akan ada meeting dengan tim pabrik pengembangan produk. kamu ikut dan catat setiap poin penting yang kami bicarakan di sana."
"Baik pak! jawab Safira lesu, ia masih berdiri di situ menunggu instruksi selanjutnya. Vano kembali sibuk mencatat dan mencoret berkas yang kini selesai dibacanya.
"Kenapa kamu masih disini? sana cepat pergi. siapkan segala keperluan saya untuk meeting nanti!" Safira tersentak kaget mendengar Vano berkata dengan nada sedikit membentak. sakit? Namun tak berarah.
"Buru-buru Safira membalikkan badannya dan keluar dari ruangan Vano. Ia sama sekali tidak menyangka mendapat perlakuan sekasar itu dari kakak angkatnya. "Sungguh menyebalkan!" rutuk nya di sela langkahnya keluar dari pintu.
Di meja kerjanya Safira kembali kebingungan. Berkas apa yang harus ia siapkan? ingin bertanya kembali pada Vano, Namun ia takut mendapat bentakan dan dampratan secara tiba-tiba. ingin rasanya Savira menangis, sedangkan rapat tinggal 20 menit lagi, dan Safira belum sama sekali mengerjakan tugasnya. Dalam kepanikan savira menyalakan komputer dan membuka-buka file di dalamnya, mencari berkas apa yang kira-kira diperlukan. Tak berapa lama Vano sudah keluar dari ruangan kerjanya. Tatapan matanya yang dingin seolah menusuk tepat jantung Savira.
"Mati aku! Berkas belum siap. Vano pasti akan membentak ku lagi seperti tadi! ratap Savira dalam hati.
"Savira...!" panggil Vano, menyeret keluar dari lamunannya yang begitu tegang. Savira tergagap, perasaan gugup sekaligus Panik seketika menyerang. Savira menatap Vano yang berdiri di depan meja kerjanya dengan takut-takut.
"Maaf, Pa-pak! saya tidak tahu berkas yang mana yang buat rapat!"
Vano menghembuskan nafas pelan, Dia memutari meja kerja dan kini berdiri persis di sebelah Safira. ketika Zevano menunduk bisa Safira hidup dan rasakan aroma segar mint dari tubuhnya. sangat menenangkan sekaligus mencekam. jari-jari panjangnya menggenggam mouse lalu mengarahkan kursor pada salah satu file yang tersimpan dalam folder dokumen.
"Print dokumen yang ada disini. Rangkap dan masukkan kedalam sepuluh map yang berbeda." perintah Vano, kali ini intonasinya datar tanpa emosi sama sekali.
"Buat agak cepat kita sudah ditunggu cliant!" ucapnya kemudian.
Safira yang sudah mengerti mengangguk paham. Zevano kembali berjalan memutar ke depan meja, sementara Safira sibuk mengeprint dokumen yang bergelar CEO itu minta. Lelaki itu tampak sibuk membuat panggilan telepon sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Dev kau berada dimana?!" serunya.
"Aku masih di ruangan meeting, sekitar dua puluh menit lagi selesai."
"Baiklah aku tunggu kau di Hotel Horizon. Lima menit lagi aku berangkat bersama Savira!"
"Savira...?! ia sudah masuk kerja." terdengar suara riang Dev di ujung telpon. Suara helaan nafas Vano terdengar berat.
"Sudah mulai hari ini! oke aku harus pergi sekarang. Kau langsung menuju Hotel Horizon setelah selesai meeting."
"Okay siap!"
"Savira! sudah selesai semuanya!" Tiba-tiba Vano merubah atensi kearah Savira yang berdiri di depan printer.
"Sudah siap pak! telah saya masukan dokumen kedalam map yang berbeda sesuai instruksi pak Vano tadi." kali ini Safira benar-benar mendengarkan instruksi dari Vano agar tidak melakukan kesalahan.
"Bagus! kita on the way sekarang! tegasnya, tanpa harus berkata dengan dua kali dan melangkah dengan cepat menuju lift.
Segera Savira menyambar tas tangannya yang dia sampirkan di kursi, lalu setengah berlari menyusul langkah Vano yang panjang-panjang itu, sambil memeluk banyak map yang tadi baru saja selesai diprint.
"Jangan lupa bawa buku catatan untuk mencatat poin-poin rapat nanti!" kata Vano mengingatkan sambil menunggu pintu lift terbuka.
"Siap sudah saya bawa Pak! ada lagi yang perlu saya bawa?! tanya Safira. Vano hanya menggeleng pelan seraya melangkah masuk kedalam lift yang terbuka lebar.
Di dalam lift berduaan dengan Vano terasa begitu canggung setelah kejadian dia membentak Safira tadi. Safira memilih diam karena tidak tahu harus bicara apa. Sementara Vano masih mendiamkannya tanpa peduli perasaan adik angkatnya.
Saat pintu lift terbuka. Tiga orang karyawan yang berdiri di depan pintu lift menunduk memberi hormat pada sang Ceo. Tetapi lelaki itu hanya membalas dengan anggukan yang bahkan nyaris tak terlihat dengan wajah yang kaku dan datar.
Vano masuk kedalam mobil yang terparkir di depan lobby, diikuti Savira yang terduduk di depan pengemudi. Mobil melaju meninggalkan perusahaan Mahesa Group.
💜💜💜
@Maaf ya Bunda lupa, kalau part sebelumnya Savira sudah pernah datang ke kantor Vano. tapi sudah Bunda revisi kok. Maklumlah emak-emak banyak urusan kadang suka lupa. 🤣🤣😍
Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
@Bunda mau promosi novel terbaru..
__ADS_1
"AKU BUKAN CINDERELLA"
Ayo mampir All.. kisahnya menguras emosi dan airmata loh...