
"Tidak mungkin, mereka yang mengantri harus menunggu Nona dulu."
"Maksud saya_
"Saya yang akan membayarkan tagihan gadis ini." sela Davina, seraya mengeluarkan sebuah kartu "Masukan kedalam tagihan saya."
Stefany menoleh dan menatap wajah Davina.
"Maaf Nyonya, saya..."
"Tidak apa-apa." Davina tersenyum ramah.
"Apa ada pesanan lagi bu..? tanya seorang kasir.
"Saya mau paket satu dan dua."
"Baik Bu."
"Nyonya, terima kasih banyak. Aku akan gantikan uang nya, ada dua orang anak buah kakak ku menunggu di luar."
Davina tersenyum seraya menepuk pundak Stefany "Jangan di anggap beban, kau seumuran dengan anakku, anggap saja saya ibumu, jadi terimalah makanan yang sudah kau pesan."
Stefany tersenyum "Baiklah, sekali lagi terima kasih." Stefany membungkuk hormat, tiba-tiba Davina mengusap lembut kepalanya.
"Saya permisi dulu Nyonya."
Davina mengangguk.
"Pesanan ibu sudah selesai." tukas pelayan kasir.
"Okay, terimakasih?'
Davina duduk di sudut ruangan untuk menunggu Chika. Tak lama Chika masuk kedalam Cafe mencari sosok sang mami.
"Mami dimana sih! mata liar Chika kesana-kemari "Kebiasaan banget sih mami suka hilang begini! seru Chika berdecak kesal.
"Coba aku telpon mami." Chika mulai menghubungi sang mami "Ahh, malah sibuk telponnya." Chika terus celingak-celinguk mengamati satu persatu tempat Davina duduk. Tanpa ia sadari, Chika menabrak seseorang dengan membawa nampan di tangannya.
"PRANKK!
Nampan yang berada di tangan wanita itu jatuh ke lantai. "Punya mata gak sih loh! lihat tuh semua makanan jatuh semua!" bentak seorang wanita itu pada Chika.
"Gue nggak sengaja! loh nggak usah nyolot begitu donk! bakal gue ganti kok, berapa sih harga makanan kaya gitu!" seru Chika tak mau kalah.
"Bukan masalah harga makanannya, tapi cara loh yang seenaknya ajah menabrak orang!
__ADS_1
"kan tadi gue udah bilang, nggak sengaja! bilang aja kalau loh minta ganti, gua ganti sekarang!" cetus Chika.
"Jangan sombong luh! Wanita itu mendorong tubuh Chika hingga jatuh ke lantai, melihat dirinya di permalukan, Chika tak tinggal diam. Dia balik mendorong dan menyerang wanita cantik berkulit putih itu.
Perkelahian dua remaja itu tak terelakan lagi, pengunjung Cafe berdatangan dan melihat dua wanita itu saling jambak. Momen seru itu mereka abadikan dengan ponsel masing-masing.
Davina yang sejak tadi menunggu Chika merasa khawatir, sebab ponselnya berdering namun tidak di jawab. Melihat ada kehebohan di area cafe membuat Davina penasaran dan ikut menyaksikan perkelahian itu. Saat sudah di dekat orang-orang berkerumun, Davina terkejut melihat anak gadisnya sedang berkelahi.
"Chika, hentikan! teriak Davina yang melihat Chika memukuli wanita di bawah kendalinya.
"Mami!" seru Chika
"Kenapa kau malah berkelahi dan memukuli gadis ini!" dengan kesal Davina menarik tangan Chika untuk bangun. Wanita yang berada di bawah lantai mengerang kesakitan, Davina membantunya untuk duduk.
"Kau__?! pekik Davina terkejut, melihat gadis itu yang baru saja ia bayarkan tagihannya di kasir.
"Kau tidak apa-apa kan, nak? ma'afkan anak ibu." tukas Davina merasa bersalah.
"Jadi dia anak Nyonya?!
Davina mengangguk "Iya! kenapa kalian berkelahi?"
"Dia telah menabrak saya, dan makanan yang saya bawa jatuh ke lantai."
"Dia yang nyolot duluan Mih! aku sudah bilang tak sengaja."
"Minta maaflah! ucap Davina tegas.
Dengan terpaksa Chika berkata "Maaf!"
"Biar ibu gantikan makanan nya lagi ya." ucap Davina lembut seraya mengusap rambut panjangnya yang berantakan, tanpa sengaja Davina melihat tanda kecil bulatan hitam di leher sebelah kiri.
"Tidak usah Nyonya, saya mau pulang saja!" wanita cantik itu bangun dari lantai.
"Tunggu! ibu bertanggung jawab atas kejadian ini, banyak luka di tangan dan wajah mu, ayo kita kerumah sakit." Davina meriah tangannya, ada perasaan iba dalam benak Davina, perasaan ingin menyayangi gadis itu.
"Tidak usah Nyonya, terima kasih." gadis itu melepaskan tangan Davina dan berjalan.
"Siapa nama mu Nak?!
Gadis itu menoleh dan tersenyum pada Davina "Stefany!" kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Davina yang menatapnya penuh tanda tanya.
"Di leher sebelah kiri ada bulatan hitam, tanda itu sangat mirip dengan anakku yang hilang 23 tahun lalu, Apa mungkin dia?!" seketika Davina baru teringat akan masa lalunya, ia begitu penasaran dengan tanda mirip anaknya, lalu Davina berjalan cepat keluar dari Cafe untuk mengejar Stefany.
"Mami mau kemana?! Chika berseru dan ikut keluar dari cafe
__ADS_1
"Mami tunggu!' Chika ikut berlari mengejar sang mami.
Davina terus berjalan dengan langkah cepat dan mencari sosok gadis yang tadi ia temuin. Tiba-tiba ia merasa bersalah dan menyesal karena telah terlambat mengetahui tanda itu.
"Stefany....! panggil Davina yang telah kehilangan jejak. "Ya Tuhan! benarkah dia anakku? seketika airmata Davina mengalir bebas begitu saja.
"Stefany kau dimana...?! Davina bertanya pada setiap orang yang lewat, namun mereka hanya gelengkan kepala.
Sementara itu, Stefany hanya melihat Davina dari kejauhan di dalam mobil, tanpa mau menemuinya.
"Cepat kita pergi dari sini!' perintah Stefany yang sudah duduk di kursi belakang.
"Baik Nona!"
Mobil sedan hitam meluncur dengan cepat meninggalkan sebuah galery yang berada di tepi pantai.
"Mami! kenapa terus berlari dan mengejar gadis itu?" teriak Chika dengan nafas tersengal.
Davina menatap kecewa pada anak gadisnya "Kenapa kau harus berkelahi dengan gadis itu? bahkan kau memukulinya hingga banyak luka! ingat Chika, mami dan papi memasukkan mu sekolah taekwondo bukan untuk menyakiti orang lain!"
"Wanita itu yang duluan mulai mih!"
"Sudah cukup! sekarang kita pulang! Davina melangkahkan kakinya menuju parkiran.
"Ada apa sih dengan mami? kenapa sampai nangis begitu cuma gara-gara wanita sombong tadi! gumam Chika di sela langkahnya berjalan.
Chika membuka pintu mobil dan duduk di sebelah sang Mami, Chika terlihat bingung dengan sikap Davina yang terus menangis terisak.
"Mami sudahlah, apa yang mami tangisi? Davina tidak menjawab pertanyaan sang anak, ia hanya mengusap kasar airmatanya yang terus berjatuhan "Biar Chika yang bawa mobilnya, mami istirahat ajah ya." bujuk Chika yang masih bingung dengan sikap sang mami.
"Chika minta maaf Mih, kalau sudah kecewakan mami. Chika menyesal telah membuat mami menangis."
"Jangan pernah kau lakukan hal tadi pada siapapun Chika! Vidio perkelahian kalian pasti sudah viral, bagaimana kalau papi tahu, akan merusak nama baik dan ramah sakit kelurga kita!"
"Ya Tuhan! Chika membekap mulutnya, ia baru menyadari kecerobohan nya. "Semoga mereka tidak tahu identitas ku Mih! aku harus menghubungi kak Vano."
Tanpa banyak bicara lagi, Davina menstsrter mobil dan melajukan mobilnya. Ada perasaan yang berkecamuk di benaknya, apalagi saat ia melihat tanda milik anaknya yang sama dengan Stefany.
💜💜💜
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
@Bersambung....
__ADS_1