
"Alhamdulillah, tubuh Dr Vana mulai berkeringat, itu tandanya ia sudah membaik, walau belum hilang kesadaran nya." Dr Agung mulai memberikan prediksi nya.
"Semoga Vana bisa melewati semua ini dan kembali kumpul bersama kita lagi." ucap Devan menyunggingkan senyuman.
Akhirnya Vano bisa bernafas lega.
Drett
Drett
Ponsel Vano bergetar, ia merogoh ponsel dalam saku celananya dan menatap nama si penelpon di layar ponsel."
"Bella...."
"Vano berjalan menjauh untuk menerima panggilan telepon dari Bella.
"Iya Bell.."
"Mas, kau berada dimana sekarang?
"Dirumah sakit."
"Aku kesana sekarang!"
"Bukankah kau masih di Polandia?
"Aku sudah kembali mas, setelah mendapat kabar dari Dev, kalau kau dan Vana sedang mendapat musibah. Makanya buru-buru aku pulang."
"Lalu bagaimana kabar Ayahmu, bukankah beliau masih sakit?" tanya Vano yang masih memikirkan keadaan Ayahnya Bella yang mendapat kecelakaan.
"Ayahku sudah lebih baik, ada ibu tiriku yang menjaganya."
"Baiklah, aku tunggu disini. kabari aku bila sudah sampai."
"Iya Mas!"
Setelah selesai bicara Vano kembali berjalan mendekat dan bergabung bersama mereka.
"Apa ada kemungkinan adikku sembuh total?! tanya Vano berharap kesembuhan adiknya dengan cepat.
"Butuh proses Tuan, sebab banyak luka di tubuh Dr Vana. Bisa jadi Ia juga akan mengalami traumatis pasca kejadian yang hampir merenggut nyawanya." ujar Dokter Agung memberikan keterangan.
Vano menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan "Lakukan yang terbaik untuk adikku, Kapan ia akan sadar?"
"Sepertinya Dr Vana harus di rangs*ng biar cepat tersadar, seperti di ajak bicara dan mendengarkan musik kesukaannya. Agar motorik otaknya bangkit dan berkembang."
Vano mengangguk mengerti.
Setengah jam kemudian, masuk notifikasi di ponsel Vano. ia membuka aplikasi hijau.
["Mas aku sudah sampai di depan lobby."]
["Tunggu disana, aku jemput."]
"Aku ke depan dulu, Bella sudah datang." kata Vano pada Dev yang sedang menjaga Vana.
"Apa perlu aku yang menjemputnya?" balas Dev.
"Tidak usah, aku sendiri yang akan menemui Bella." gegas Vano berjalan keluar ruangan Vana untuk menemui Bella di lobby.
"Bell..."
Bella yang sedang berdiri di depan lobby sambil menelpon, menoleh kearah suara yang memanggil namanya. Seulas senyuman sumringah terbit di bibir tipis wanita berdarah Polandia itu.
"Sudah dulu ya, nanti aku telpon lagi." Bella mematikan teleponnya.
"Mas..."
Bella berjalan mendekat dan masuk kedalam pelukan pria yang selalu menjadi prioritasnya. Cinta telah membuat Bella merindukan sosok Zevano Hendra Mahesa.
"Ekhemm! Vano berdehem
"Sayang.. ini tempat umum, banyak orang yang melihat kita." bisik Reno lembut menyadarkan Bella yang langsung memeluknya. Bella terperangah dan menoleh ke kanan dan kiri, mereka yang berlalu lalang melihat kearah mereka berdua. Bella tertunduk malu seraya melepas pelukannya.
"Ayo kita kedalam." Vano menggandeng tangan Bella menuju ruangan rawat inap Vana. Saat berjalan Vano menceritakan kondisi sang adik, Namun tidak menceritakan di serang oleh Genk kalajengking, sebab Vano tidak ingin Bella tahu kalau keluarganya terlibat Genk mafia. Vano menutup rapat semua itu dari sang kekasihnya.
Ceklek!
"Hay Bella..." sapa Dev, saat melihat pintu terbuka dan menampilkan sosok Bella yang bergandengan mesra dengan Vano. Dev beranjak dari sofa dan berjalan mendekat
__ADS_1
"Apa kabar Dev? Bella menerima uluran tangan Dev.
"Sangat baik."
"Bagaimana keadaan Vana?
"Tengok lah, Siapa tahu dengan kehadiranmu Vana bisa bangun dari koma nya."
Bella berjalan mendekati ranjang Vana, di tatapnya wajah cantik sahabatnya, jemari Bella menyentuh lembut tangan Vana.
"Van! Maaf aku baru bisa menemui mu." Bella duduk di tepi ranjang seraya mengusap lembut pucuk kepala sahabatnya. "Aku berharap kau secepatnya bangun dan kita bisa pergi bersama-sama lagi, shopping bareng, nyalon bareng, nonton bioskop bareng, dan dinner bareng." Bella terus mengajak Vana berbicara dan mengingat kan saat pergi bersama. Bella terus bercerita banyak hal, seperti mengingatkan masa-masa di sekolah dulu.
"Ternyata Bella bisa membawa suasana yang tadinya tegang jadi nyaman." Dev berseloroh.
"Bella baru datang dari Polandia. Ayahnya juga masuk rumah sakit karena kecelakaan."
"Kata Bella, kau yang memberitahu aku dan Vana dapat musibah?
"Iya! sorry aku nggak izin dulu. Dua hari lalu aku nggak sengaja cerita, Bella menelpon ku karena telpon mu tidak aktif."
Vano mengangguk "Mungkin Hp ku lowbet."
"Dev! cepat kau pergi keruangan Savira. Aku tidak ingin Kelvin meracuni otak Savira yang sedang depresi." ucapnya cemas.
"Kau tidak apa-apa aku tinggal?!
"Tidak! pergilah." usir Vano
Dave mengangguk patuh, lalu pergi meninggalkan ruangan Vana untuk menemui Savira.
***
Mobil Reno melintasi jalanan yang berkabut. malam itu suasana sangatlah sunyi hanya terdengar deru mesin mobil Reno yang melintasi jalanan terjal dan berbukit. Di ujung jembatan sudah menunggu mobil hardtop yang tentu saja Reno tahu siapa orangnya. Reno menepikan mobilnya dan bergerak cepat turun dari mobil.
"Bagaimana? kalian sudah siap?! Reno bertanya pada wanita yang duduk di depan kemudi juga anak buahnya.
"CK! kau begitu lama. Aku bosan menunggu! tukas Sabrina menatap sebel pada pria yang berdiri di sampingnya. Sabrina terlihat judes dan nada bicaranya cetus, Namun Ia wanita yang tegas dalam bersikap. Wanita ini paling tidak suka dengan pria lelet dan tidak tepat waktu. Baginya waktu sangatlah berharga.
"Aku baru selesai bereskan curut-curut itu! Reno memberi alasan yang pasti Sabrina sudah tahu. "Ayo kita pergi sekarang!"
Gegas Vano berlari kecil kearah mobilnya dan melaju di depannya sebagai petunjuk jalan. Jalanan yang berbatu dan berlubang tidak menyurutkan semangat Reno dan Sabrina untuk menumpas orang-orang yang sudah membangun kan macan tidur.
"Aldo, kau sudah dimana?"
"Hampir mendekati lokasi Tuan!"
"Apa kau tidak salah memberikan informasi?
"Tentu saja tidak!
"Jalanan begitu curam dan terjal. Tempat ini seperti sebuah tahanan yang jauh dari penduduk, banyak pepohonan rindang sisi kiri dan kanan." Reno menjelaskan jalanan yang ia tempuh pada asistennya.
"Yang Tuan lalui jalanan pintas. Jalur timur melalui perkebunan yang tidak terawat. Makanya di tumbuhi tanaman dan pepohonan liar."
"Baiklah, berapa lama lagi aku melewati jalanan ini hingga sampai lokasi."
"Terus saja jalan, nanti akan melewati pohon tebu. Lalu ambil jalur kiri, setelah itu ada rumah kosong bekas peninggalan Belanda. saya menunggu disana, tuan."
"Okeh, aku percepat jalannya agar cepat sampai lokasi!"
Telpon terputus, tak berapa lama masuk panggilan telepon. Reno melihat nama si penelpon "Sabrina?"
"Ya, Sabrin!
"Ck, kau lama sekali telponan, dari tadi sulit di hubungi" cetus Sabrina
"Aku baru selesai hubungi asisten ku!
"Kau sudah berada dimana! tanya Sabrina.
"Tentu saja di jalan! kau masih mengikuti mobil ku bukan?
"Huft! Sabrina membuang nafas kasar "Tengoklah ke belakang, aku sudah tidak bisa mengikuti mobilmu!'
"Apa?! Seketika Reno menghentikan mobilnya. ia menoleh kebelakang, ternyata benar, Sabrina dan anak buahnya tidak ada di belakang mobil Reno.
"Hey! Kenapa kau tidak mengikuti mobilku! Reno menggeram kesal.
"Hardtop mu kejeblos tanah longsor. Kami sedang berusaha mengangkat nya."
__ADS_1
Ck! kenapa disaat seperti ini, ban mobil bisa kejeblos! kesal Reno memukul stir mobil, lalu memutar balik mobilnya ketempat yang tadi ia lalui.
Reno menepikan mobilnya dan keluar untuk melihat kondisi ban mobil hardtop yang kejeblos.
"Bagaimana? apa bisa di tarik?
"Sangat sulit Tuan, tanah nya longsor. kalau kita tarik yang ada kita akan ikut kejeblos juga."
Reno menghela nafas kasar, ia terus berpikir bagaimana caranya agar cepat sampai di lokasi. Reno melirik arloji ditangannya. "Tidak ada waktu lagi untuk mengurusi mobil sialan ini! gumamnya pelan.
"Sabrin! kau ikut lah dengan ku, yang lainnya tetap disini sampai mobil bisa diangkat. Bila tidak bisa juga, kalian hubungi Jack agar bisa membantu kalian."
"Baik Tuan!
Reno melirik wanita di sampingnya agar ikut dengannya. Sabrina hanya mencabik lalu mengikuti langkah Reno menuju mobilnya yang terparkir.
Mobil melaju kembali, walau jalanan tidak bersahabat, Pria berkharisma itu tetap melaju dengan kecepatan tinggi. Sesekali Sabrina menggerutu, karena ban mobil yang mengenai sesuatu hingga gajlukan tak terelakkan.
"Aawww!
"Bisa sedikit lebih hati-hati?! ucap Sabrina seraya melirik Pria tampan di sampingnya, meski usia Reno sudah memasuki kepala Lima, namun pesonanya tidak memudar.
"Hey, sejak kapan seorang Sabrina jadi melankolis?
"Aku juga manusia yang punya perasaan." cibir Sabrina tersenyum kecut
Reno tergelak "Baguslah kalau kau tahu posisi mu seorang wanita. Bukankah kau ahli pedang yang tidak pernah takut dengan apapun!"
"Untuk apa aku takut? gudjlakan tadi membuat ku kesal. aku wanita tangguh dan mandiri, tidak pernah menyusahkan orang!" ucapan Sabrina seperti sebuah sindiran, namun Reno tidak pernah tersungging dengan celotehan wanita di sampingnya. ia tahu betul sifat Sabrina yang mandiri dan ceplas-ceplos.
"Good, aku suka dengan cara mu berbicara tanpa menatap lawan. wanita cantik dan smart pantas di sematkan padamu!"
"Huft! berdebat dengan mu tidak pernah ada habisnya! Dasar egois! cibir Sandra seraya melipat kedua tangan didada.
Reno gelengkan kepala melihat kelakuan Sandra yang kadang membuatnya tertawa. Sifat Arogan wanita itu terlihat jelas, ia paling tidak suka pujian apalagi di bilang cantik. Baginya, itu adalah sebuah sindiran. Aneh memang, tapi begitu lah sifat Sabrina.
Sabrina melirik kearah Reno "Kau tidak pernah berubah Ren, tetap cool dan berwibawa walau kadang suka buat aku jengkel. Namun pesona mu tidak pernah luntur, andaikan saja..."
"Ekhem!
Tiba-tiba Reno berdehem, seakan ia tahu sedang di perhatikan. Sabrina menarik atensinya dari lirikan matanya. Suara hatinya berhenti saat mobil sudah menepi.
Sebuah lampu sorot dari arah depan, benderang menyorot kearah mobil Reno. Ia sudah menepikan mobil dekat rumah tua peninggalan orang Belanda.
"Kita sudah sampai, ayo turun!"
Sabrina melepas seat belt dan turun dari mobil mengikuti langkah Reno.
"Tuan!
Sapa Aldo yang sudah menunggu sejak tadi bersama empat orang bodyguard.
"Dimana lokasinya? sepertinya, tempat ini jauh dari area penduduk dan tidak ada akses jalan lain, hanya satu jalur yang aku lalui."
"Betul Tuan! Aldo membuka lembaran kertas yang penuh lipatan kotak-kotak, lalu perlihatkan lokasi itu pada Reno. "Jalur sebelah sini yang harus kita lalui, nanti kita akan ketemu terowongan dan melewati jalanan setapak ini."
"Tempat ini berada di atas bukit, berapa kilo meter untuk menempuh keatas sana? sementara mobil tidak bisa naik keatas." tanya Reno.
"Sepertinya lokasi ini tempat tersembunyi, tidak banyak yang tahu ada rumah diatas sana!" Aldo memberikan pendapatnya.
"Berarti kita harus jalan kaki untuk menuju bukit itu? Reno menoleh kearah Sabrina yang sejak tadi hanya diam, ekspresinya terlihat dingin.
"Apa kau mau ikut keatas, atau menunggu di sini!" tanya Vano mengalihkan pandangan ke wanita tersebut.
Sabrina menoleh seraya menatap tajam kearah Reno. "Huft! Kau masih saja meragukan kemampuanku, Tuan Reno!" cetus Sabrina kesal, lalu ia melangkah lebih dulu berjalan di depannya.
Reno hanya gelengkan kepala "Ayo kita bergerak!" perintah Reno pada Aldo dan bodyguard nya.
💜💜💜
Dukung karya Bunda dengan cara..
*LIKE
*VOTE/ GIFT
*RATE BINTANG 5
*KOMENTAR NYA.
__ADS_1