Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Sebuah Rencana


__ADS_3

"Terimakasih pujian Mr Leon.." Vana tersenyum hambar.


"Dek! segeralah berangkat, nanti kau kesiangan sampai rumah sakit."


"Iya kak!"


"Mr Leon, saya permisi dulu."


Akhirnya Vana melangkah pergi meninggalkan ruangan sang kakak. Ada kekecewaan yang mendalam di hati Nathan setelah kepergian Vana.


"Tadi sampai mana pembahasan kita?" tanya Vano setelah kembali duduk di sofa yang di Ikuti Leon dan Dev.


"Mr Leon! Apa yang sedang anda pikirkan?


"Ahh, Maaf.. saya sedikit tidak fokus, tadi Anda bertanya apa..?!


"Hehehe.. ternyata pikiran Mr Leon sedang berkelana kemana-mana" sindir Vano terkekeh "Baiklah apa pembahasan kita selanjutnya?"


Leon menghela nafas dalam "Kita akan buat pabrik di negara ini, lebih cepat lebih baik bukan?."


"Tunggu dulu, jangan gegabah untuk langsung membuat pabrik senjata api. Saya harus bertanya dulu dengan Daddy, bngaimnpun juga Daddy berhak tahu apa yang harus saya kerjakan di perusahaan Mahesa Group."


"Tuan Zevano, Anda seorang direktur dan pemilik perusahaan Mahesa Group, kenapa meski ragu? bukankah anda membutuhkan senjata api? apalagi Tuan Reno seorang pembisnis handal dan disegani, sudah pasti banyak yang iri dengan kelurga Mahesa, ada banyak musuh diluar sana bukan?" Leon mencondongkan tubuhnya kedepan Vano berbicara penuh hati-hati "Seperti yang saya dengar dari selentingan pembisnis kalau Tuan Reno memiliki Genk mafia cobra." ucap Leon setengah berbisik.


Vano yang mendengar penuturan Leon, membelalakkan matanya dengan kerutan di dahinya "Siapa yang memberitahu Mr kalau Daddy ku seorang mafia cobra? tiba-tiba Vano menarik kasar jas Leon "Pastilah kau bukan orang sembarangan, kau mengetahui banyak tentang keluarga Mahesa bukan? apa kau sedang memata-matai kami?!!' seru Vano penuh penekanan.


Leon tergelak seraya melepaskan tangan Vano dari jas hitamnya "Anda tidak harus bersikap seperti ini Tuan Zeva, saya disini cliant yang ingin mengajak kerjasama dengan perusahaan Mahesa Group."


"Katakan! sebanyak apa anda mengetahui tentang Genk mafia cobra milik Daddy ku?!" ucap Vano penuh ketegasan.


"Bukankah saya setingkat dengan Ayah anda Tuan Zeva? siapa yang tidak tahu Genk kobra milik Tuan Reno Mahesa."


"Tidak mungkin! tidak ada yang tahu tentang Genk cobra kecuali orang-orang tertentu saja! Vano menatap tajam kearah Leon "Berarti anda banyak mengetahui tentang Daddy ku!" hardik Vano geram, ia menarik kembali kerah jas Leon hingga mereka berdua berdiri.


"Sudah cukup pak Vano!" lerai Dev, menarik tangan Vano untuk melepaskan genggamannya "Kita harus hormati Mr Leon, dia cliant kita dan lebih tua dari kita."


Sepertinya saya tidak bisa meneruskan obrolan ini! Anda lanjutkan saja pada asisten Devan, saya permisi dulu!" Vano yang masih emosial beranjak pergi dari ruangan kerjanya.


"Maafkan tuan Zevano, Mr..." ujar Dev memberikan ketenangan pada Leon. "Anda tidak apa-apa..?"


"Tenang saja, saya tidak apa-apa." ujar Leon seraya merapikan jas nya.


"Ma'afkan sikap Pak Zevano tadi." ucap Dev merasa bersalah. "Sungguh di sayangkan, kenapa tadi Mr berbicara yang bukan ranah anda. itu sangat menyinggung perasaan Pak Zeva. Saya sangat menghormati anda sebagai orang tua." ucapan Dev seperti memperingati.


"Sungguh saya tidak menyangka Tuan Zeva akan tersinggung. Saya minta maaf bila perkataan saya tadi menyinggung tuan Zevano. Padahal saya hanya bertanya Genk kobra. Tapi ya sudahlah, saya juga merasa bersalah."


"Seharusnya tidak perlu anda bahas Genk kobra. Karena itu sangat privasi."


"Baiklah, baiklah... Kalau begitu kita lanjutkan lain kali saja obrolan ini, tolong sampaikan salam dan permohonan maaf saya pada Tuan Zevano. Saya permisi dulu."


'Baik Mr Leon, nanti akan saya sampaikan pada Pak Zevano, kami akan hubungi anda kembali."


"Baiklah terima kasih.."


"Mari saya antarkan anda ke lobby."


Setelah berbincang-bincang, mereka semua keluar dari ruangan presdir.

__ADS_1


***


"Bodoh! kau lakukan untuk kerjasama dengan anak Reno saja nggak becus!" maki Mattew setelah Nathan sudah berada dalam ruangan kelurga milik keluarga Anderson.


"Kau pikir semudah itu mengajak kerjasama dengan kelurga Mahesa, mereka bukanlah orang bodoh seperti yang kau pikirkan!" bentak Nathan tak terima.


"Sudah cukup! kalian jangan bertengkar terus. kita pikirkan cara lain lagi" tegas Samuel melerai Kedua keponakannya.


"Nathan, kau Kembalilah ke London, berikan obat penawar ini pada ibumu!" Samuel mengeluarkan botol kecil berisi penawar racun "Bersiaplah untuk pulang sebelum racunnya menyebar!"


"Apa maksud paman melepaskan Nathan begitu saja! dia belum menyelesaikan tugasnya!" seru Matthew dengan tatapan menghunus kearah Nathan.


"Kau tidak usah mengatur paman! dia lebih peduli pada keluarga ku daripada kau! manusia licik dan tidak punya hati!" bentak Nathan


"BUGH!


"BUGH!


Dengan emosi Matthew menghantam wajah Nathan. Nathan yang tidak siap mendapat serangan dari Matthew, terhuyung ke belakang. Tiba-tiba tangan Nathan mengambil vas bunga diatas meja dan menghantamkan kearah kepalanya hingga mengeluarkan darah segar.


PRAKK!!


"Aaagrrh!" pekik Matthew seraya memegangi kepalanya yang sudah berdarah-darah.


"Kalian berdua seperti 4njink dan kucing! selalu saja ribut bila bertemu! bagaimana kita akan menang melawan musuh bila kalian terus ribut dan bertengkar! teriak Samuel mulai tersulut emosi.


"Matthew selalu cari masalah dan aku tidak pernah memulai lebih dulu." bela Nathan.


"Sudah sekarang kau pergilah, temui keluarga mu di London!"


Nathan mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


"Brakk!!!


"Aggrrhh.. sial! kau benar-benar berengsek Nathan! bajing4n tengik! pantas saja kelakuannya sama seperti ibumu yang seorang j4l4ng! Dasar tidak tahu di untung, sudah aku tolong malah mengigit, lebih baik kau dan ibumu mati saja di terkam harimau!" umpat Matthew sambil berjalan kearah kamar.


"Kak Matth! pekik seorang gadis yang baru saja datang "Kenapa dengan kepala kakak? kenapa bisa berdarah?!"


"Ini gara-gara kekakuan si b4jing4n Nathan!"


"Apa yang sudah kak Nathan lakukan hingga kepala kakak sampai berdarah? apa kakak menyakitinya lagi?!"


"Hey! Kau ini adikku bukan sih?!!! kenapa malah bela di bajing4n itu, Hah?!"


"Kak Nathan tidak akan melakukan tindakan di luar batas bila tidak di sakiti."


"Sudah tidak usah ceramah! pergi saja kau!" omel Matthew seraya memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.


"Biar aku obati kak!


"Nggak usah! Matthew menghempaskan tangan Tiffany yang ingin membantunya.


"Ya Tuhan, kenapa sifat kakak ku sangat emosional dan pemarah, berbeda dengan kak Nathan yang penyayang, perhatian dan sangat peduli, ia tidak mudah marah bila tidak di sakiti lebih dulu." Tiffany geleng-geleng kepala dan melenggang masuk kedalam kamar.


Malam itu juga Nathan meninggalkan kediaman Keluarga Anderson dengan beberapa bodyguard yang ikut menjaganya sampai bandara.


Didalam sebuah kamar, seorang pelayan baru saja menaruh cangkir kopi di atas nakas. "Silakan di minum Tuan."

__ADS_1


"Panggilkan Matthew kemari!"


"Baik tuan!"


Didepan sebuah pintu kamar.


"Tok! tok! tok!


'Ceklek!"


"Permisi Tuan Matthew!"


"Iya ada apa..?!


"Anda di panggil Tuan Samuel."


"Baiklah!"


Matthew keluar dari kamar pribadinya dan membuka pintu sang paman.


"JGLEK!


"Ada apa Paman!"


"Masuklah!


Matthew masuk dan duduk di sebuah sofa tunggal yang berada di dalam kamar.


"Bagaimana keadaan mu? sudah lebih baik bukan?


"Seperti yang paman Lihat! kepala ku penuh dengan perban!"


"Kau tidak usah khawatir, Nathan akan membayar perbuatannya karena telah melukai kepala mu?!" ujar Samuel seraya menutup buku yang sedang ia baca.


"Apa maksud paman? bukankah tadi Paman membelanya dan membiarkan si brengsek itu pergi dengan membawa obat penawar!"


"Paman sengaja membelanya agar Nathan percaya pada paman! kita akan ambil keuntungan darinya!"


"Maksud paman?!"


"Kita akan gunakan kesempatan baik ini di saat Nathan sedang berada di London."


"Lalu apa yang akan Paman lakukan?!"


"Kemarilah mendekat!"


Matthew mendekat kearah Samuel, lalu pria paruh baya itu berbisik.


"Bagaimana menurut mu, rencana ku bagus bukan?!"


"Hahahaha.... sangat luar biasa. Aku sangat mendukung dan setuju dengan rencana Paman. Sekali tepuk tiga nyawa melayang." Matthew terbahak di iringi gelak tawa Samuel.


💜💜💜


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76

__ADS_1


@Bersambung....


__ADS_2