
Suara gemuruh hujan masih terdengar di luar jendela rumah sakit. Vana berdiri dalam diam dengan kedua tangan melipat ke dada. Angin berhembus menerobos masuk lewat jendela yang terbuka, tiba-tiba Vana di kejutkan oleh suara petir yang menggelegar di barengi kilatan cahaya putih yang menyambar.
"TARRR!
"TARRR!
"Ya Tuhan, gluduk nya serem banget!" dengan cepat Vana menutup jendelanya rapat.
"Mau pulang ke mansion hujan sangat deras. apa aku tidur di paviliun." gumamnya bicara sendiri.
"Tring!
"Tring!
"Tring!
Dering telepon membuyarkan lamunan Vana. ia berjalan kearah meja dan menerima panggilan telpon.
"Mommy?! Vana menekan tombol hijau
"Iya Mom!
"Sayang, mommy dan Daddy harus berangkat ke Jerman malam ini juga, Grandpa masuk rumah sakit."
"Opa masuk rumah sakit lagi?! sakit apa Opa?"
"Jantungnya kolep lagi, tadi sore pingsan dan belum sadarkan diri sampai sekarang. Grandma ketakutan, menyuruh Daddy dan Mommy pulang hari ini juga."
"Okey mom! Vana pulang sekarang."
Setelah sambungan terputus Vana mulai membereskan pekerjaan dan merapikan file kedalam map. ia berjalan keluar ruangan pribadinya menyusuri lorong rumah sakit yang panjang.
"Malam Dok! sapa dua orang perawat yang berjalan berpapasan dengan Vana.
"Tunggu!
Vana menghentikan dua pria yang sedang mendorong seseorang diatas ranjang sorong, Mereka menghentikan langkahnya.
"Iya Dok!
"Siapa dia?" tanya Vana menunjuk kearah Pria yang tertutup kain putih.
"Kami juga tidak tahu, orang ini tergeletak di depan teras sejak sore tadi. kami akan bawa untuk observasi Dok!"
"Ya sudah, cepat kau urus orang ini jangan sampai kenapa-napa."
"Baik Dok!
Vana meneruskan langkahnya menuju parkiran. Setelah masuk kedalam mobil, ia melaju dengan cepat. Hujan mulai mereda, jalanan tidak begitu macet. Mobil Vana berhenti tepat di lampu merah pertigaan. Saat ia sedang membuka ponsel untuk membalas pesan masuk dari sang Mommy, tiba-tiba ia di kejutkan suara ketukan di luar jendela.
Tuk, tuk, tuk,..
Seorang wanita paruh baya dengan penampilan acak-acakan terus mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Vana. Vana yang penasaran menurunkan kaca mobilnya separuh, lalu menoleh pada wanita berpenampilan lusuh dan bau. Wanita itu mengulurkan tangannya meminta sesuatu pada Vana. Vana yang terlihat iba mengambil dompet dan memberikan tiga lembaran uang 100 ribuan pada wanita paruh baya itu.
Setelah menerima uang pemberian Vana, wanita itu menatap lekat wajah Vana dan berkata. "Berhati-hatilah Nak! aura mu di liputi kabut hitam, hidupmu akan banyak masalah dan kau harus siap menghadapinya. Akan datang seseorang yang tulus dan benar-benar mencintai mu, dialah sang penyelamat, yang akan menyelamatkan hidupmu dari ganasnya kegelapan alam semesta." muehehehe... wanita itu tergelak lalu melangkah pergi meninggalkan mobil Vana.
"Aneh! apa maksud perkataan wanita tua itu? wajah itu, seperti tidak asing lagi dan Aku pernah melihatnya di mana?" gumamnya pelan, seraya mengingat wajah wanita tadi.
__ADS_1
"TIIIIIIIINNNNNN!
Vana membuyarkan lamunannya, saat suara klakson mobil terdengar nyaring di belakang sedannya. Melihat lampu sudah berubah hijau, Vana melajukan dengan kecepatan tinggi.
Kurang dari satu jam, mobil sudah berhenti di depan mansion. Dua orang sekuriti membukakan gerbang tinggi itu, Vana mengucapkan terima kasih seraya masuk kedalam halaman mansion.
Setelah turun dari sedan, gegas Vana berlari masuk kedalam mansion.
"Mom! Dad! panggil Vana
"Sayang kau sudah pulang." Delena merangkul anak gadisnya "Mommy harus segera pergi sekarang."
"Iya Mom! apa kak Vano sudah tahu?"
"Sudah, ia sedang arah pulang."
"Mana Daddy?!"
"Masih di kamar Zidan, adikmu merengek minta ikut, Daddy sedang menenangkan nya."
"Apa Zidane tidak ikut serta, mom?
"Zidane sedang ujian kenaikan kelas, mommy juga tidak bisa pastikan berapa lama di Jerman."
"Ya sudah, ada Vana dan bi ijah juga lainnya yang menemani Zidan."
"Selama mommy dan Daddy tidak ada, jangan terlalu sibuk di rumah sakit, kasihan Zidane butuh perhatian ketiga kakaknya."
"Iya Mom!"
"Dengarkan Daddy, Gradpa sakit dan harus di temani, kalau seandainya nanti Daddy sakit, siapa yang akan menemani Daddy?
"Kak Vano, Kak Vana, kak Vira."
"Jadi, Zidan nggak mau nemenin Daddy? berarti Zidane nggak sayang Daddy donk."
Zidane terdiam dengan wajah tertunduk dalam "Zidan sayang Daddy."
Reno mengangkat tubuh gembul Zidan dan menciumi nya "Daddy juga sayang banget sama Zidane."
"Sekarang kita temui Mommy, Kak Vana sudah pulang, suaranya terdengar sampai kesini."
Zidane mengangguk, Reno keluar dari kamar bersama Zidan.
"Daddy! sapa Vana berjalan mendekat. Reno merentangkan tangannya dan mereka saling berpelukan.
"Anak Daddy sudah semakin besar dan cantik." puji Reno menciumi kening Vana.
"Daddy dan Mommy akan berangkat sekarang, jaga adik-adik mu."
"Siap Dad!
"Ayo mas, waktu kita tak banyak lagi. kita harus secepatnya ke Jerman."
"Vano belum pulang."
"Tadi sudah Mommy telpon, katanya sedang dalam perjalanan, tadi dia berada di luar kota makanya lama sampainya."
__ADS_1
"Nanti Vana yang kabari kak Vano. Mommy dan Daddy secepatnya berangkat, perjalanan ke Jerman lumayan jauh."
"Untung nya kita punya pesawat pribadi, saat urgent tidak terlalu bingung cari pesawat."
"Ya sudah kami berangkat dulu ya."
Delena dan Reno menciumi ke-dua anaknya bergantian "Kalian berdua jaga diri kalian baik-baik. penjagaan di mansion sangat ketat dan sudah Daddy pasang alarm dan cctv lengkap dengan alat-alat canggih lainnya, bila ada yang mencurigakan akan terekam di camera yang di rancang khusus."
"Terimakasih Dad, aku yakin Daddy tidak akan meninggalkan kami dalam keadaan khawatir."
Setelah berpamitan dan melepas rindu, Delena dan Reno masuk kedalam mobil meninggalkan mansion.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Vana sudah selesai bersih-bersih dan memakai kimono. Suara ketukan di depan pintu mengalihkan pandangannya, Vana baru saja selesai memakai skincare di wajah nya.
Ceklek!
"Kak! buatkan Zii susu. Zii nggak bisa tidur kalau belum minum susu."
"Hmm.. ya sudah kau tunggu dulu dikamar. Nanti kakak antarkan."
"Oke Kak!"
Vana berjalan kearah dapur yang jaraknya lumayan dari kamarnya, sebab mansion yang sangat luas dan besar.
Vana menuangkan susu putih kedalam gelas, lalu di kucurkan air panas dan mengaduknya hingga larut. Selesai di aduk Vana berjalan kearah kamar Zidan yang tak jauh dari kamarnya.
"Zii....."
Tok! Tok! Tok!
"Zii..."
JGLEK!
"Zii..."
Vana masuk kedalam kamar, namun tidak melihat sosok adiknya disana.
"Zii! jangan bercanda, kau berada di mana sekarang! ini sudah kakak buatkan susu."
Vana tampak gusar, ia mencari kedalam kamar mandi, namun tidak menemukan sosok sang adik. "Apa jangan-jangan dia berada di kamar ku! gegas Vana berjalan kearah kamar pribadinya dan mencari sekeliling kamar "Tidak ada juga!" decak Vana kesal.
Vana keluar dari kamar dan mencari kedalam kamar Savira, tetap tidak di temuin batang hidung sang adik.
"ZIDAN!!!!! teriak Vana mulai gusar. Ia berlari kearah tangga dan menaiki anak tangga dengan cepat, Semua kamar dan ruangan Vana jelajahi.
"ZIDANE....!!!!!
💜💜💜
@Readers, kisah "Tuan Jendral Cintai Aku" pindah ke F*zz* ya, disana update setiap hari dan akan di teruskan kisahnya di sana "F" sampai tamat. judul barunya "Pria yang merenggut kesucian ku." bagi yang penasaran dengan kisah Marlen dan Arsen bisa di cari judulnya.
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
@Bersambung....
__ADS_1