Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Ketakutan Savira


__ADS_3

"Ya sudah saya mau mencarinya di sekitar taman. kau tetap lah disini."


Yanto mengangguk, lalu Dev berjalan keluar melalui pintu belakang dengan mengendap, ia hanya mengandalkan pistol dan kemampuan bela diri yang di ajarkan Vano. Walau tidak sehebat Vano, namun Dev memiliki ilmu bela diri yang lumayan.


"DORR!


Tiba-tiba terdengar suara tembakan dan seseorang jatuh tersungkur di depan Dev.


BRUKK!!


"Asisten Dev! seru seorang pria, setelah berhasil menembak musuh yang sudah mengintai Dev.


"Terima kasih kau telah menyelamatkan ku. kau datang tepat waktu." Dev menghembuskan nafas lega.


"Sesuai dengan perintah Asisten Dev, kami sudah datang! dan kami adalah pengikut setia Tuan Reno."


"Bagus! kau berjaga lah di depan mansion, jangan sampai mereka masuk kedalam!"


"Baik Tuan!"


Pria itu pergi dengan gerakan cepat. Dev terus berjalan mencari keberadaan Savira.


[Dua jam sebelumnya]


"Tok!


"Tok!


"Siapa...?!


"Tok!


"Tok!


"Kak Dev jangan bercanda!" seru Savira. namun tidak ada Jawaban.


Saat Savira ingin memutar kunci handle pintu, ia urungkan "Tunggu! kalau kak Dev yang mengetuk pintu sudah pasti ia memanggil nama ku, kenapa sejak tadi ia tidak memanggil ku? Savira mulai curiga


"Dor! Dor! Dor!


ketukan itu semakin kencang, Savira terkejut dan memundurkan langkahnya kebelakang. "Aku harus keluar dari kamar ini sebelum ia mendobrak pintu nya!"


"Aku harus keluar lewat mana? ia mulai mengedarkan pandangannya, sebuah ide mulai terlintas di pikirannya "Jendela! Savira berjalan kearah jendela dan mulai membuka lebar. ia semakin panik saat suara gedoran pintu itu semakin keras, seperti ada seseorang yang ingin mendobrak pintu. Dengan tergesa Savira keluar melalui jendela dan melompat, lalu ia berlari melewati arah samping. Savira terpekik saat mendengarkan suara tembakan di teras. tubuhnya gemetar bersamaan ia berjongkok seraya menutup telinganya karena suara tembakan semakin sering terdengar.


"Aku tidak boleh terus berada disini. Aku harus secepatnya pergi." Savira berdiri dan


terus berlari dengan ketakutan melewati pintu samping.


"Itu dia orang nya, ia berlari kesana! teriak seseorang di belakang nya.


"Aku harus bersembunyi di mana? mansion sudah tidak aman." gumam nya dalam hati sambil terus berlari kearah taman dan melewati kolom renang. "Kak Vano, kak Vana tidak ada di mansion, semua pergi begitu tiba-tiba setelah Daddy, mommy meninggalkan mansion.


"Lebih baik aku bersembunyi di dekat danau. Disana ada sebuah paviliun tempat peristirahatan." Savira terus melangkahkan kakinya menuju area danau. jalanan menuju danau sangat lah sepi, pepohonan rindang bergerak kesana-kemari di terpa angin yang berhembus kencang. Savira bergidik ngeri kala mendengar suara binatang malam yang saling bersahutan. ia membekap kedua tangannya di dada


"Angin nya sangat kencang, tubuhku terasa dingin." Savira membekap tubuhnya semakin kuat "Krekk! tiba-tiba Savira menginjak sesuatu di bawah kakinya, ia terkejut dan mundur.


"Itu dia wanita tadi, dia lari arah sana!" pekik seorang pria yang terus membuntuti Savira.


Savira menoleh dan berlari secepat mungkin, rasa dingin malam itu tidak ia hiraukan, ia terus berlari dan berlari dengan nafas tersengal.

__ADS_1


"DUG!


Tiba-tiba Savira tersandung sebuah batu dan ia terjatuh ketanah.


"Aawww! pekiknya, ia berusaha ingin bangkit. Namun kakinya terasa nyeri dan susah untuk diangkat. "Kenapa dengan kakiku?! Savira sangat gusar dan panik. "Ya Tuhan! kakiku sangat nyeri, sepertinya aku keseleo."


"Kau disini rupanya!" dua orang pria itu sudah berdiri di depan Savira. Savira menoleh dan membulatkan matanya.


"Apa mau kalian?! teriak Savira, sambil meringis kesakitan.


"Ikutlah bersama kami!"


"Tidak mau! pekik Savira seraya memundurkan bokong nya kebelakang, saat Savira mundur kebelakang, tangannya seperti memegang sesuatu. "Benda apa ini, seperti sebuah kayu." gumamnya pelan


"Aku tahu kau pasti sudah pincang kakinya, jangan menolak untuk ikut bersama kami!"


"Aku sudah bilang berulang kali, tidak mau! jangan kau ganggu aku, apa salahku pada kalian yang tiba-tiba ingin membawaku pergi dari mentions." Savira berurai airmata. ia sangat ketakutan dan menyayangkan seluruh Keluarga yang tidak ada di tempat.


"Mommy, Daddy! tolong Savira...! jeritnya dalam hati. "Kak Vana, kak Vano! kalian berada dimana!" Savira terus terisak dan mundurkan bokong nya kebelakang dengan perlahan, rasa sakit di pergelangan kakinya tidak ia hiraukan.


"Sepertinya wanita ini cantik juga! sebelum kita serahkan pada bos, kita gagahi dulu wanita ini!" ucapnya pada teman di sampingnya.


"Kau benar juga. kesempatan tak datang dua kali, mumpung tempat ini sepi kita perk*sa wanita ini."


"Tidak! jangan mendekat...! teriak Vana, tangannya menodongkan sebuah kayu ke depan.


"Aku menyesal kenapa dulu tidak pernah mau belajar ilmu bela diri. Aku terlalu yakin pada diriku sendiri akan banyak yang melindungi. Ternyata mommy Dena benar, kita harus bisa menjaga diri kita sendiri dengan belajar ilmu bela diri." sesalnya dalam hati.


Dua Pria itu mendekat. sekuat tenaga Savira berusaha bangkit, namun hanyalah sia-sia. pria itu menarik kayu itu dari tangan Savira dan tarik menarik pun terjadi, namun tenaga Savira kalah kuat dengan Pria itu.


"Kita mau melakukan nya dimana?!"


"Di sebelah sana!" pria itu menunjuk sebuah bangunan rumah kecil di dekat danau.


"Tidak, jangan! aku mohon..." teriak Savira, pria itu mengangkat tubuh Savira yang masih terduduk di tanah dan membawanya kesebuah bangunan kecil dekat danau.


"Tempat ini sangat bagus, lengkap dengan perabotannya. letakan wanita itu di sofa." perintah teman pria itu.


"Ku mohon jangan perk*sa aku, lepaskan! rintih Savira berderai air matanya.


"Mommy, Daddy! tolong Savira....!" jerit Savira sambil terus terisak.


Dua pria itu sudah sudah melepas seluruh pakaiannya, tertinggal boxser yang menutupi kejantanan nya. Savira yang sudah tak berdaya dan tidak memungkinkan dirinya untuk berlari, hanya bisa merutuki nasibnya.


"Ya Tuhan, apakah ini akhir dari segalanya! bila mereka berhasil merengut kesucian ku. Aku bersumpah akan tenggelamkan diriku kedalam danau, aku tidak akan pernah melihat dunia lagi! jeritnya dalam hati.


"Lebih baik kalian bunuh saja aku! daripada harus menodai kesucian ku! teriak Savira dan terus berontak saat dua pria itu memegangi tangan Savira.


"Mommy....!!!


"Daddy....!!!


"Kak Vano...!!!


Jerit Savira.


***


"PRANKK!

__ADS_1


"Sayang..." ada apa dengan mu? dengan cepat Reno merangkul Delena dalam pelukannya.


"Entahlah Mas, tiba-tiba dadaku berdebar dan terasanya sangat nyeri."


"Mungkin kau lelah, kita baru dua hari berada disini dan langsung merawat Papa di rumah sakit. kau butuh istirahat."


"Aawww! tiba-tiba Delena menjerit, tanpa sengaja ia menginjak pecahan gelas yang terjatuh dari tangan nya.


"Sayang.. kakimu berdarah!" Reno terkejut dan langsung menggendong Delena, lalu mendudukkan nya di sofa.


"Kau tunggu sebentar, aku panggilkan Dokter dulu."


Reno menekan tombol yang berada di dalam ruangan VIP. tak berapa lama datang dua orang suster dan dokter.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" ujar seorang Dokter.


"Kaki istriku terkena pecahan beling, darahnya banyak keluar." tukas Reno khawatir.


"Baik, akan Kami tangani."


"Suster, panggilkan OB untuk membersihkan lantai." perintah sang dokter


"Baik Dok!"


Dokter itu mulai mengobati kaki Delena yang terluka. Reno duduk di samping Delena dan merangkulnya, dengan penuh kasih sayang Reno mengusap lembut punggung sang istri, seakan benaknya berkata bahwa kau akan baik-baik saja selama aku berada di sisiku.


"Sudah selesai tuan!" ucap sang Dokter.


"Okay terima kasih."


Selesai mengobati luka Delena, dokter dan suster keluar dari ruangan VIP. Vano beranjak dari sofa dan mengambilkan minum untuk sang istri.


"Minumlah sayang." Reno memberikan gelas berisi air putih "Istirahatlah, biar papa aku yang jaga."


"Mas! Delena menahan tangan Reno yang ingin beranjak dari sofa.


"Ada apa honey.."


"Aku rindu sama anak-anak. setelah turun dari bandara perasaan ku tidak enak."


Reno menarik nafas dalam dan di hembuskan perlahan. "Aku juga merasakan hal yang sama."


Delena menautkan alisnya "Kenapa kau tidak bilang."


"Aku tidak ingin kau merasa khawatir."


"Kalau begitu cepat kau hubungi anak-anak, apa mereka baik-baik saja?"


Reno mengangguk dan mengambil ponsel dari saku jas nya. saat ingin menghubungi Vano sebuah pintu terbuka lebar.


"Tuan Reno! tuan Ramon mengalami kejang-kejang." seru seorang Dokter yang sudah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi gusar.


"Papah!


"Sayang, aku harus kerungan isolasi. kau disini saja dulu, kakimu baru di perban."


"Iya mas, aku tunggu disini. Semoga Papa tidak apa-apa." ucap Delena dengan mata berkaca-kaca.


Reno mencium kening sang istri, gegas beranjak pergi dengan perasaan was-was.

__ADS_1


💜💜💜


💜 Bersambung......


__ADS_2