Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Keputusan Tegas


__ADS_3

"Kak Vano...?!


Ceklek!


"Dimana kak Vano? kenapa ruangannya kosong? gadis cantik nan lembut itu, masuk kedalam ruangan dan duduk di sofa. Lama menunggu kakaknya akhirnya ia tertidur.


Suara langkah sepatu meninggalkan ruangan meeting, setelah selesai pertemuan dengan Bu Amalia, pemilik perusahaan kelapa sawit.


"Dev! kita langsung saja ke lokasi setelah makan siang."


"Bukankah kita akan ada pertemuan dengan para investor selesai makan siang?" ujar Devan mengingatkan.


"Di tunda saja sampai besok!" ucapnya enteng di sela langkahnya menuju ruangan presdir.


"Ck! kau selalu saja ambil keputusan dadakan. Investor itu tidak main-main ingin bekerja sama dengan perusahaan "Zeva company" anak perusahaan dari Mahesa group.


"Aku hanya ingin melihat lahan untuk pabrik minyak. Bu Amalia sangat competitive, aku suka cara kerjanya."


"Tapi jangan abaikan investor, mereka sudah sejak lama menunggu bekerjasama dengan 'Zeva company! Devan menatap kesal pada sahabatnya yang tiba-tiba minta mundur pertemuan.


Hufft! Vano meniup kuat "Baiklah, antarkan makan siang ku kedalam.


"Sarah! apa ada yang mencariku? tanya Devan.


"Tidak ada Pak Dev!


"Kalau ada cliant datang kemari, secepatnya kabari aku!"


"Baik Pak!


"Sarah buatkan saya kopi, jangan terlalu manis!"


"Siap Pak Bos! mata Sarah beralih pada Devan "Pak Dev juga ingin kopi? sekalian saya buatkan."


"Boleh, tapi gulanya satu sendok teh saja. Selera saya sama dengan pak Zeva, jadi samakan saja."


Sarah mengangguk sebagai respon dan berjalan pergi ke pantry.


JGLEK!


"Shafira?! Vano terkejut dan berjalan mendekat, ia melihat Savira tertidur dengan pulas. Tidak ingin membangunkan, Vano masuk kedalam ruangan pribadinya dan membawa selimut untuk menutupi tubuh adiknya.


"Sepertinya Vira lelah." Vano mengusap lembut pucuk kepalanya. Lalu duduk kembali di kursi kebesarannya dan berkutat didepan laptop. Pekerjaan Vano begitu menyita banyak waktu, setelah ia membangun perusahaan baru setahun lalu.


"Ceklek!


Sarah masuk dan menaruh kopi hitam diatas meja kerja Vano. "Ada lagi yang di butuhkan Pak?!


"Untuk makan siang berikan menu tambahan. Adikku akan makan bersama ku juga Dev!


"Baik Pak!


Vano menyeruput kopi hitam perlahan, aroma wangi kopi membuatnya semngat untuk bekerja dan kembali fokus.


"Kak! panggil Savira yang sudah terbagun.


"Kau sudah bangun, Dek?"


"Maaf Kak, aku ketiduran di ruangan kakak. Tadinya nungguin kakak kelamaan."


"Tidak ada yang melarang kamu tidur di ruangan kakak. Kalau lelah bisa istirahat di kamar kakak."


"Aku sudah nggak ngantuk lagi kok? lagian kesini hanya sebentar, mau minta tolong bantuin cari bahan untuk buat skripsi."


"Pasti akan kakak bantu."


"Pak! makan siang sudah siap." ucap Sarah setelah membuks pintu.


"Bawa masuk kedalam!"


Sarah dan dua orang lainnya membawa pesanan Presdir Vano untuk makan siang. lalu menaruhnya diatas meja.


"Silakan Mbak.."


"Sekertaris Kak Vano berpenampilan seksi dengan pakaian super ketat, apa kak Vano tidak tergoda?" batinnya lirih.

__ADS_1


"Mbak! panggil Sarah.


"Ehh-iya kak terima kasih!" ucap Savira dan di anggukan oleh Sarah, lalu ia keluar ruangan.


"Dev! keruangan ku, kita makan siang dulu." usai berbicara, Vano menjedah pekerjaan, lalu duduk di samping Savira.


"Ayo kita makan dulu."


"Kakak sudah siapkan ini semua?"


"Iya! kebetulan kau datang, jadi Kakak pesan banyak sekalian."


Ceklek!


"Savira..? kapan datang?" tanya Devan yang baru tahu kedatangan Savira. Dev ikut mengambil hidangan diatas meja.


"Lumayan udah tiga jam, kayanya kak!


Usai makan siang, mereka berbincang-bincang.


Saat sedang mengobrol, dering ponsel milik Savira terdengar nyaring, Namun Savira mengabaikan. "Dek! ada telpon, kenapa tidak diangkat?"


Savira memutar bola matanya malas "Biarkan saja kak!


"Siapa dia..?!


"Biasa teman kampus!"


"Angkatlah, siapa tahu penting."


Savira melirik nama seseorang di layar ponsel. "Bisma? mau apa dia telpon aku, sih? gumamnya dalam hati.


"Iya hallo..."


"Vir! loe kenapa gak ada di kampus?


"Sorry aku pulang duluan Bis!


"Kenapa nggak nunggu gue sih! pasti gue anterin pulang."


klik! Savira mematikan sepihak.


"Kak! Vira pulang dulu ya, banyak tugas yang harus aku kerjakan, apalagi mau menyusun skripsi."


"Nanti di rumah kakak bantu selesai pulang dari kantor. Kau diantar supir kantor saja."


"Nggak usah kak, aku naik taksi saja."


"Kakak sudah hubungi pak Iwan, dia tunggu di lobby."


"Ya sudah kalau begitu Vira pulang dulu."


"Hati-hati dijalan ya Dek!


Savira mengangguk dan tersenyum, lalu keluar dari ruangan.


"Khem! Van, sorry aku keluar sebentar!"


"Hey mau kemana?! seru Vano saat melihat Devan terburu-buru.


"Mencari calon masa depan!" ucapnya sambil menutup pintu.


"Calon masa depan?! apa maksud si Dev? Vano mengeryitkan dahinya seraya gelengkan kepala.


"Vira tunggu!


Vira yang ingin masuk kedalam lift menoleh kebelakang, ia melihat Devan mengejarnya.


"Ada apa kak!


"Hmm.." seketika Devan terlihat canggung didepan Savira. ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kalau tidak keberatan, apa boleh malam minggu temenin Kak Dev ke acara party Cliant, kebetulan kak Dev mewakili Perusahaan kak Vano."


"Lihat nanti ya kak, soalnya Vira masih mencari bahan untuk penyelesaian skripsi."


"Oke kakak tunggu jawaban darimu ya."

__ADS_1


"Iya kak! aku pulang dulu ya." Savira masuk kedalam lift yang terbuka. Dev melambaikan tangan hingga Pintu tertutup sempurna.


"Huh! Dev menghela nafas lega "Semoga Vira mau menemani ku!"


***


Tap.. tap..tap...


Ceklek!


Suara langkah sepatu pantofel memasuki sebuah kamar. Ia berjalan mendekati seorang gadis yang tertidur pulas diatas meja dengan kedua tangan sebagai bantalnya.


"Kau pasti sangat lelah mengerjakan banyak tugas di semester terakhirmu. Ma'afkan kakak pulang selalu larut malam." kedua tangan kekar itu mengangkat tubuh Savira keatas ranjang.


"Selamat tidur princess." tangan Vano mengusap kepalanya penuh kasih sayang. lalu ia keluar dari kamar.


"Kak Vano!" seseorang menarik tangannya.


"Vana..? kau sudah pulang kerumah."


"Aku ingin bicara kak! Ayo kak kita ke taman sebentar."


"Kenapa meski di taman? ini sudah malam Dek!"


"Nggak apa-apa sebentar saja."


Vano tidak menolak lagi dan mengikuti langkah adiknya menuju taman, mereka duduk di gazebo.


"Ada apa Dek!


"Kak! umur kita kini sudah 25 tahun, sudah waktunya kakak menentukan jalan hidup dan pilihan masa depan kak Vano! tukas Vana seraya melipat kedua tangannya.


"Apa maksudmu berkata seperti itu? kakak belum berpikir untuk menikah muda."


"Tidak apa-apa kakak belum berpikir untuk menikah muda, tapi kakak harus yakin dengan pilihan hati kak Vano! Savira atau Bella?" tegas Vana mengintimidasi.


"Dek! kakak__


"Pilih kak! tidak mungkin keduanya akan hidup dalam satu atap bukan? sarkas Vana.


Vano gelengkan kepala "Jangan berpikir terlalu jauh Dek tentang perasaan kakak."


"Lalu..? apa kakak mau membuat dua wanita itu terluka? akibat dari perbuatan kakak, bisa saja karma datang padaku!"


"Tenangkan hatimu dulu Dek! Vano merangkul pundak saudara kembarnya yang terlihat kesal. "Kenapa sekarang kamu banyak berubah, lebih sensitif dan emosional."


"Tolong kak! jangan lukai dua wanita. Savira adik angkat kita dan Bella sahabat ku, mereka dua orang penting dalam hidupku!


Vano menghempaskan nafas panjang "Kakak juga tidak pernah tahu dengan perasaan kakak sendiri. Apa menyukai Savira hanya sebagai adik angkat atau seorang wanita? begitupun dengan Bella, awalnya hanya menganggap seorang teman, Namun ia begitu tulus dan mencintai kakak sejak SMP dulu."


"Jadi..? siapa yang kakak pilih?!"


Vano menatap wajah cantik adiknya "kakak mencintai Bella karena ketulusannya. Ternyata cinta kak Vano pada Savira hanya sebatas adik yang harus di lindungi, sama sepertimu dan juga Zidane."


"Apa kak Vano sudah yakin, dengan perasaan kakak!


Vano mengangguk "Sudah!


"Kalau begitu, bersikaplah sewajarnya. Kak Vano harus menjaga sikap didepan Savira, agar Savira tidak salah paham dan salah mengartikan sikap kak Vano yang berlebihan. Ku perhatikan Savira seperti menyukai kakak."


"Glek! Vano menelan salivanya, namun ia sudah membuat keputusan.


"Baiklah, agar tidak terjadi kesalahpahaman, kakak akan menjaga sikap pada Savira dan berbicara seperlunya."


"Vana sangat sayang pada Savira, ia sudah seperti adikku sendiri, aku nggak rela kalau ia akan terluka nantinya! mulai sekarang kakak harus terbiasa menjaga sikap pada Savira."


Vano tersenyum seraya merangkul adiknya "Lalu bagaimana dengan perjalanan cintamu Dek?"


💜💜💜


@Pro dan kontra pasti ada. Banyak yang Banding-bandingkan kisah perjalanan Cinta Vana dan Vano. Pasti berbeda donk kisahnya. Perjalanan hidup seseorang tidak ada yang sama. Bagi kalian yang skip kisah Vano, Bella dan Savira akan rugi loh!😂 Karena ini baru permulaan, perjalanan cinta mereka akan segera di mulai dan pasti menguras emosi dan airmata. Tunggu ajah kisah plot twist nya, di jamin baperrrrr.....😅😅


@Kenapa sudah 3 tahun ajah? iya donk, biar ceritanya makin seru dan nggak monoton. Kisah Vano, Vana, Nathan, Bella, Dev, Savira dll.. akan gantian ceritanya All.. kan sudah di jelaskan dari awal, jadi ikuti saja terus kisahnya.


@Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2