
"Aku harus menolong Nathan! ia tidak bersalah. wajar saja bila Nathan Ingin membalas dendam kematian ayahnya pada Reno Mahesa, karena ia seorang Monster yang bisa menghabisi siapa saja!" rutuk David dan berlari keluar lorong, ia mengambil ponsel dari saku celananya dan menyalakan tombolnya, David bersyukur ponselnya masih ada daya 7%. Dengan cepat ia kirimkan lokasi kepada anak buahnya dan mengirimkan pesan.
Sementara di teras depan aksi tembakan terus menggema. Nathan yang sudah terluka tangannya karena terkena timah panas, masih bisa berlindung di balik dinding dengan merapatkan tubuhnya ke tembok.
"Apakah aku harus menyerah saja? Nathan masih terus berfikir "Tidak! menyerahkan diri sama saja membuat Tuan Reno merasa menang diatas angin, sudah pasti aku akan mati sia-sia. Seandainya tuan Reno tahu, sampai detik ini rasa cinta ku pada Anak gadisnya tidak berkurang sedikitpun. Alea.. andaikan kau tahu perasaan ku, Nyawaku pun rela kuberikan untukmu."
"DOOR...!!
"DOOR...!!
"Menyerahlah Nathan! teriak Bagas.
"Andai saja dengan bertarung tanpa mengunakan senjata api, aku bisa menghabisi mereka sekaligus. Dasar Genk mafia licik! beraninya mengunakan senjata api untuk melumpuhkan lawan!" rutuk Nathan geram "Aku bisa saja membantai mereka asalkan peluru ku banyak dan menggunakan laras panjang lebih bagus, tapi sayang semua itu tidak ada di tangan ku!"
Nathan masih terus memutar otaknya untuk menyusun rencana.
"Aku harus masuk kedalam mobil dan melarikan diri, akan aku tabrakan mobil yang menghalangi didepannya. Aku tidak punya pilihan lain, peluru ku tinggal satu!"
Saat orang-orang Reno bergerak cepat untuk mendekati tempat persembunyian Nathan, ia berlari secepat mungkin sambil menembakkan senjata lebih dulu sebelum keduluan anak buah Reno.
"DOOR!!
Peluru melesat tepat sasaran mengenai kening pria itu. "Brukk! Pria itu ambruk dan terjatuh di tanah dengan bersimbah darah. Nathan terus berlari tanpa menoleh kebelakang.
"DOOR...!!
"DOOR...!!
"Aakkkhhhh....!!
Dua peluru tembus di belakang punggung Nathan. Seketika tubuhnya lambung dan ambruk ketanah. Darah segar mengucur deras dari tubuh pria tampan bermata biru itu.
"Mampus kau! akhirnya peluruku tembus ke dagingmu itu! Bagas tertawa senang setelah melihat Nathan tak berdaya. Ia merasa bangga telah membenamkan timah panas ke- tubuh Nathan. Tangannya mengeluarkan ponsel dalam saku celana, dan melakukan Vidio call dengan Tuan nya. Dalam tiga kali panggilan telpon pun terjawab
"Hallo Bos besar!" terpampang wajah seorang pria tampan berkharisma walau usianya sudah tak muda lagi, Namun masih terlihat gagah dan berwibawa.
"Bagaimana? sudah kau lumpuhkan Pria itu!
Bagas tertawa dan mengarahkan ponselnya ke-tubuh Nathan yang bersimbah darah "Pria ini sudah meregang nyawa, bos!"
"Perlihatkan wajahnya, yakin kau tidak salah sasaran!"
"Tentu saja tidak, Bos!" Bagas tersenyum smirk.
"Boy! balikan tubuh pria ini! perintah Bagas pada anak buahnya. Dengan gerakan cepat Boy membalikkan tubuh Nathan yang terlihat pucat dengan mata tertutup.
"Lihatlah wajahnya, aku tidak salah bukan?"
Reno menatap lekat wajah Nathan dengan tubuh berlumuran darah. "Good job!"
__ADS_1
"Kita apakan mayatnya Bos!"
"Kuburkan dengan layak! tutup identitasnya jangan sampai bocor keluar!"
"Baik Bos!"
Tanpa Reno sadari seseorang sudah berdiri di belakangnya sambil mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Bos kita harus kuburkan dimana? bila didekat villa ini, apakah tidak akan ada orang yang curiga? walau Villa ini jauh dari penduduk dan dekat dengan hutan.
"Biarkan Nathan di kuburkan dekat villa, Kalau kalian melakukan di tempat pemakaman malah akan mengandung curiga banyak orang, karena malam-malam menguburkan mayat!"
"Siap Bos!
Panggilan Vidio call terputus. Seorang wanita yang masih berdiri di belakang Reno membekap mulutnya tak percaya, bola mata coklatnya mulai berair, tetesan airmatanya membanjiri wajah cantik berkulit putih itu.
Reno membalikkan tubuhnya, ia sangat terkejut dengan mata terbelalak, saat melihat anak gadisnya berdiri di belakangnya..
"Zee...? Kau... sejak kapan ada disini?! tanya Reno, suaranya tercekat.
"Apa yang sudah Daddy lakukan pada pria bernama, Nathan! ternyata dugaan ku benar kalau Nathan sedang berada di Bali."
Reno berjalan mendekat dan merangkul tubuh anak gadisnya "Sayang dengarkan Daddy..., biarkan Daddy menjelaskan semuanya."
Vana menghempaskan tangan Reno dan mundur kebelakang dengan nafas tersengal. "Katakan Dad! apa benar yang Vana dengar tadi? kalau Daddy menyuruh orang untuk membunuh Nathan!"
"Kenapa diam Dad! teriak Vana "Katakan kejujurannya kalau Zee tidak salah dengar!"
"Zee.. kau harus percaya, apa yang Daddy lakukan semua demi mu dan keluarga kita!
"Apakah dengan cara membunuh Nathan, Daddy puas melakukan itu semua! ingat Dad! Nathan sudah banyak menyelamatkan nyawa Zeva! Andaikan Nathan tidak menjinakkan BOM di Mall, kita berdua sudah hancur bersama! Emosi Vana sudah tak terkendali dan berbicara meletup-letup. "Bukan hanya itu saja, saat Zee di hadang pria berpakaian serba hitam, ada seseorang yang datang menolong sebelum kedatangan kak vano, Zee yakin itu pasti Nathan yang menolong! Tiga hari yang lalu, saat Zee terhempas kedalam lautan, sudah pasti Nathan jugalah yang datang menolong! Apakah ini balasan yang harus ia terima!" airmata Vana tidak berhenti menetes, isakannya semakin dalam, dadanya terasa sesak dan hampir tidak bisa bernafas.
Reno menarik nafas dalam-dalam "Dengarkan Daddy dulu, apa kau lupa siapa Nathan? anak dari seorang penjahat bernama Thomas! Pria yang ingin menghancurkan keluarga kita, ingin membunuh Daddy kalau saja Mommy mu tidak datang disaat yang tepat, bahkan ia hampir melecehkan Mommy mu, apa Daddy akan diam saja?!
"Tapi bukan berarti Nathan juga seorang penjahat, Dad! seru Vana sambil terus terisak.
"Apa ingatanmu sudah lupa, Zee! bagaimana Nathan datang ke mansion dan masuk ke kamar kami untuk menghabisi nyawa Mommy mu?! dia masih dendam dengan kelurga kita dengan berpura-pura mendekatimu dan membuatmu jatuh cinta, biar ia mudah menghabisi musuhnya!" suara Reno mulai meninggi.
Vana gelengkan kepala "Zee tahu siapa Nathan, Dad! ia hanya terpengaruh. Bila ia ingin menghabisi kelurga kita, buat apa dia terus menolong Zee dimanapun Zee berada!
"Mata hatimu sudah buta dengan rasa cintamu pada Nathan yang belum hilang!"
"Daddy benar-benar egois! tidak bisa memahami perasaan Zee! sekejam ini kah perlakuan Daddy, harus membunuh orang yang sudah menolong aku!" Vana meremas dadanya karena masih saja sesak.
"Zee..!" Reno terus mendekat ingin memeluk anak gadisnya yang sedang terluka. Vana terus menolak dan mendorong tubuh kekar Reno. Seakan ribuan anak panah menusuk jantung Vana, ia menatap benci pada Pria yang sudah membesarkannya penuh kasih sayang.
"AKU BENCI DADDY!!!
Vana berteriak dengan lantang dan berlari masuk kedalam rumah Robert. Davina dan Robert yang melihat perdebatan Ayah dan anak itu hanya melihat tanpa ingin ikut terlibat.
__ADS_1
"ZEE TUNGGU!!
Saat Reno ingin mengejarnya, tangan Robert menariknya "Biarkan Vana menyendiri dulu, ia butuh ketenangan." Reno menghela nafas kasar dan menendang angin didepannya.
"Mas! tolong tenangkan Vana, urusan Reno biar aku saja yang bicara." ucap Davin pelan.
"Ya sudah, kau tenangkan pria keras kepala itu, sifat Arogannya mulai kembali lagi."
Davina mengangguk faham.
Reno berdiri masih membelakangi Davina. Ia mulai mengatur nafasnya yang terdengar kasar. perasaannya masih kalut melihat anaknya yang kecewa dan benci padanya. Davina berjalan mendekati Reno dengan kedua tangan dilipat.
"Apa kau puas telah membunuh anak keturunan Thomas!" menatap tajam kearah Reno yang berdiri di sampingnya.
"Apa maksud mu bicara seperti itu!" Reno menoleh kearah Davina.
"Apa kau tidak paham juga, sekarang Zevana sudah mencintai anak dari musuhmu sendri! sampai kapan dendam kalian akan berakhir!"
"Bukan aku yang mendahului, tapi mereka yang terus mengusik keluarga ku! apa aku akan biarkan saja saat istriku terancam nyawanya?! tukas Reno tegas.
"Haruskah dengan cara membunuh dan menghabisi nyawanya! tidak semua anak Thomas jahat seperti ayahnya!" teriak Davina penuh emosi, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis "Apakah kau ingin membunuh semua anak keturunan Thomas!"
"Kenapa kau jadi emosi begini, Davin! apa karena dulu kau pernah hidup bersama Thomas!"
"Jangan pernah membuka luka lamaku, Reno!" bentak Davina dengan tatapan kesal. "Aku hanya tidak ingin kau keterlaluan dengan membunuh pria yang tidak berdosa, apa kau tidak dengar cerita anakmu sendiri, kalau pria yang kau bunuh itu sudah banyak menolong Vana! jangan pernah menutup mata, Reno!
"Asalkan kau tahu Reno, aku juga memiliki anak gadis, darah daging dari Thomas. Apa kau juga akan membunuhnya?! tanya Davin hanya dalam hati.
"Aku tidak akan membunuh orang yang salah, tapi aku akan hancurkan siapapun yang akan mengusik kehidupan aku dan kelurgaku!" ancam Reno dengan ekspresi dingin.
"Baiklah, kita tidak bisa menghapus masalalu. Tapi perlu kau ingat! Sifat keegoisan dan arogan mu akan membunuh karakter dari darah dagingmu sendiri!
Ucapan Davina bagai belati yang menghunus jantung Reno hingga ke-hulu hatinya.
Setelah mengatakan itu, Davin melangkah pergi meninggalkan Reno sendiri dalam pikiran yang kalut.
"Apa aku sudah salah membunuh Nathan?! gumamnya pelan.
"Aaaggrrghh....!!! teriak Reno frustasi.
💜💜
@Sabar ya All... masih ada sambungan nya. Besok lebih mengharu-biru.
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
@Bersmbung
__ADS_1