Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Pencarian Zidane


__ADS_3

"Sepertinya ada orang dalam di mansion ini." kata Dev menimpali.


"Aku juga berpikir seperti itu. Ayo Dev kita lacak keadaan mansion."


"Oke Van!"


"Dan kalian semua! perketat penjagaan mansion, jangan ada seorang pun yang meninggalkan tempat ini! seru Vano tegas, pada semua penjaga dan bodyguard.


"Baik tuan muda!" seru mereka serempak.


"Vira, kau istirahat dulu."


"Baik kak!


"Dek, Ayo kita kerungan kerja Daddy."


Vana mengangguk seraya mengusap airmatanya.


"Dev! kau panggil penjaga cctv dan temui aku di ruangan kerja Daddy."


"Oke Van!


Vano, Vana dan Savira masuk kedalam mansion. Dev mendatangi yang menjaga cctv.


Diruangan kerja sang Daddy.


"Dek, kau tenang dulu ya. kakak mau mandi dulu sebentar."


Vana mengangguk dan duduk dengan lemas di sofa. Vana terus teringat pada sang adik, airmatanya kembali mengucur deras.


"Dek, ma'afkan kak Vana ya." hiks.. hiks.. "Kamu dimana Dek? kakak sayang padamu."


Ceklek!


"Kak..."


Vana mengusap airmatanya seraya menoleh kearah pintu "Vira..."


Savira berjalan kearah sofa "Kak, ini Vira buatkan teh hijau kesukaan kakak."


"Terima kasih ya Dek." Vana menerima gelas itu dan meyerumputnya perlahan. "Kenapa kau tidak istirahat, kau baru saja pulang."


Savira terlihat murung "Aku baru selesai mandi, tapi nggak bisa istirahat. Sedih teringat adikku hilang."


Vana merangkul pundak Savira "Ma'afkan kakak ya, kakak merasa bersalah dengan hilangnya Zidane."

__ADS_1


"Sabar ya kak, semoga Zidane baik-baik saja. Vira nggak punya saudara lagi selain kalian semua." Savira memeluk erat Vana dan menangis sesenggukan.


Dengan penuh kasih sayang Vana mengusap lembut kepala Savira "Kita ini kelurga, kaupun adikku juga. sama seperti Zidan."


"Ceklek!


"Dimana Vano? tanya Devan yang masuk kedalam ruangan bersama dua orang pria.


"Kakak di kamar, tadi bilangnya mau mandi dulu."


"Yang sedang di bicarakan sudah datang." kata Vana kemudian.


"Van! mereka berdua yang bertugas menjaga layar cctv mansion." Seru Dev saat Vano sudah duduk di kursi sang Daddy.


"Baiklah kita buka layar cctv yang ada di ruangan Daddy." Vano menoleh pada dua wanita yang duduk di Sofa dengan wajah sedih.


"Dek, jam berapa terakhir kali kau bertemu dengan Zidane?"


"Setelah aku menemukan Zii di ruangan ini dengan topeng Holloween, kami turun kebawah dan menyuruh Zidane menghabiskan susu yang aku buat. Selesai ia mencuci kaki dan gosok gigi aku pergi ke kamar. Aku ingat jam sudah menunjukkan setengah satu, lalu aku tertidur. Sayup-sayup aku dengar suara Zidan gedor-gedor pintu dan berteriak-teriak." Vana terisak "Ma'afkan aku kak, saat itu aku malas beranjak dari ranjang karena mengantuk, dan ku abaikan teriakan Zidane."


Vano menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan nya perlahan, ia mengeratkan kedua tangannya, seakan ada amarah yang terpendam.


"Van, Vir... lebih baik kalian ke taman atau cari aktivitas lain, yang tidak membuat kalian bersedih."


"Mana mungkin aku tidak bersedih, adikku sendiri hilang kak! sambar Vana.


"Kenapa tidak panggil saja kepolisian dan melacak keberadaan Zidan. Atau beritahu mommy dan Daddy!"


"Jangan gegabah Dek! mommy dan Daddy baru saja sampai Jerman, jangan sampai mereka berdua tambah bersedih dan bingung dengan kehilangan Zidane. Grandpa sedang kolep, kita harus bisa mengerti. kalau kita laporkan kepolisian, bukannya kakak tidak percaya, kita cari dulu dengan cara kita, bila tidak ketemu jejak Zidan, baru kita laporkan polisi."


Vana terdiam dengan wajah muram.


"Kak, ayo kita ke taman, siapa tahu kita bisa dapat selusi nya. Biarkan kak Vano dan kak Dev bekerja pecahkan masalah adik kita."


Vana akhirnya mengangguk dan berdiri, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan itu bersama Savira.


Setelah kepergian Savira dan Vana, Vano mulai membuka layar cctv dan memecahkan misteri dengan hilangnya Zidane.


Vana menatap tajam dua orang pria di depannya "Kalian berdua yang bertugas menjaga cctv?"


"Iya tuan muda!" jawab keduanya serempak.


"Siapa nama kalian? sudah berapa lama bekerja disini!"


"Saya Amir! baru tiga bulan bekerja disini, menggantikan pak Bejo karena sakit."

__ADS_1


"Saya Jojo, sudah dua tahun bekerja disini Tuan muda.'


"Pada sekitar jam setengah satu sampai hilangnya Zidan, kalian berada di mana? tanya Vano mengintimidasi.


"Kami berada di ruangan cctv samping pos sekuriti dan berjaga bergantian."


"Kalian menjaga cctv dari jam berapa?


"Kami terbagi dari dua shift, jam tujuh sampai jam lima sore, shift kedua sore sampai besok pagi."


"Kalau kalian berdua berada di ruangan cctv, kenapa kalian tidak lihat keberadaan adikku di kamarnya!"


"Kami selalu mengecek satu-persatu seluruh ruangan, bahkan seluruh kamar di dalam mansion setiap harinya tidak luput dari pantauan kami. Di jam setengah satu saya masih memantau keadaan mansion, bahkan tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan." timpal pak Amir.


"Dev, sudah kau lacak semuanya." tanya Vano yang sejak tadi menyerahkan tugas melacak cctv.


"Sepertinya ada yang tidak beres, lihatlah! Dev memperlihatkan layar monitor cctv pada Vano dan dua orang petugas. "Di jam lima sore sampai hilangnya Zidane dini hari, layar cctv di kamar Zidane masih menyala seakan tidak terjadi apa-apa, masih terlihat aktivitas Zidane di dalam kamar dan ia naik ketempat tidur setelah Vana menutup pintu. Sepertinya ada yang sengaja memutuskan layar cctv khusus di depan, samping mansion dan kamar Zidane."


"Brengsek! berarti orang dalam yang sudah merencanakan ini, di saat Daddy dan Mommy sudah pergi. Bukankah Daddy sudah membuat cctv khusus dengan tingkat kwalitas terbaik?" tanya Vano pada Dev dengan tatapan bingung.


"Orang ini bukan orang sembarangan, sepertinya dia bekerja sama dengan seseorang yang mengerti tentang internal mansion."


"Kenapa harus adikku yang jadi korban! seru Vano seraya melempar asbak di depannya.


"Kita lacak kamar Zidane, apa ada sesuatu disana! seru Vano berjalan cepat kearah pintu. "Dan kalian berdua, aku belum izinkan untuk pulang dan keluar dari mansion ini!


Dua Pria itu mengangguk.


"Dev! kumpulkan semua pekerjaan di halaman mansion, hentikan aktivitas mereka semua! aku akan suruh anak buahku ambil anjing pelacak Detasemen k-9 dari markas. Siapa dalang dari penculikan Adikku, tidak akan aku biarkan mereka hidup tenang bila terjadi apa-apa dengan adikku! seru Vano menarik pintu dan membantingnya kasar.


Dev beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Vano melalui lift.


Vano berjalan menuju kamar Zidane dan mencari jejak disana. Sementara Dev berjalan keluar mansion dan mengumpulkan semua pekerja termasuk bodyguard yang menjaga keamanan mansion. Setelah mereka berkumpul, Dev menemui Vano di kamar Zidane.


"Apa kau menemukan sesuatu? tanya Dev saat sudah berada di dalam kamar.


"Lihat lah, jendela ini sudah terbuka. Sepertinya orang itu lewat jendela ini."


"Mereka telah mengalihkan cctv di kamar ini, dan masih terlihat Zidane sedang tidur."


"Tunggu Van! seru Dev melihat sesuatu di dekat jendela "Ada sobekan bahan di pinggir jendela, sepertinya dia terburu-buru sampai tidak sadar pakaian nya tersangkut."


"Bagus! ini bisa buat bukti dan melacak penjahat itu!


💜💜💜

__ADS_1


@Sabar ya All... Bunda buat cerita ini bukan berbelit-belit, juga bukan banyak konflik. Dari judulnya saja "Kembalinya Macan Asia" sudah pasti ada konfliknya. Cerita novel kalau tidak di bubuhi konflik, ya tidak seru donk 😂. Maksih banyak pada reader yang masih setia dengan karya novel Bunda ini, ma'af bnget bunda masih suka telat Up 🙏🥰


@Bersambung.....


__ADS_2