
"Lalu apa yang akan Paman lakukan?!"
"Kemarilah mendekat!"
Matthew mendekat kearah Samuel, lalu pria paruh baya itu berbisik.
"Bagaimana menurut mu, rencana ku bagus bukan?!"
"Hahahaha.... sangat luar biasa. Aku sangat mendukung dan setuju dengan rencana Paman. Sekali tepuk tiga nyawa melayang." Matthew terbahak di iringi gelak tawa Samuel
"Apa yang sedang mereka bicarakan siih?! suara ketawa mereka sampai terdengar keluar." gumam Tiffany pelan "Apa aku masuk saja ya dan berpura-pura bertanya pada kak Matth!
Tangan Tiffany sudah memegang handle pintu "Tapi tunggu! apa mereka percaya kalau aku bertanya sesuatu? Tiffany menimang-nimang untuk masuk.
"Hahahaha... bagus Paman, sebelum Nathan kembali ke London ia sudah mati di tangan orang-orang kita. Lalu ibunya akan mati mengenaskan karena racun sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Suaminya akan mengalami depresi setelah semua perusahaan milik Nathan jatuh ketangan kita!"
"Hahahaha... kau benar Matth, ternyata Nathan tidak bisa diandalkan. Dia masih mencintai anak gadis Reno, untuk apa aku piara keponaka yang bodoh dan tak tahu di untung itu!!
"Ap-apa?! Tiffany terperanjat kaget seraya membekap mulutnya. Ia menjauhkan tangannya dari handel pintu dan berjalan mundur. "Ya Tuhan, apa aku tidak salah dengar? Paman dan Kak Matth akan membunuh kak Nathan?! sungguh tega mereka!" aku harus menyelamatkan Kak Nathan dan menghubunginya, ia harus tahu yang sebenarnya." gumam Tiffany pelan. Ia terus berjalan mundur dan memutar tubuhnya dengan terburu-buru.
"PRANKK!!!
"Ya Tuhan, aku menjatuhkan kristal."
"Siapa disana!" pekik Matthew seraya membuka kasar pintu kamar. "Hey apa ada orang disana?! teriaknya sambil melebarkan bola matanya ke-seliling ruangan.
"Ada apa..? apa yang jatuh!" tanya Samuel ikut melihat Cristal yang sudah jatuh berantakan.
"Kristal kuda terjatuh. Sepertinya ada orang yang mendengarkan pembicaraan kita!"
"Siapa orang yang sudah berani mendengar percakapan kita, bila ketemu kau habisi dia!" seru Samuel penuh emosi.
"Atau jangan-jangan..?!
"Siapa yang kau curigai..?! tanya Samuel, mengeryitkan keningnya.
"Biar aku yang urus! Matthew berjalan kearah kamar Tiffany dan membuka handle pintu.
"Tiffany!
Matthew berjalan masuk kedalam kamar sang adik ia melihat seluet adiknya dalam lampu yang meremang lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"Aaaaaaaaaa.....!!!!
"Kakak! kenapa berteriak....!"
"Itu wajahmu kenapa putih semua? pas-ti kau mau nakut-nakutin aku ya..."
"Hihihi.. hihihii...
"Plakk!
"Aaauuuu! sakit kak! pekik Tiffany mendapat pukulan dengan bantal.
"Apa yang kamu lakukan dengan wajah di putihin semua!" seru Matthew
"Ini masker bangkoang kakakku sayang.."
"Sangat menakutkan! udah kaya hantu tau!"
"Kok cowok takut hantu! Cibir Tiffany
"Bukan takut tapi kaget!"
"Sama saja tahu! huh...
__ADS_1
"Apa tadi kau berada di luar kamar?!
"Apa..?! Aku baru saja bangun karena di teriakin kakak, memangnya ada apa kak?!"
"Sejak kapan kau didalam kamar?!
"Ya sejak tadi lah, pertanyaan kakak sungguh aneh!" timpal Tiffany berusaha untuk tidak gugup.
"Sudah sana bersihin wajahmu terus tidur!" perintah Matthew lalu berjalan pergi meninggalkan kamar Tiffany.
"Hah! untung saja aku buru-buru maskeran, semoga kak Matth tidak curiga. Aku harus secepatnya hubungi kak Nathan."
Tiffany mulai mengunci pintu kamar dan menghubungi kontak Nathan. "Kenapa telponnya tidak aktif? apa kak Nathan sudah naik pesawat? tidak mungkin, ia baru pergi sejam yang lalu. Atau jangan-jangan orang-orang Paman sudah menghabisi nya di mobil sebelum sampai bandara?! begitu banyak pertanyaan dalam benak Tiffany.
"Ya Tuhan, bagaimana kalau semua itu benar terjadi? aku harus apa..?! Tiffany terus memikirkan dan cemas dengan keadaan Nathan. "Lebih baik aku mencari tahu sendiri dan pergi ke bandara."
Tiffany masuk kedalam kamar mandi dan membasuh wajahnya, lalu gegas mengganti pakaian. "Aku harus lewat pintu belakang biar Kak Matth nggak curiga."
Dengan perlahan Tiffany membuka handel pintu kamar, ia menyembulkan kepalanya dan melihat keadaan sepi, ia keluar kamar dan berjalan cepat menuju pintu belakang.
"Untung lah penjagaan nggak terlalu ketat, satpam malah tidur nyenyak. Aku harus cepat keluar dari kompleks ini dan menunggu taxi online di depan jalan."
***
"Malam Dokter Vana...?!
"Malam sus!"
"Ini teh hijau pesanan Bu Dokter."
"Terimakasih, taruh di meja ya."
"Ada lagi yang di perlukan Dok..?!
"Nggak itu saja."
"Sus tunggu!"
"Iya!
"Tolong kau antarkan data pasien ini pada Dokter Arvan, besok pagi harus sudah ada di meja kerja ku."
"Apa bu Dokter akan pulang sekarang?!
"Iya, malam ini saya tidak jadi lembur." Vana menoleh pada Arloji di tangannya "Satu jam lagi harus sampai rumah, sudah ada janji dengan adikku."
"Baiklah Dok!"
Vana melangkahkan kaki jenjangnya melewati koridor dan lorong panjang rumah sakit. Saat di parkiran seorang sekurity membukakan pintu mobil.
"Terimakasih pak!
"Sama-sama bu Dokter, hati-hati di jalan."
Vana tersenyum seraya mengeluarkan uang lembaran ratusan ribu dan masuk kedalam mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Hingga di sebuah pertigaan jalan beberapa orang warga berhentikan pengguna kendaraan roda empat.
"Maaf Nona jangan lewat arah sini, jalanan di tutup sementara."
"Kenapa jalan raya di tutup."
"Lewat jalan lain saja Mbak, arah sana ada jembatan amblas." tutur seorang warga.
"Baik, terima kasih Pak!"
Dengan terpaksa para pengguna roda empat mengambil alternatif jalan lain.
__ADS_1
"Wah sudah jam setengah sebelas, hari ini ulang tahun Zidane. Aku telat datang lagi." Vana terus melakukan mobilnya mencari jalan pintas untuk cepat sampai mansion. Tiba-tiba dari arah depan ada seseorang menghalangi lajunya mobil, dengan cepat Vana rem mendadak.
"CIIIIIIIITTTTTTTT.....!!!!!!
"Tolooooonng.....!!"
"Hah! siapa Pria itu? dia berhenti tepat di depan mobil, apakah ada seseorang yang menyakitinya." Vana sempat terpana melihat seorang pria meminta pertolongan.
"Bantu aku bawa pergi dari sini...!" please..? mereka akan semakin mendekat." pinta pria itu memohon.
"Apakah ini sebuah jebakan, atau...?! Vana tampak ragu "Tapi pria itu sangat butuh pertolongan ku, dan sepertinya banyak darah di sekujur tubuhnya."
"Aku harus menolong nya!" dengan cepat Vana membuka pintu mobil dan saat ingin menolong nya tiba-tiba pria itu ambruk ke aspal.
"Tuan...! Vana membungkuk dan meraih tangan pria itu untuk memapahnya dan membawanya masuk kedalam mobil.
"Alea..."
Vana terkejut dan menatap dalam wajah yang sudah di penuhi oleh darah. "Siapa kau..? darimana kau tahu nama kepanjangan ku? tanya Vana penuh tanda tanya.
"Alea ku.. tolong aku..? apa kau lupa padaku? aku membutuhkan pertolongan mu.." ucapnya lirih dengan suara tercekat. Vana terus mengamati wajah pria itu dengan seksama, tiba-tiba ia terkejut seraya membekap mulutnya.
"Nat-han....! kau kah itu..?! Vana langsung berdiri dan ingin menghindar, namun tangan Nathan meraih pergelangan kaki Vana.
"Tidak! tidak mungkin, kau bukan Nathan! dia sudah mati terkubur tanah. Lepaskan! hardik Vana
"Alea.., aku mohon, tolonglah aku! aku adalah Nathan! aku membutuhkan pertolongan mu, Paman dan kakak tiriku ingin membunuh ku!"
"Jangan pernah mengaku-ngaku! lepaskan kaki ku! Vana menarik kasar kakinya dan berlari masuk kedalam mobil.
"Alea percaya padaku... ini aku Nathan!
"Hiks.. hiks... hiks... Nathan! apakah aku sedang berhalusinasi? benar kah itu kau...,?!
Tiba-tiba sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan mobil Vana, beberapa Pria bertubuh tinggi tegap turun dari mobil dan menyeret tubuh Nathan yang masih tergeletak di aspal.
"Kita lempar saja tubuhnya ke jurang! teriak salah seorang pria itu.
Vana yang melihat semua itu hatinya tergerak dan tak tega "Benarkah pria itu Nathan?!
"Tidak! orang-orang itu tidak boleh membuang tubuh Nathan!"
Vana bergegas keluar dari mobil dan berlari kearah pria-pria itu membawa Nathan ke tepi jurang.
"Tunggu.....!!! teriak Vana menghentikan langkah mereka.
"kalian mau apa? lepaskan tubuh Pria itu!"
"Hey Nona anda mau apa ..?! sudah seharusnya pria ini mati!"
"Kalian tak berhak membunuh orang yang sudah tak berdaya!" seru Vana berusaha untuk menahan nya.
"Cepat lemparkan dia! kita harus dengarkan perintah bos besar!" perintahnya pada tiga orang yang menarik tubuh Nathan.
Tiga orang itu mendang dan melempar tubuh Nathan kedalam jurang.
"TIDAK JANGAN....!!!!!!!!
💜💜💜
@Ayo komentar yang banyak, biar Bunda rajin update 🙏😘😘
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
__ADS_1
@Bersambung....