Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Merindukanmu


__ADS_3

Disebuah Butik terkenal dan ternama di Bali, terdapat barang-barang bermerk dan terkenal di kalangan pengusaha dan pejabat.


"Kak! lihat baju ini keren kan? Chika menunjukkan pakai casual pada Vana yang masih sibuk mencari satu-persatu di rak pakaian yang cocok.


"Bagus kok, ambil saja nanti kakak yang bayar."


"Nggak usah kak! Chika punya ATM sendiri."


"Simpan saja uang mu, kakak jarang bertemu kamu Chik, anggap kenang-kenangan dari kakak, ambilah sepuasnya."


"Hmm... baiklah kakakku cantik." Chika mencium pipi sepupuhnya.


Mereka berdua benar-benar memborong belanjaan pakaian, tas dan sepatu yang tentu saja barang-barang branded. Selesai berkeliling dan memuaskan belanja, mereka membawa troly yang sudah di penuhi berbagai macam belanjaan, menuju ke kasir untuk pembayaran. Tidak tanggung-tanggung nilainya mencapai tiga ratus juta.


"Jumlah totalnya tiga ratus dua puluh juta." ucap pelayan kasir ramah.


Vana membuka handbag dan tangannya merogoh kedalam tas. "Waduh gawat."


"Kenapa kak?!


"Dompet kakak ketinggalan." bisiknya pelan.


"Aku ada ATM, tapi paling cuma 120 juta nggak sampai 300 juta Kak! mereka masih berbicara bisik-bisik."


"Jadi bagaimana donk Kak, nggak mungkin kan harus di cancel."


"Maaf Mbak bisa cepat sedikit, masih banyak yang mengantri." imbuh seorang kasir mulai terlihat gusar karena yang mengantri semakin bertambah.


Seketika raut wajah Vana panik, belum pernah ia ketinggalan dompet apalagi saat akan membayar semua belanjaannya "Sebentar ya Mbak." tukas Chika.


"Makanya kalau nggak punya uang jangan sok-sokan belanja banyak! cari ajah di pinggir jalan barangnya murah-murah!" celetuk ibu-ibu yang berdiri di belakang Vana.


"Hey Bu! jaga mulut Anda ya? kita bukan nggak punya uang, tapi dompet kakak saya ketinggalan! jangankan cuma jumlah tiga ratus juta, beli butik ini juga mampu! bentak Chika


"Hussszzz Chika, jangan begitu! yang sopan bicara pada orangtua." tukas Vana pelan karena ia tidak ingin cari ribut


"Gimana mau sopan kak! kalau dia ajah menghina kita! Apa dia tidak tahu kelurga kita bukan orang sembarangan. Suruh dia cari di google siapa itu kelurga Mahesa! ucap Chika sombong.


"Dasar anak sombong! tidak punya etika dan tata-Krama. kalau nggak bisa bayar minggir!"


Saat Chika akan membalasnya Vana menarik tangan Chika "Sudah.. sudah.. jangan dilayani, nanti semakin melebar kemana-mana."


Vana maju dan berbicara pada kasir "Maaf Mbak, ATM saya tertinggal di rumah, saya tetap akan membayarnya setelah saya suruh saudara saya ambil dompet kesini. Mereka yang mengantri saja bayar duluan, sambil menunggu saya bayar."


"Baik Mbak!"


"Saya yang bayar semuanya."


Tiba-tiba seorang Pria sudah berdiri didepan kasir dan memberikan kartu black.


Vana terkejut dengan mata membulat, saat melihat pria tampan berkharisma dengan tatapan teduh dan senyuman mengembang kearahnya.


"Dirgantara...?!

__ADS_1


"Hmm... apa kabar Dokter Vana?"


"Ta-pi apa maksudmu membayarkan belanjaan ku?!"


"Bukan saat nya bertanya, lihat antrian sudah semakin panjang." tukas Dirga, membuat Vana pasrah untuk di bayarkan Dirga.


"Aku janji akan kembalikan uangmu." bisik Vana gugup


"Silakan Mbak, berapa total tagihannya." tanya Dirga seraya tersenyum kearah Vana dengan lesung pipi menggoda, semakin tampan tiga kali lipat dari biasa.


"Totalnya tiga ratus dua puluh tujuh juta rupiah." ucap wanita berseragam biru muda itu, dan di anggukan oleh Dirga "Silakan nomor PIN nya." Dirga menekan angka ATM enam digit.


"Terima kasih banyak, semoga kembali lagi." ucap wanita kasir itu ramah seraya mengatubkan kedua tangan didada.


Chika dan Vana membawa belanjaan yang sudah di kemas kedalam paper bag.


"Biar saya bantu." Dirga menawarkan diri.


"Nggak usah repot-repot." Vana menolak secara halus.


"Mas mau bantuin bawa? boleh nih!" Chika menyerahkan beberapa kantong pada Dirga.


"Chika!! seru Vana menatap Chika dan gelengkan kepala.


"Nggak apa-apa kok Dok! ini juga ringan.


"Jangan panggil aku Dokter disini, aku lagi tidak bertugas." imbuh Vana sambil berjalan keluar butik, suara kekehan Dirga terdengar renyah.


"Ohiya, kau bisa kirimkan no rekening mu, nanti setelah sampai rumah aku transfer, dompet berisi ATM tertinggal karena tadi aku dan Chika buru-buru pergi."


"Tetapi...."


"Dokter Vana saya ikhlas kok!"


"Terima kasih banyak kak! wah sering-sering ya kita shopping."


"Chika! Vana melototi sepupuhnya itu yang asal ceplas-ceplos.


"Terimakasih banyak, tapi aku akan tetap membayarnya, 300 juta bukan jumlah yang sedikit, tuan Dirga!"


Dirga hanya menghela nafas panjang.


Dua orang bodyguard yang menunggu didepan pintu mengambil bawaan belanjaan Vana dan Chika lalu membawanya ke dalam bagasi mobil.


"Mumpung kita masih disini, bagaimana bila kita makan restoran seafood yang terkenal enak di Melawai di daerah Jimbaran."


"Sepertinya aku harus pula__"


"Benar Kak! seafood di Melawai sangat enak!" potong Chika yang antusias ajakan Dirga. "Aku sama Mami dan papi sering makan seafood disana walau perjalanan nya lumayan 30 menit sampai sana."


"Kalau begitu ayo kita kesana, suasana sorenya sangat indah dan kita bisa menikmati Sunset."


"Tapi, bukankah kita belum bilang Mami, Papi? Vana masih berusaha menolak.

__ADS_1


"Kakak tenang saja, biar aku yang telpon Mami." tukas Chika meyakinkan Vana. "Ayolah sebentar lagi kita bisa lihat sunset." Chika menarik tangan Vana untuk masuk kedalam mobil Dirga yang terparkir tidak jauh dari mobil Chika.


"Tunggu! Vana menatap Dirga sebelum masuk kedalam mobil "Kenapa kebetulan sekali Tuan Dirga berada di Bali? bukan kan anda seorang Gurbernur, kok bisa jalan-jalan ke Bali."


Dirga yang merasa di curigai malah terkekeh dengan suara khasnya "Jangan panggil saya Tuan, saya sedang tidak bertugas, Nona."


Vana mengerutkan keningnya "Anda seorang Gurbernur yang senang picnik!


Dirga sudah tidak bisa menahan tawanya. Entah kenapa, setelah bertemu dengan wanita bernama Zevana Alea yang sudah menolongnya, kini hidupnya lebih ceria, tidak kaku seperti dulu, yang selalu serius sebagai seorang Gurbernur. Ada waktu tertentu dimana ia menjadi dirinya sendiri dan tidak terikat dengan waktu dan jabatan.


Karena rengekan Chika, akhirnya Vana mengalah dan masuk kedalam mobil Dirga yang sudah ia bukakan pintunya. Sedangkan dua orang bodyguard tetap mengikuti dari belakang mobil Dirga menuju daerah Jimbaran.


"Aku hanya mengambil cuti selama tiga hari di Bali, ada bisnis sampingan yang harus aku urus disini. Besok sudah harus kembali lagi ke Malaysia." ucap Dirga membuka obrolan yang sejak tadi hening.


"Ohh jadi kakak orang'Malaysia?"


Kini lebih banyak Chika dan Dirga yang bicara, Vana hanya menimpalinya sesekali saja. Tiga puluh menit kemudian, mobil sampai di tempat tujuan. Mereka memilih tempat lesehan di pojokan yang memandang hamparan luas pemandangan didepannya.


"Dari sini kira bisa melihat jelas sunset." tukas Chika terlihat senang, sejak tadi matanya tidak pernah lepas dari wajah tampan Dirga yang berkharisma, berbeda dengan Vana yang biasa saja pada Sosok Dirga, sudah jelas Dirga jauh-jauh datang ke-Bali hanya untuk menemuinya dan sudah ia rencanakan melalui mata-matanya yang ia bayar untuk memantau aktivitas wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta.


"Kalian mau makan apa? tanya Dirga sambil menatap Vana.


"Aku terserah kalian.."


"Aku saja yang pilih! pilihanku pasti kakak suka! Chika menimpali dan membulak-balikan menu makanan. Setelah Chika memilih pesanan, tiga puluh menit kemudian semua pesanan sudah tersusun di atas meja. Mereka sangat menikmati makanan seafood bersama obrolan dan candaan sore itu.


Tak jauh dari tempat mereka makan, seorang pria sedang menikmati kopi hitam sambil sesekali menatap wajah cantik berambut hitam panjang itu.


"Aku sangat merindukanmu, Alea? apakah kau secepat itu melupakan diriku? Siapa Pria itu..?! Ku perhatikan Pria itu sangat menyukai Alea ku.. tidak! tidak akan aku biarkan siapapun merebut hatimu, kau milikku Alea.. hanyalah milikku!" gumamnya lirih. "Tunggu aku! pasti akan kembali padamu."


Terdengar suara bunyi ponsel dari tempat tiga orang itu menikmati seafood.


"Hallo Pih!


"Chika kau sedang berada dimana sekarang?! terdengar suara Robert yang khawatir dari ujung telepon.


"Chika dan kak Vana sedang makan seafood di Jimbaran!


"Kenapa jauh-jauh hanya cuma makan seafood saja! kalian tetap di sana, papi dan mami akan jemput kalian disana!"


"Ahh..? Papi sama mami mau kesini?!"


"Iya tunggu saja disana!" telpon pun langsung terputus.


Seorang pria setengah berlari kearah pria yang sedang menikmati kopi itu.


"Nathan! secepatnya kita harus pergi dari tempat ini, keberadaan mu sudah di ketahui Tuan Reno, mereka sedang menuju kesini!" ucap David dengan nafas tersengal.


"Apa...!!"


💜💜💜


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘

__ADS_1


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76


@Bersmbung....


__ADS_2