Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Selisih Paham Dua pria


__ADS_3

Pagi menjelang di ufuk barat. Mentari pagi menyambut sang matahari keluar dari peraduannya. Suara kicauan burung terdengar sangat indah dan membangunkan raga yang tertidur pulas.


"Kenapa kalian tidur di depan kamar Savira? suara Delena mengagetkan kedua orang Pria yang masih setengah sadar.


"Mommy...? suara parau Vano terdengar berat seraya mengucek matanya. Tangan Vano menepuk punggung Dev agar terbagun dari mimpi indahnya. Mungkin saja Dev sedang bermimpi bertemu bidadari yang turun dari khayangan. Tampa sadar Dev menepis tangan Vano dan membalikkan tubuhnya kesamping.


"Astaga nih anak nggak lihat sikon! batin Vano kesal. Tangan Vano mencubit bokong Dev dan membuat Dev terpekik.


"Aaawww...!! Dev menjerit dan terbangun, matanya sangat terkejut saat melihat ibu negara sudah berdiri di depan mereka berdua.


"Tan-te! ma'af saya ketiduran di sini.." ucap Dev gugup.


"Apa dengan kalian tidur di depan kamar Savira bisa membuat mommy iba?!


"Sorry mom! vano hanya ingin menjaga Savira dan kebetulan kita berdua nggak bisa tidur, jam empat tadi kita baru terlelap."


"Nggak usah cari alasan Karena kalian berdua ingin menjaga Vira! sudah kalian cepat masuk kamar dan mandi. Bi Ijah sudah siapkan sarapan untuk kalian."


"Oke Mom!


Dengan cepat Vano dan Dev bangun, mereka berjalan kearah tangga. Delena berjalan kearah kamar Savira sambil membawa bubur dan susu putih. Delena duduk di tepi ranjang dan menaruh punggung tangannya di dahi Savira.


"Syukurlah sudah turun Panasnya."


"Mommy..." panggil Savira setelah kedua matanya terbuka.


"Kau sudah bangun Nak..?!" minum susunya dulu, lalu makan bubur ayam ya.


Savira memijit keningnya "Kepala Vira pusing Mom."


"Ya sudah mommy suapin susunya ya."


"Nggak usah mom, sebentar pusingnya juga hilang. Dimana kak Dev?!


"Sudah kau tidak usah pikirkan Dev! sekarang makan buburnya."


"Vira harus masuk kantor, mom."


"Tidak! semalam kau demam tinggi, untuk sementara kamu tidak usah masuk kerja dulu, istirahat saja sampai fisik mu kuat."


"Tapi mom.. dikantor banyak kerjaan."


"Jangan membantah, kau baru saja siuman dan demamnya turun. jaga kesehatan mu dulu baru boleh masuk kerja."


Savira mendesah pelan "Iya mom!"


"Ayo makan buburnya." Savira menyandarkan tubuhnya ke divan. Dengan telaten Delena menyuapin Savira.


*


"Apa hari ini ada fresentasi?" tanya Vano, tangan nya mengakat cangkir kopi dan menyeruputnya.


"Sebentar aku cek! Dev membuka iPad dan melihat jadwal kerja untuk Vano "Ada! hari ini ada pertemuan dengan Mr Leon."


"Mr Leon..? Vano menautkan alisnya "Sepertinya aku baru mendengar nama itu."

__ADS_1


"Mr Leon dari Amerika, sudah dua kali aku bertemu dengannya, saat kau sedang tidak berada di kantor."


"Bisnis apa yang ia tawarkan!'


"Senjata api!"


"What...?!!! apa aku tidak salah dengar?"


"Ck! kau ini mudah sekali pelupa. Bukankah kau sendiri yang menyuruh aku mencari senjata api untuk di pergunakan orang-orang kita? sejak kejadian pembunuhan asisten rumah tangga yang di kirim mansion, kau sangat posesif pada tamu yang datang."


"Kau benar, aku membutuhkan senjata api kedap suara. Baiklah kita bertemu Mr Leon hari ini!"


"Akan aku hubungi Mr Leon."


Vano beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kamar Savira.


"Hey kau mau kemana?!


"Menemui Savira sebelum ke kantor."


"Tunggu! Dev berjalan cepat "Pasti kau mau minta ma'afkan?"


"Sudah pasti! seharusnya kau yang bertanggung jawab karena sudah meninggalkan Savira sendiri! kalau bukan sahabat sudah aku lempar kau ke kandang macan!" seru vano geleng-geleng kepala.


"Kalau begitu kita masuk sama-sama!"


Vano geleng-geleng kepala sambil membuka handle pintu.


"Ceklek!


"Mom, boleh Vano masuk..?!


Vano dan Dev masuk berjalan kearah ranjang dimana Savira bersandar "Bagaimana keadaan mu Dek? tanya Vano, menatap kearah Savira yang tertunduk lemah dengan tangan saling bertautan.


"Alhamdulillah sudah lebih baik." ucapnya lemah tanpa melihat kearah Vano


"Kakak minta ma'af ya atas kejadian semalam, Semoga tidak akan terulang lagi."


Savira mengangguk pelan sebagai respon.


"Vir, kak Dev juga minta ma'af ya sudah teledor ninggalin kamu sendiri. Tolong jangan salahkan Kak Vano, semua salah kak Dev."


Savira tersenyum lembut "Tidak ada yang salah Kak, aku saja yang kurang hati-hati saat berada di sekitar kolam."


"Apa ada orang yang sengaja menjatuhkan mu kedalam kolam renang. Rasanya mustahil bila kau tak sengaja jatuh kedalam kolam sendiri." tanya Vano menatap curiga.


Savira gelengkan kepala lemah, walau hatinya masih ragu apakah pelayan itu sengaja menendangnya kedalam kolam, atau ia hanya tak sengaja.


"Vano, sudahlah jangan banyak bertanya dulu. Savira baru saja bangun dan kondisinya masih lemah, nanti saja bertanya nya."


"Iya Mom!"


"Ya sudah Mom, Vano berangkat kerja dulu." Vano mencium punggung tangan Delena di ikuti Devan. "Hati-hati dijalan Nak!"


"Jaga kesehatan mu Dek, istirahat dulu sampai sembuh total."

__ADS_1


"Iya kak!


Mereka berdua melangkah pergi meninggalkan kamar Savira.


"Dev!"


"Iya Van!


"Kau selidiki hotel Kelvin, apa yang sudah terjadi dengan Savira semalam."


"Baiklah, akan aku suruh orang selidiki."


*


*


Di sebuah ruangan kerja bercat serba putih. Seorang pria tampan sedang memakai kumis dan janggut putih di depan cermin.


JEGLEK!


"Apa kau sudah siap!"


pria yang baru masuk itu duduk di sebuah sofa dengan kaki menyilang "Ingat pesanku, misi kita harus berhasil menghancurkan anak-anak kelurga Reno!"


Pria itu menuangkan wine kedalam gelas tinggi langsing lalu menyesapinya perlahan "Kau harus bisa memiliki saham 60% punya kelurga Reno Mahesa, setelah mendapatkan apa yang kita inginkan mudah bagi kita menghancurkan mereka!"


"Kau diam lah! aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan!" bentak pria itu merasa kesal.


"Leon... kau jangan merasa hebat! ingatlah kau berhutang nyawa padaku! darahmu adalah sebagian milikku! camkan itu!!"


"Cih! kau selalu saja jadikan darahmu sebagai senjata!"


"Aku tidak ingin banyak berdebat! ingat target mu adalah anak gadis Tuan Reno! bila kau gagal, racun yang bersarang di tubuh ibumu Diana, GUNDIK Daddy ku hanya bertahan dua minggu!"


"Diam kau berengsek! Leon menarik kerah baju Pria itu dengan tatapan menghunus "Sekali lagi kau menghina ibuku, tidak akan segan aku hancurkan batok kepala mu!"


"Hahahaha....." kenapa? kau ingin membunuh ku! kau berani padaku! pria itu terbahak dengan wajah menyeringai


"BUGH!! Pria itu memukul wajah Leon, hingga tersungkur ke lantai.


"Manusia licik! kau bermain curang dengan menyuruh seseorang memberikan ibu ku obat vitamin yang ternyata itu adalah racun!"


"Bedebah kau Matthew!' Leon lantas bangkit dan menerjang tubuh pria bule bermata biru itu. keduanya saling pukul dan baku hantam.


Dua pria sama-sama berfostur tubuh tinggi besar dan bermata biru, tidak ada satupun dari mereka yang mau menyerah. Serangan demi serangan mereka layangkan, barang-barang keramik dan guci bernilai sejarah hancur berkeping-keping.


"BERHENTI!!" teriak pria paruh baya yang tiba-tiba baru datang. Seketika dua pria itu menghentikan perkelahiannya. Terlihat wajah mereka sama-sama babak belur dan mengeluarkan darah dari hidung dan pelipisnya.


"Paman!!! seru mereka bersamaan.


"APA KALIAN BODOH, HAH!!! KALIAN BERDUA ADALAH KETURUNAN DARI ANAK-ANAK THOMAS!!"


💜💜💜


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘

__ADS_1


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76


@Bersambung....


__ADS_2