Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Pertolongan


__ADS_3

Pria itu tidak berbicara, hanya gerakan tangan seakan menyuruh Vana diam dan tidak bertarung. Kemudian pria itu melompat dan mulai menyerang mereka secara bersamaan.


Vana yang berada di atas kap mobil terus meringis karena tangannya mengeluarkan tetesan darah, satu tangannya menutup goresan luka yang tertutup blazer. Bisa dibayangkan setajam apa pedang yang menggores lengan Vana hingga blazer itu robek. Vana menatap pria misterius itu yang datang dan menolongnya tiba-tiba, bertarung melawan belasan orang yang memakai pakaian serba hitam. Pria misterius itu juga berpakaian sama hitam, ia terus melawan dan mampu merobohkan lawan satu-persatu. Ingin sekali Vana membantu pria itu yang mulai terdesak, namun goresan luka ditangannya sangat perih.


"Siapa pria misterius itu? bahkan wajahnya tertutup kain hitam, hanya bola matanya saja yang terlihat, Persis seperti Ninja dan aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, apa mungkin Pria itu mengenal ku? Vana terus bertanya-tanya dalam hatinya.


"AWAS! Vana tiba-tiba berteriak saat salah satu musuhnya menggoreskan pedang ke punggung pria misterius itu.


"Apa yang harus aku lakukan? aku tidak mungkin berdiam diri terus."


Vana melihat sebuah kayu yang kira-kira panjangnya satu meter, ia turun dari kap mobil dan mengambil kayu yang jaraknya tidak jauh. Lalu membantu pria misterius itu yang mulai kewalahan, satu lawan belasan orang tidak sebanding bukan?


"BUGH! BUGH! BUGH!


Vana menghantamkan kayu panjang itu kepala salah satu dari mereka.


Aaakkhhh.....!!!!


Dengan menggunakan kayu sebagai senjata, Vana ikut bertarung. Ia tidak peduli luka tangan sebelah kiri yang masih mengeluarkan darah.


"Kenapa kau turun dari kap mobil. Biar aku saja yang menghadapi mereka semua! seloroh pria misterius itu sambil terus melancarkan serangan pada lawan didepannya.


"kau begitu meragukan keahlian ku dalam berkelahi. Aku tidak bisa melihat orang lain terluka karena membela ku, lalu aku harus diam saja menjadi penonton! alangkah jahatnya diriku! tukas Vana sambil tangannya mengharamkan kepala orang yang terus menyerangnya.


"Ini sudah biasa bagiku, sekarang menjauhlah! aku bisa mengatasi sendiri, tanganmu sedang terluka! seru pria itu dan menghunuskan pedang di perut lawan lalu menendang kebelakang.


"Lihatlah punggung anda terkena goresan pedang, sama halnya denganku di sebelah tangan kiri, Ayo kita lawan bersama! seru Vana mulai semangat, rasa sakit sudah tidak ia hiraukan.


Sementara Vano dan Devan masih melajukan mobilnya mencari keberadaan Vana menuju sebuah gedung wali kota di Cikarang. Tempat diadakannya seminar. Vano mencoba lagi menghubungi ponsel Vana dan ternyata terhubung.


"Ponsel Vana terhubung! seru Vano senang, Namun beberapa kali panggilan tidak juga diangkat.


"Gimana? tanya Devan ikut senang.


"Telponnya tidak diangkat! Vano menghela nafas panjang.


"Coba kau ulangi lagi, siapa tahu ponselnya berada didalam tas."


"Tidak mungkin! tadikan telponnya mati terus tiba-tiba nyala? pasti sudah ada yang aktifkan ponsel Vana." otak Vano seakan dipaksa keras untuk berfikir "Pasti ada yang tidak beres dengan Vana." Vano mulai mencari jejak Vana melalui GSP yang aktif.


"Coba dicek dari ponsel Vana, dimana keberadaannya.'


"Aku juga sedang melakukannya." vano mulai melacak posisi Vana melalui ponselnya yang terhubung.

__ADS_1


"Sepertinya tidak terlalu jauh dari lokasi kita berada sekarang."


"Coba cari jalan Senopati.."


Devan mengikuti arahan sahabatnya yang terlihat tegang. Lima belas menit mobil hanya putar-putar lokasi, mobil mulai melewati jalanan layang hingga turun kebawah. jalanan terlihat tampak sepi hanya melintas beberapa kendaraan roda empat dan roda dua yang lewat. "Arah kemana lagi kita? tanya Devan masih terus mengikuti arahan Vano.


"Depan lurus ada pertigaan kita belok kanan, titiknya hampir mendekati.


Mobil terus melaju dan tepat di pertigaan belok kanan, terdapat pohon-pohon besar sepanjang jalan arah kesana.


"CIIIIIIIITTTTTTTT!


Tiba-tiba Devan rem mendadak "Lihat Van, itu mobil Vana, dan ada perkelahian disana! pekik Devan. Tanpa banyak bicara Vano melepas seatbelt dan turun dari mobil, ia berlari kearah orang-orang berkelahi dan melihat adiknya sedang bertempur melawan sekelompok orang berpakaian serba hitam.


"VANA!!!!


BUGH!! vano melayangkan tendangan kearah lawan yang sedang menyerang adiknya. Melihat Vana kepayahan Vano menarik tubuh adiknya untuk melindungi dari serangan lawan.


"Kau pergilah, cepat! perintah Vana dan terus melindungi adiknya dari serangan.


"B4NGS4T KALIAN!! vano yang terlihat emosi rahangnya mengeras, Aura membunuh sudah mulai terasa disekitarnya. Ia mengambil pedang yang terjatuh, dengan membabi buta Vano menyerang lawan satu persatu, gerakan memutar dan melayang hingga dengan cepat menghujani pedang ke tubuh lawan.


"Aaaakkkkhhh.....!!!


"TRANG-TRANG... TRANG-TRING...


"Vana.. kau tidak apa-apa? Devan sudah berdiri di belakang Vana, dan melihat kondisi adik sahabatnya meringis kesakitan.


"Van! tangan mu keluar banyak darah! pekik Devan "Ayo kita ke mobil, aku obati." Devan menarik tangan Vana yang tidak terluka dan berjalan kearah mobil yang ia tepikan di bahu jalan.


Didalam mobil Vana melepaskan blazer untuk memudahkan Devan mengobati tangannya yang terluka, tinggal kaos putih ketat yang melekat ditubuh Vana.


"Pelan-pelan Dev! tukas Vana, saat Devan membersihkan luka darah yang terisisa di tangannya.


"Apa ini sakit? Vana mengangguk "Pantas! luka goresan nya lumayan dalam." ujar Devan seraya memberikan Betadine untuk menghentikan darahnya, lalu membalutkan perban untuk menutupi luka Vana.


Pertempuran semakin sengit, Vano semakin ganas dan tidak memberikan ampun pada lawan, membabat habis orang-orang didepannya. Sedang pria misterius itu mendapat lawan yang seimbang, saling serang dan saling menghindar.


Vano tinggal melawan satu orang lagi dan ia tidak mau menghabisi dulu sebelum tahu siapa orang yang telah menyerang adiknya. Vano menghunus pedang ke leher lawan "SIAPA KAU! SIAPA YANG SUDAH MENYURUH MU MENYERANG ADIKKU!!


Pria itu menatap sadis kearah Vano, Walau wajahnya tertutup kain hitam, namun sorot matanya mengandung kebencian.


"KAU TIDAK MAU MENJAWAB, HAH! APA KAU INGIN MATI SEPERTI MEREKA! CEPAT KATAKAN SIAPA YANG MENYURUHMU!" bentak Vano dengan emosi yang meletup-letup.

__ADS_1


"KAMI SEKELOMPOK ORANG BERANI MATI!!!! seru pria itu, secepat kilat tangannya menarik ujung pedang Vano dan ditekan ke lehernya sendiri, darah kental mengucur deras dari tenggorokannya dan mati dengan mata melotot.


*


"Terimakasih Dev! Vana buru- buru membuka pintu mobil. "Mau kemana Van? tanya Devan.


"Aku harus melihat kakak, aku takut kakak salah bunuh orang, karena ada seseorang berpakaian hitam juga yang datang menolong aku!"


Dengan tergesa Vana membuka pintu mobil, dan berlari kearah kejadian tadi, benar saja sudah banyak mayat-mayat bergelimpangan di aspal. Kini tinggal tersisa dua orang pria yang sedang bertarung.


"KAKAK' HENTIKAN!! teriak Vana "JANGAN KAU BUNUH PRIA ITU, DIA YANG SUDAH MENOLONG AKU! seru Vana dengan nafas turun-naik, Vana berjalan mendekat dan berdiri didepan pria berpakaian serba hitam.


"TERIMA KASIH BANYAK! Vana membungkuk sebagai tanda hormat "WALAU AKU TIDAK BISA MELIHAT WAJAH MU, TAPI AKU YAKIN SUATU HARI NANTI KITA BERTEMU LAGI!"


Pria misterius hanya diam tanpa mengeluarkan satu katapun. Pria itu juga membungkuk sebagai tanda penghormatan. Sebelum pergi pria berpakaian serba hitam menatap wajah Vana, Lalu melompat keatas pohon dengan gerakan secepat angin, tubuhnya melesat dan menghilang bersama pekatnya malam.


"Dek? kau tidak apa-apa? tanya Vano prihatin.


Vana menoleh kebelakang "Kak! Vana masuk kedalam pelukan kakaknya dengan menangis terisak dan bersandar didada bidangnya


"Ma'afkan kakak terlambat datang! syukurlah kau masih bisa selamat.


"Ayo kita pulang?"


"Bagaimana dengan mayat-mayat itu kak!"


"Kakak akan telepon pihak kepolisian, biar mereka yang menginvestigasi mayat-mayat tersebut. Sayangnya kakak tidak mendapatkan info tentang sekelompok orang ini, bahkan satu diantara mereka yang belum sempat Kakak bunuh, berani mati dengan cara menekan pedang ini ke lehernya sendiri. dia adalah pasukan berani mati!!"


"Jadi mereka adalah orang-orang yang di Doktrin otaknya untuk setia pada Tuannya? bila sudah terdesak dan kalah bertarung mereka akan membunuh dirinya sendiri


"Kau benar Dek!. Kita harus berhati-hati, mulai sekarang kau harus terus di dampingi bodyguard."


"Bodyguard..? tiba-tiba Vana teringat akan sosok pria yang sudah menyakiti hatinya sehingga ia belum bisa muvo on dari masa lalunya.


Vano merangkul pundak adiknya dan meninggalkan tempat itu.


💜💜💜💜


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76


@Bersmbung....

__ADS_1


__ADS_2