
Saat Devan akan berjalan ke kasir, ia melihat sebuah dompet terjatuh di lantai, lalu Dev membuka dompet itu "Ini seperti foto wanita tadi. Sepertinya dompet ini terjatuh." Devan menoleh kearah kasir, Namun wanita bule tadi sudah tidak ada. Ia berlari kearah pintu, tidak melihat lagi wanita itu.
"Aku akan mencari tahu siapa wanita ini!" gumamnya seraya berjalan kearah kasir
Usai membayar tagihan tas seharga 175 juta. Devan keluar dari galery. Tiba-tiba langkahnya tertahan di sebuah galeri perhiasan jewelry. Seorang pelayan menyapa dengan ramah saat Dev membuka pintu.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan?!"
Devan berdiri didepan kaca etalase, lalu menunjuk sebuah cincin mata merah delima. Dengan senyuman ramah pelayan perhiasan itu mengambil berbagai macam bentuk cincin dan di serahkan pada Devan.
"Saya mau cincin dengan batu permata merah delima ini."
"Baik tuan, hanya ini saja?
Devan mengangguk. pelayan itu memberikan kotak cincin beserta suratnya setelah Devan membayar dengan kartu kredit miliknya.
Setelah selesai dengan aktivitasnya di dalam Mall, Devan melajukan mobilnya dengan cepat. Saat di perjalanan ia berhenti disebuah toko bunga. Bucket bunga mawar merah menjadi pilihan Devan untuk Savira.
Sore itu perjalanan menuju mansion sedikit macet, mobil merambat dengan pelan. Saat berhenti di pertigaan lampu merah. Devan melihat seorang wanita berwajah bule duduk di samping pria tampan yang tadi bersamanya. Mobil mereka agak berjauhan hanya terhalang satu mobil lainnya.
"Wanita itu? dompet nya masih ada padaku. apa aku ikuti saja mobilnya. Tidak mungkin aku turun ditengah jalan."
Lampu warna merah berubah hijau. Mobil mulai melaju, Devan mengikuti dibelakang mobil wanita itu. Namun atensinya terhenti saat ponselnya berdering.
"Vano?!"
"Iya Van!"
"Kau sudah berada dimana? Mommy menunggu kita. Aku sudah bilang kau akan pulang lebih dulu, aku menyusul setelah jemput Bella."
"Aku masih dijalan. Maklum Jakarta macet bila sore hari."
"Okay, semoga cepat sampai!"
Setelah panggilan terputus. Devan mencari keberadaan sedan putih tadi, Namun sudah menghilang.
"Kemana mobil itu?! Hufft! Devan meniup kuat. "Baiklah aku akan selidiki nanti, yang terpenting aku temui Savira dulu."
Satu jam kemudian mobil memasuki gerbang mansion. Devan turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam mansion.
"Kak Dev! teriak Zidan.
"Hallo adikku yang ganteng. Dimana Mommy dan kak Vira."
"Semuanya ada di taman belakang!"
"Ya sudah, kakak kesana dulu ya." tukas Devan seraya mengacak-acak rambut Zidan.
Devan melangkah kearah taman belakang. Tempat yang indah, di penuhi berbagai bunga hasil rawatan Delena. Taman di sulap menjadi area restoran dengan berbagai hidangan makanan jenis laut. Aroma BBQ menguar di area mansion, sangat menggugah selera.
"Sore Tante, Om.." sapa Devan sopan, seraya mencium punggung tangan Reno dan Delena.
"Kau baru datang, dimana Vano? kenapa tidak bareng." tanya Reno, sebab hanya melihat Devan datang sendiri.
"Tadi sudah Mommy telpon Mas, katanya Vano sedang jemput temannya di Bandara."
"Ohh-ya! Ya sudah ayo kita gabung dengan yang lain." ucap Reno kemudian.
__ADS_1
"Dimana Savira nya? tanya Devan seraya jalan beriringan dengan Reno.
"Disebelah sana Dev, kau samperin saja."
"Ok, Om!
"Savira..."
"Kak Dev! Savira tersenyum saat melihat kedatangan Devan.
"Selamat ya sudah lulus dengan nilai terbaik." Devan menyerahkan bucket bunga mawar dan paper bag.
"Cantik sekali bunganya kak, terima kasih." mencium bucket mawar pemberian Devan.
"Bunganya secantik orangnya." canda Vano terkekeh. "Paper bag ini dari kak Vano, tadi ia menitipkannya pada kak Dev!"
"Kenapa bukan kak Vano sendiri yang memberikannya padaku. Sebenci itukan pria yang bergelar seorang kakak?" bisiknya dalam hati.
"Hey! kenapa bengong..?! Devan menjentikkan jarinya didepan Savira. Atensi Savira beralih pada Devan "Heh-iya kak! tolong sampaikan terima kasihku pada kak Vano!"
"Kau bisa ucapkan nanti saat ia pulang!" kata Dev seraya menaikan satu alisnya
Savira tersenyum masam.
"Ada satu lagi kejutan untuk mu!"
"Kejutan apa..?! tanya Savira penasaran.
"Tutup matamu dulu. Jangan di buka sebelum kak Dev suruh, Ok!"
"Oke kak!"
"Buka matamu.."
Savira membuka matanya dan terkejut melihat cincin melingkar di jari manisnya.
"Ya ampun kak, cantik sekali.." seru Bella, menatap takjub cincin yang melingkar pas di jari lentiknya.
"Apa kau menyukainya..?!
"Tentu saja suka, apa ini hadiah dari kak Dev?"
Devan mengangguk dan tersenyum puas.
"Terimakasih kakak ku yang tampan!" gurau Savira tertawa kecil.
"Dev! ayo makan dulu, kau pasti lapar! seru Delena memanggil Devan.
"Oke Mom!"
"Ayo kita kesana, temani kakak makan udah lapar banget nih!" Savira mengangguk sebagai respon.
*
Vano sudah berada di bandara setengah jam yang lalu. Tatapan nya masih mengarah ke sebuah pintu pengunjung. Belum ada tanda-tanda Bella keluar dari pintu itu.
Sebuah panggilan telpon merubah atensinya. Vano menerima panggilan dari rekan kerjanya.
__ADS_1
"Vano...." seru Bella, melihat Vano sedang berdiri sambil menelpon. Vano menoleh dan tersenyum pada sosok wanita yang sudah lama ditunggunya, keluar dari pintu bandara. Vano mengakhiri panggilan telepon dan berjalan kearah Bella.
"Vano..." Bella setengah berlari dan memeluk tubuh atletis nan kekar itu. Pria yang sangat ia cintai dan sanggup menunggunya selama delapan tahun.
Vana mengusap lembut punggung Bella dan membiarkan wanita itu bersandar di dadanya yang bidang. "Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Bella, menatap mata teduh pria yang kini sudah menjadi miliknya.
"Sekitar setengah jam lebih dikit!" tukas Reno, tangannya pindah mengusap kepala Bella.
"Ma'af menunggu ku lama, pesawatnya transit dulu jadi tidak tepat waktu!"
"No problem! Jangankan hanya setengah jam. Kau saja sanggup menunggu ku selama delapan tahun, kenapa aku tidak bisa sabar menunggu mu." senyuman merekah terukir di bibir Vano.
"Kau ini! Isabella memukul dada bidang kekasihnya. Wajahnya memerah dan tersipu malu-malu.
"Ya sudah, ayo kita pulang!"
Vano merangkul pinggang Bella menuju mobil yang terparkir. Pak supir membawakan koper dan barang-barang milik Bella.
Didalam mobil Bella bercerita banyak hal. Vano sebagai pendengar setia dan pengertian. Bella terus bersandar di bahu lebar kekasihnya.
"Apa kau lapar honey..?" tanya Vano melihat kekasihnya kelelahan.
"Sepertinya ia. Apa ada ide untuk restoran yang akan kita kunjungi?"
"Kau ingin makan apa..?
"Sudah lama aku tidak makan masakan khas Indonesia. Bagaimana kalau kita makan di lesehan, aku ingin makan lalapan, sambal dan ikan bakar gurame."
"Baiklah tuan putri.. Aku akan turuti kemauan mu hari ini, karena hatiku sedang bahagia." Vano merekatkan jemarinya pada Bella.
"Terima kasih Mas Vano.." tersinggung senyuman merekah di bibir merah Bella.
Mobil sudah terparkir di sebuah restoran lesehan yang terbuat dari bambu. Alamnya yang asri terlihat sangat nyaman dengan taman bunga di area restoran dan kolam ikan di bawah saung bambu.
Setelah memilih menu makanan, mereka menunggu selama 20 menit. Tiga orang pramusaji menata hidangan diatas meja.
"Sayang, apa tidak keterlaluan kau pesan sebanyak ini? Bella mendelikan matanya saat hidangan tersaji di meja.
Vano terkekeh "Makanlah sepuasnya. Aku yang bayar semuanya, tugas mu hanya untuk menghabiskan." ucapnya tanpa beban
"Aku tidak mau body ku jadi melar, kalau di suruh menghabiskan! Vano, sejak kapan kau jadi seperti ini? kau dulu pria dingin dan cuek, tapi sekarang sangat perhatian dan hangat.'
"Apa kau tidak senang aku berubah hangat."
"Hmm.. tentu saja aku sangat senang. Aku ingin kau hangat dan perhatian hanya padaku saja, tidak dengan wanita lain."
Vano menoel hidung mancung Bella "Tentu saja, karena kau sudah merubah dunia ku! Ayo cepet kita makan."
Hati Bella menghangat. kini ia sudah berada di sisi pria yang sangat ia cintai. Pria dingin, cuek dan terkesan angkuh. Namun perjuangannya selama delapan tahun tidaklah sia-sia.
💜💜💜💜
Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
@Bunda mau promosi novel terbaru..
"AKU BUKAN CINDERELLA"
__ADS_1
Sudah rilis 7 bab.. yuk ikuti kisahnya yang mengharu biru dan mengandung bawang. Jangan sampai ketinggalan kisahnya.