
Selamat siang Pak? apa Bu Siska ada? saya ada perlu ingin bertemu."
"Ada Bu..? apa Bu Marni sudah ada janji dengan Nyonya?"
"Telponnya sedang sibuk tadi saya hubungi. Gak apa-apa saya temuin langsung saja, kalau tidak perlu banget gak akan kemari."
Sekurity dan semua pekerja disana tahu kalau Kelurga Tommy dan Siska sangatlah welcome pada Hendro dan Marni, bahkan Nyonya dan Tuan nya sudah anggap seperti saudara, pasca penyelamatan hotel itu.
"Baiklah, silakan masuk Bu..."
"Terima kasih pak!
Marni masuk kedalam pintu gerbang dan berjalan kearah mansion bercat putih dan gold, rumah mewah berlantai tiga yang berdiri kokoh dan menjulang. Siska dan Tommy memiliki banyak aset didalam dan luar negeri, Bukan hanya Hotel, resort, penginapan, villa dan salon kecantikan yang bertebaran dimana-mana, Namun mereka juga merambah departemen store, pemilik swalayan terbesar di Jakarta dan kota-kota lainnya. Kelurga Mahesa memang tidak ada duanya bila untuk urusan bisnis. Kekayaan berlimpah dan tidak akan habis tujuh turunan sampai anak cucu mereka.
"Siang Mba.. saya ingin bertemu Bu Siska." tukas Marni pada seorang pelayan.
"Silakan Bu.. saya panggilkan Nyonya."
"Terima kasih Mba..."
Pelayan bernama Susi mengetuk pintu kamar Siska.
"Siapa...?
"Saya susi Nyah! ada yang mencari Nyonya.."
Ceklek!
"Siapa yang mencari saya, Mba..."
"Ibu Marni.."
"Huh! Siska mendesah kasar "Ya sudah nanti saya turun."
Lama Marni menunggu dengan gelisah dan tidak tenang. Setengah jam kemudian Siska menuruni anak tangga.
"Siang Bu Siska.." sapa Marni berjalan mendekati Siska dan bersalaman.
"Tumben, ada perlu apa ya Bu..." tanya Siska sambil duduk di Sofa.
"Maaf Bu Siska, saya langsung datang kemari. Soalnya saya telponin Bu Siska nadanya sibuk terus."
"Langsung saja apa tujuan Bu Marni kesini, apa bulanan yang saya berikan tidak cukup?
"Kalau dibilang cukup atau tidak, ya namanya kebutuhan rumah tangga dengan tiga anak tidak akan cukup." tukas Marni seraya meremas ujung bajunya menahan malu.
"Tapikan kebutuhan listrik, Wi-Fi, air dirumah Bu Marni dan pak Hendro masuk ketagihan saya. untuk kebutuhan sekolah dan kuliah anak-anak ibu Marni saya yang biayai. Untuk kebutuhan makan sehari-hari saya rasa 10 juta sudah cukup."
"Ma-sud saya bu-kan itu Bu Siska..? kalau semua yang ibu Siska berikan sudah cukup kok." Marni tertunduk malu, ia masih meremas ujung bajunya, rasa malu dan tidak enak hati menyeruak dalam dirinya, Namun ia harus berjuang untuk anaknya Nessa.
"Jadi tujuan ibu kesini ada apa? Maaf saya tidak bisa lama-lama, harus pergi untuk mengurus salon baru saya."
"Anu Bu.. ini masalah anak saya Nessa."
Seperti sudah tahu kemana arah pembicaraan Marni, Siska hanya menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan perlahan.
"Kata Nessa, ia belum mendapatkan kiriman dari ibu Siska bulan ini, apalagi sekarang Nessa sudah tidak tinggal di apartemen lagi. Zara mengusirnya Bu..."
Sebenarnya Siska sudah tahu masalah Nessa, ia juga tidak tega saat Zara merengek pada Ayahnya untuk tidak memberi bantuan uang bulanannya, bahkan Zara mengambil sikap tegas mengusir Nessa dari apartemennya. Siska bisa apa? tidak mau berdebat dengan suami dan anaknya, walau ia bisa saja memberikan uang di belakang Tommy dan Zara, namun Siska tidak mau membangkang suaminya.
__ADS_1
"Sebelumnya saya minta maaf, saya tidak berani ambil keputusan sendiri. Mengenai bulanan uang untuk Nessa, saya harus bicarakan kembali dengan suami saya."
"Loh? memangnya Nisa salah apa ya Bu? kenapa tidak bisa bantu Nessa lagi, lalu bagaimana keadaan Nessa disana? biaya hidupnya sangat mahal sedang saya tidak akan sanggup biayain anak saya disana?"
"Kalau menurut saya, Nessa bisa pindah kuliah di Jakarta agar ibu bisa melihat perilaku dan keadaan Nessa sehari-hari."
"Sebenarnya itu impian Nessa bisa kuliah di luar negeri, ia memiliki harapan besar Ingin mengangkat derajat orang tuannya dan saya sebagai ibunya sangat berterima kasih pada kelurga Pak Tommy dan Bu Siska yang sudah mewujudkan impian anak saya Nessa."
Siska mendesah panjang, ia membuka dompetnya dan mengeluarkan sebuah cek, setelah menulis angka dalam cek tersebut, lalu memberikannya pada Marni.
"Ini ada cek sebesar 30 juta untuk Nessa, tapi ini terakhir kali saya memberikannya. Untuk selanjutnya maaf sekali Bu, saya tidak dapat membantu lagi. Sebenarnya Nessa bisa bekerja sambil kuliah kalau ia mau mandiri, apalagi di New York banyak peluang untuk magang di toko-toko separuh waktu."
Marni tercengang mendengar pernyataan Siska yang tidak mau membantu kebutuhan anaknya lagi. Dengan perasaan sedih bercampur kesal, Marni menerima cek itu.
"Baiklah Bu.. saya akan bicarakan dengan Nessa, besar harapan saya agar Bu Siska mau merubah keputusannya, karena bila Nessa bekerja akan menganggu kuliahnya."
"Saya rasa itu lebih baik, agar Nessa belajar mandiri dari sekarang dan nantinya akan jadi orang sukses. Untuk biaya kuliahnya sudah saya lunasi sampai lulus."
Marni menarik nafas dalam-dalam menahan sesak di dadanya "Kalau begitu saja permisi dulu Bu, terima kasih banyak cek nya."
"Dasar kelurga tonic! cetus Siska setelah Marni keluar dari mansionnya.
***
"Jadi bagaimana Bu..? tanya Nessa di ujung telpon.
"Ibu ada uang sedikit, sudah ibu transfer 5 juta."
"Hah?! hanya 5 juta, mana cukup Bu..! Nessa butuh tempat tinggal, semalam Nessa nginap di penginapan. ibu tahu berapa perharinya? 50 Dolar, kalau di rupiahkan 700 ribu perhari. bukankah ibu kerumah Tante Siska."
"Ingat Nessa, mulai sekarang kau harus mandiri dan carilah kerja. Bu Siska sudah tidak mau membantu biayai hidupmu lagi. Entah apa yang sudah kau perbuat hingga Bu Siska tidak mau lagi memberikan mu uang! seharusnya kau pikirkan dulu sebelum bertindak!"
"Sudah ibu tidak mau dengar keluhan mu lagi, mulai sekarang hiduplah mandiri, jangan buat susah orang tua disini, kalau sampai Bu Siska mencabut semua fasilitas nya, kita harus hidup bagaimana lagi? Ayahmu saja sudah tidak bisa diandalkan, bekas luka bakarnya membuat ia malu keluar rumah dan malas mencari kerjaan lain!"
"Seharusnya ibu bersyukur! karena Bapak kena luka bakar, ibu bisa dapat duit dan makan enak!"
"Sudah! sudah! kau malah ceramahin orang tua, makanya jangan buat masalah disana, kamu sendiri toh yang susah!
Tuuttt.. tuuutt... tuuuttt..
"Ahh sial, malah dimatikan!"
"Ya Tuhan aku harus bagaimana? uang lima juta cukup apa? aku harus terus minta bantuan pada Darren, bukankah selama ini aku selalu memberikan apa yang ia minta?
Esoknya...
Nessa menuggu di sebuah pohon besar diluar kampus, ia berniat ingin bertemu Darren yang masih berada didalam ruangan.
"Hey Ness!
"Kau?! mau apa kesini!" bentak Nessa pada dua orang pria yang menggodanya.
"Jangan jual mahal donk! lihat body mu.. ckckck.. makin montok ajah, sudah berapa banyak Darren memakai mu..?! cetus pria negro itu terbahak.
"Lebih baik main sama kita ajah, pasti gue bayar gak gratis kaya Darren." celoteh teman satunya.
"Brengsek! tutup mulut kalian!" bentak Nessa dan berjalan menjauh.
"Hey Nes! percuma kau tunggu Darren, dia sudah punya selingkuhan baru! teriak Alex pria negro yang selalu menyukai tubuh Nessa.
__ADS_1
"Zara! Nessa melihat Zara keluar dari kampus menuju parkiran. "Aku harus buat perhitungan dengannya!"
"Zara!!! teriak Nessa
"Wah.. wah.. masih punya muka loh manggil gue!"
"Brengsek gara-gara loh hidup gue jadi susah! bentak Nessa bersama gerakan tangannya ingin menampar Zara. dengan cepat Zara menangkap tangan Nessa dan di hempaskan.
"Cewek murahan seperti loh emang pantas dibuang! loh tuh sama ajah dengan ibu loh gak punya malu, meminta sama Mommy gue untuk biayai hidup loh lagi! padahal anaknya disini jadi j4l4ng murahan!
"Tutup mulut loh B4ngs4t!!! sekali lagi loh hina nyokap gue, gue robekin mulut loh itu!!
"Ckckckck.. masih sombong ajah! sudahlah gue udah nggak ada urusan lagi sama loh! Zara membuka pintu mobil, sebelum masuk ia tersenyum puas dan berkata.. "Kau pasti lagi nungguin Darren ya? tapi sayangnya Darren lagi sama cewek tuh di kantin! kasihan deh loh! hahahaha... Setelah terbahak Zara masuk kedalam mobil.
"TIIINNNN... TIIIINNNN...!
"Minggir!! pekik Zara yang melihat Nessa masih berdiri didepan mobilnya.
"Sialan loh Za! awas loh pasti gue balas!! teriak Nessa, ia berjalan menuju kantin untuk membuktikan omongan Zara.
Setelah di kantin, Nessa mencari sosok kekasihnya, alangkah terkejutnya Nessa saat melihat Darren dengan seorang wanita yang tentu saja Nessa kenal. Mereka berdua bersendau-gurau seraya tangannya bertautan
"Lexsi! beraninya dia merebut Darren dariku!" makinya sambil berjalan mendekat.
"Apa-apaan kalian! Nessa mengambil lemon tea diatas meja dan mengguyurkannya pada Lexsi.
Byurrr...
"Aaawww! pekik Lexsi terkejut "Berengsek kau Ness! beraninya menyiram aku!
"Nessa!! bentak Darren "Apa yang kau lakukan pada lexsi!"
"Seharusnya aku yang bertanya? apa yang sudah kalian lakukan disini? kau itu kekasihku Darren! beraninya kau selingkuh di belakang ku! kau tahu bukan? Lexsi itu simpanan om-om!
"PLAKK!
"Jaga ucapan mu Ness! bentak Lexsi seakan puas menampar wajah rivalnya yang sejak dulu ingin mendapatkan Darren.
"Ayo sayang, kita pergi dari tempat ini! Lexsi menarik tangan Darren untuk menjauhi Nessa.
"Darren....!! tunggu..." Nessa mengejar Darren.
"Darren!!! please jangan pernah tinggalkan aku! Nessa menarik tangan kekasihnya yang sudah satu tahun lebih hidup bersama.
Darren berhenti dan menepis kasar tangan Nessa, lalu menatap dalam wajah wanita yang sudah memberikan kehangatan tubuhnya. "Nessa, mulai hari ini, kita bukan lagi sepasang kekasih!
Bagai disambar petir jantung Nessa berdenyut pedih "Ap-apa maksud mu Ren..?! ucapnya dengan mata berkaca-kaca
"KITA PUTUS!! Darren menarik sudut bibirnya dan melangkah pergi bersama Lexsi yang tersenyum penuh kemenangan.
Seketika Nessa ambruk ketanah.
💜💜💜
@Bab nya Lebih banyak 1500 kata. Insyaallah nanti malam up again 😍
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
__ADS_1
@Bersmbung....