Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Keadaan Darurat


__ADS_3

"Tuhan selamatkan nyawaku! batinnya berkata lirih.


"Serang habisi orang itu!" teriak dari salah seorang Genk kalajengking. pria itu sudah pasrah dan menutup matanya saat orang-orang kalajengking berlari kearahnya dengan menggenggam pedang lalu menghunuskan kearah tubuhnya.


BLUSSS!


Seketika ada asap tebal mengelilingi area tempat pria misterius itu berada. Pandangan mereka tiba-tiba gelap, tangan mereka mengibas-ngibaskan asap pekat yang terus mengelilingi mereka. Semua kelompok Genk kalajengking terbatuk-batuk seraya memuntahkan darah segar dari mulutnya dan mereka terus memegangi dada dan lehernya yang terasa panas.


"Brengsek! Ada yang menebarkan racun awan pekat! Mundur semua! teriak pria yang berada di tengah-tengah mereka. "Dan menjauh lah dari tempat ini! Sebagian sudah ada yang muntah darah dan kejang-kejang, lalu mati terkapar. Sebagian lagi masih bisa bertahan dengan sia-sia tenaganya, lalu menjauh dan menyelamatkan diri.


"Dari mana sumber asap pekat ini berada? kenapa tiba-tiba sudah ada di sekitar kita." seorang kaki tangan kalajengking berkata pada anak buahnya. "Tunggu! dimana pria yang tadi mengacaukan rencana kita, bukankah kalian sudah menancapkan pedang ke tubuhnya?!


"Tidak ada Ketua! pria itu tiba-tiba menghilang bersama datang nya asap pekat tadi!" lapor anak buah kalajengking.


"Sialan! sial.. sial... kita kecolongan lagi! pekik pria bertubuh tinggi tegap itu penuh amarah. "Cari tahu siapa pria itu!"


***


Devan terus mundar-mandir di depan ruangan UGD. sesekali matanya menatap jam yang berada di pergelangan tangannya.


"Sudah hampir 2 jam Safira di dalam ruangan UGD, namun belum ada tanda-tanda Kalau ia akan selamat! CK! Devan berdecak frustasi seraya menyugar rambut ke kebelakang.


"Ya Tuhan selamatkan Safira!" gumamnya lirih dan duduk di kursi penunggu dengan gelisah.


"Mas Dev! minumlah dulu." Pak Yanto menyerahkan botol berisi air mineral pada Devan yang terlihat gelisah. Dev menerima botol berisi air putih dan meneguk nya.


Ceklek!


Suara pintu ruangan UGD terbuka lebar, keluar sosok dokter tinggi tegap. Dev yang sedang duduk langsung berdiri dan menghampirinya.


"Bagaimana keadaan Safira, Dok? tanya Devan gusar dan terlihat tak sabar menunggu hasil pemeriksaan medis.


Dokter Irvan mendesah pelan dan membetulkan kacamata minusnya "untung Nona Safira tidak sampai dalam lukanya dan hampir saja mengenai ususnya. Beruntung Tuan Dev membawanya segera kemari dan langsung kami tangani.


"itu artinya Safira selamat?


Dokter Irfan mengangguk pelan "iya!


Devan bisa bernafas lega "Syukurlah akhirnya aku tidak terlambat membawa Safira ke rumah sakit."


"Apa aku boleh melihat keadaannya?!

__ADS_1


"Boleh saja, tapi.. tunggu suster membawanya keruangan rawat inap dulu."


"Baiklah..!"


***


Suara sepatu pantofel berjalan dengan cepat melewati lorong rumah sakit yang panjang, suara langkah panjang itu terdengar nyaring dan berisik.


"Dimana Dokter!!! teriak seorang pria yang datang terburu-buru sambil menggendong seorang wanita dalam dekapannya.


"Dimana semua Dokter! sekali lagi pria itu berteriak lantang.


pengunjung yang melintasi lorong itu terlihat heran dan bingung dengan kedatangan Pria yang tiba-tiba berteriak. Pria itu tidak perduli dengan tatapan pengunjung yang mulai ramai berdatangan.


Devan yang masih menunggu Savira di depan ruangan UGD, seperti mengenal suara orang yang sedang berteriak-teriak itu. Ia ikut penasaran dan beranjak dari tempat itu, lalu berlari kearah asal suara itu.


"VANO!!! pekik Dev melihat dari jarak lima meter, ia berjalan tergesa "Ada apa dengan Vana?! Dev melihat wajah dan tubuh Vana yang sudah berlumuran darah "Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi dengan Vana? Dev sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang sudah ia lihat.


"Cepat panggilkan Dokter! seru Vano.


"Ada Dokter Irvan di ruangan UGD, biar aku bantu gendong Vana."


"Dokter Vana? apa yang terjadi Tuan?" tanya dokter Irfan. Vano tidak menggubris pertanyaan dokter Irfan, ia langsung menerobos masuk kedalam ruangan UGD melewati Dr Irfan dan menaruh tubuh sang adik keatas brangkar.


Seketika tiga orang dokter sudah datang kerungan UGD dan mulai memeriksa keadaan Vana di bantu oleh suster.


"Maaf Tuan Zevano, lebih baik anda beristirahat dulu, lihat pakaian anda penuh noda darah. Masalah Dokter Vana biar Kami yang tangani."


"Vano kau juga terluka? lihat punggung mu banyak noda darah." Dev terkejut dengan mata membola.


Dokter Irvan mulai melihat ke area punggung Vano, ia pun sama terkejutnya dengan ekspresi iba "Tuan! anda juga harus segera di tangani, ini tidak bisa dibiarkan!" ujar Dr Irvan prihatin.


"Selamatkan dulu adikku! dia lebih penting dari pada aku!


"Dokter Arman, bisa bantu aku tangani tuan Zeva, punggungnya juga terluka." seru Dr Irvan.


"Dokter Vana harus secepatnya ditangani, ia banyak kehilangan darah!"


keadaan semakin panik, Dr Irfan mulai menghubungi dokter lainnya yang masih berada di ruangan operasi, dan ada yang di ruangan praktek masing-masing.


"Ayo tuan kita kerungan sebelah, Ada Dokter Nella yang akan membantu menangani luka anda."

__ADS_1


"Tidak usah! aku akan tetap di sini sambil menunggu keadaan adikku, dan melihat dia baik-baik saja."


"Tapi Tuan, alangkah baiknya anda harus segera di obati di ruangan Dokter Nella, pasti Tuan Zevano lelah bukan."


"Van! Dev menepuk pundak sahabatnya yang terlihat sedang kalut itu. "Apa yang dikatakan oleh dokter Irfan benar, lebih baik kita Percayakan Vana pada mereka semua. Bukankah dokter di sini sangat profesional. Kau juga harus segera di obati, punggung mu banyak luka, sobekan kemeja di punggung mu sudah banyak terkoyak.


Vano menarik nafas dalam-dalam, lalu ia melihat tiga dokter yang baru datang tadi sedang menangani Vana.


"Baiklah! ucapnya lemah, tubuh Vano terlihat lesu, wajahnya sangat pucat dan kusut. sangat jelas ia begitu frustasi dan tertekan. Vano berjalan kearah pintu di ikuti Devan. lalu ia memutar tubuhnya dan menatap dokter Irfan "Selamatkan adikku! lakukan yang terbaik untuk atasan kalian, bila tidak, kalian tanggung resikonya dan kalian akan aku pecat dari rumah sakit ini! ancam Vano dengan tatapan intimidasi.


"Ba-ik Tuan, akan Kami usahakan semaksimal mungkin dan berusaha menyelamatkan nyawa dokter Vana." ucap dokter Irfan terlihat gugup dan di anggukan oleh tiga dokter lainnya.


Dengan langkah cepat Vano berjalan keluar menuju ruangan dokter Nella. Tiba-tiba kaki Dev berhenti dan baru teringat keadaan Savira. "Astaga, aku sampai lupa melihat keadaan Savira. Tadi tidak ada di ruangan UGD, pasti sudah di pindahkan kerungan perawatan."


"Lebih aku temani Vano dulu, baru nanti menemui Savira. Vano juga butuh pertolongan dan ia sangat tertekan." Dev kembali mengikuti langkah Vano yang mulai tertinggal, lalu masuk ke ruangan dokter Nella ahli bedah.


"Tuan Zevano, silakan!" Dokter Nella mempersilahkan Vano tengkurep diatas ranjang pasien. Ia langsung menangani luka punggung Vano yang terkena senjata tajam dan di bantu dua orang Suster.


Sesekali Vano meringis menahan perih saat dokter Nella membersihkan luka Vano yang menganga. "Sepertinya luka ini sangatlah dalam. Tuan Zeva harus segera di operasi untuk menjahit luka ini."


"Apa tidak ada cara lain selain di operasi?"


"Luka mu sangat parah Van. luka sangat dalam dan panjang, dari bawah leher hingga ke pinggang. ini sangat berbahaya kalau tidak segera di jahit. Masih ada darah yang keluar juga darah yang sudah mengering." ujar Dev menjelaskan secara mendetail, sebab Ia melihat sendiri luka yang dialami sahabatnya.


Akhirnya Vano menyerah dan mengangguk pasrah. Dokter Nella mulai mempersiapkan untuk operasi kecil. Dua orang Suster meminta Vano duduk di kursi roda, Namun Vano menolaknya. Dengan di bantu Dev, ia berjalan menuju ruangan operasi. Vano menunggu diluar ruangan operasi dengan perasaan was-was. Tiba-tiba , datang seorang Dokter yang berlari kearah Dev.


"Di mana Tuan Zevano." tanya Dokter yang di nametag nya tertera nama Dr Yudha.


"Ada di ruangan operasi, dokter Nella sedang menjahit punggung Pak Zeva, karena ia juga terluka parah." Dev menatap manik mata dokter muda itu dengan perasaan gundah.


"Waduh gawat! cetusnya seraya memegang tengkuk nya yang mulai meremang.


"Memang nya ada apa?! tanya Dev penasaran


"Dokter Vana, kehabisan darah dan ia sedang masa kritis. Hanya tuan Zevano yang bisa menolongnya, karena mereka kembar. Sudah pasti darah mereka berdua sama."


"Ap-apa?! Vana kritis kehabisan darah!" Dev melonjak kaget, lalu ia berlari keruangan UGD meninggalkan Vano di ruangan operasi.


💜💜💜


@Maaf telat update sayang...🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2