Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Ternyata Masih Mencintai


__ADS_3

Kini Vana berdiri di tengah-tengah papan bulatan, tubuhnya bergerak kesana-kemari minta di lepaskan, ia terlihat sangat seksi memposona. Anak buah dari pria itu juga mengikat kedua kaki Vana hingga ia tidak bisa bergerak. Suara hiruk pikuk semakin terdengar riuh, mereka tampak antusias setelah beberapa orang membawa busur untuk memanah. Vana membulatkan matanya sempurna.


"Permainan gila apa yang akan mereka mainkan?! jerit Vana dalam hati.


Pria berperawakan tinggi tegap berjalan mendekati pria bertopeng Joker, sama persis dengan dirinya.


"Apa kau ingin melakukannya Leon?" tanya pria di sampingnya seraya menyerahkan panah dan busur ke tangannya. Pria itu terdiam dan terus menatap dalam wajah Vana.


"Lakukanlah sekarang! paling tidak kau lukai bagian tubuhnya!" bisik Pria di sampingnya dengan suara dingin.


Melihat Nathan bergeming, membuat pria itu kesal "Kalau kau tidak bisa melakukannya, biar aku saja! tukasnya kesal menarik kasar busur dan panahnya.


"Aku akan melakukannya sekarang, kak! Nathan menarik kembali busur dan panah itu dari tangan sang kakak. Kedua tangannya terangkat dan mengarahkan busur dan panah itu kearah Vana berdiri. Ia mulai membidikkan panah dan mengambil ancang-ancang. Gadis cantik berbulu mata lentik itu gelengkan kepala. Seketika jantung Nathan berdesir hebat, hatinya begitu pedih dan sakit saat melihat gadis yang pernah ia cintai berdiri didepannya untuk ia lukai. Vana seakan memohon padanya agar Nathan tidak melakukannya, dan terlihat dari sorot netra coklatnya.


"Ma'afkan aku Alea, kau adalah masa laluku. Disaat aku terpuruk oleh sikap Ayahmu yang arogan, ia telah membuatku hampir mati terkubur oleh tanah. Hanya karena kesalahan ayahku di masa lalu, haruskah kelurgamu membenci diriku? bahkan semua pengorbanan ku sia-sia di mata Ayahmu! bila aku boleh memilih, aku tidak pernah minta dilahirkan dari darah seorang pria bernama Thomas! Namun, pada akhirnya kelurga ku sendirilah yang telah menyelamatkan nyawaku!" batinnya lirih, darah Nathan bergejolak saat mengingat kejadian tiga tahun silam. Disaat bersamaan butiran bening menetes dari balik topengnya.


"Lakukan sekarang Nathan! jangan jadi Pria pengecut!" seru Matthew masih berbisik, lalu menatap tajam kearah wajah Nathan yang tertutup topeng.


Tangan Nathan gemetar saat busur itu mulai ia arahkan kedepan, ia melihat mata Vana terpejam, ada raut kekhawatiran yang terlihat jelas. Suara sorak-sorai para tamu undangan begitu riuh untuk menyemangati si pemanah.


"Seeettt!


Panah melesat cepat dan tertancap di atas kepala Vana. Demi Tuhan, ia tak tega melihat wanita yang pernah mengisi hatinya ketakutan, walau ia percaya Vana wanita yang kuat dan tegar. Suara gemuruh tepukan tangan terdengar riuh di dalam ballroom.


Nathan hampir saja terkulai lemas. Ia bernafas lega dan berucap syukur dalam hati melihat Vana baik-baik saja, sebenarnya ia tidak ingin mengikuti ide gila kakak tirinya. walau bagaimanapun juga Vana adalah orang pertama yang pernah mengisi hatinya. Namun, ia tak berdaya untuk menolak keinginan Matthew, karena berhutang nyawa padanya.

__ADS_1


"Apa kau ingin melakukannya lagi?! tanya Matthew seakan belum puas mempermainkan perasaan adik tirinya pada mantan kekasihnya. Nathan menoleh dan gelengkan kepala.


"Baiklah, kini giliran ku! ucapnya, sudut bibir Matthew terangkat dan tersenyum puas seraya mengambil busur dan panah dari tangan Nathan.


"Kita lihat, siapa yang lebih baik darimu Nathan! aku ingin kau menangis darah saat melihat wanitamu terkena anak panah ku! batinnya tertawa jahat.


Matthew mulai mengangkat busur panahnya dan ia arahkan kedepan, dimana Vana berdiri. ia membidikkan anak panahnya dan melesat dengan cepat, berharap anak panahnya melukai tubuh mulus musuh bebuyutan Ayahnya.


"Seeettt!


"Ahh, SIAL!!! tidak tepat sasaran! pekik Matthew. "Sungguh malam ini adalah keberuntungan untukmu Nona!" maki Matthew dalam hati.


Nathan menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskannya perlahan, ia bernafas lega, anak panah itu tidak mengenai kulit wanita yang masih ia cintai dan meleset tepat di samping wajah cantik Vana.


"Kita akhiri saja permainan ini kak! bisik Nathan, berusaha membujuk Matthew.


Nathan terdiam, ia tidak bisa berontak apalagi melarang kakak tirinya yang benar-benar sudah diluar batas. Kalau bukan karena surat perjanjian yang dibuat David. ia sudah menjauh dari kehidupan Matthew.


Matthew mengangkat busur panah kedepan dan mulai mencari celah agar tidak gagal lagi. ia begitu fokus mengarahkan anak panahnya tepat di bagian jantung Vana. Matthew benar-benar sudah gila, ia ingin anak keturunan Reno mati hari ini juga dan akan membuat alibi, kalau itu hanyalah sebuah permainan. Jiwa sikopat Matthew mulai muncul. Nathan yang berdiri di samping pria yang sudah mendonorkan darah padanya, mulai terlihat gelisah dan gusar. Energinya seakan bangkit kembali saat ia tahu kemana arah busur panah itu akan melesat.


"Kali ini kau tidak akan aku biarkan lepas! kau harus mati ditangan ku Zevana Mahesa. Aku sudah bertahun-tahun mengincar mu dan ingin musnahkan anak dari musuh Daddy ku!


Tangan kekar Matthew mulai melepas anak panahnya bersamaan jantung para tamu yang ikut berdebar menanti apa yang akan terjadi. Vana yang masih berdiri dengan kedua tangan terikat berteriak didalam hati, sekujur tubuhnya berkeringat dingin dan merasakan hidupnya akan berakhir. Seketika Vana berteriak memanggil nama Mommy dan Daddy nya dalam hati, terlintas ada terbayangan wajah kedua orang tuanya.


Anak panah yang Matthew luncurkan melesat dengan cepat. Nathan berlari secepat kilat dan menangkap anak panah yang di tembakan Matthew kearah jantung Vana. Namun, sebelum anak panah itu tembus ke-jantung mantan kekasihnya. Nathan sudah lebih dulu menangkap nya

__ADS_1


"Seetttt...!!!


Anak panah itu sudah berada dalam genggaman tangan Nathan. Saat ia membuka genggamannya, anak panah di telapak tangannya sudah mengeluarkan darah. Anak panah itu terbuat dari besi yang ujungnya sangat lancip dan tajam. Bila mengenai dada Vana langsung tembus ke jantung.


Matthew sangat geram pada Nathan yang sudah menggagalkan rencananya. Ia menatap bengis pada adik tirinya, ternyata perkiraan ia salah tentang Nathan yang masih menyimpan persaan cinta pada anak dari musuh Ayahnya.


"BRENGSEK KAU NATHAN!! makinya dalam hati, dengan tangan terkepal kuat. "TIDAK SEHARUSNYA AKU MEMBERIKAN DARAHKU UNTUK MU! KAU ADALAH BONEKA KU! SUDAH SEHARUSNYA KAU MENGIKUTI KEMAUAN KU BRENGSEK! AKU HARUS MENCAPAI TUJUANKU!" Matthew terus mengumpat dalam hati. Dengan perasaan kesal dan amarah yang menggebu-gebu ia pergi dari ballroom itu.


Nathan bernafas lega. Semua tamu undangan yang menyaksikan aksi Nathan hanya tercengang dan menatap kagum. Mereka berpikir itu adalah sebuah pertunjukan yang sudah di setting.


"Tuan! tangan anda terluka!" pekik Austin.


"Perintahkan mereka untuk melepaskan gadis itu! dan ingat, jangan ada satupun yang berani menyentuhnya apalagi sampai melukainya!" ancam Nathan dengan suara berat


"Baik tuan!"


Austin perintahkan bodyguard yang sejak tadi berdiri di samping Vana, untuk melepaskan semua ikatannya dan mengancam agar tidak melukai Vana. Setalah memberikan perintah, Austin membawa Nathan pergi untuk memberikan pertolongan pada tuannya.


💜💜💜


@Kadang Reader tidak sabar ya... padahal belum tahu kelanjutannya sudah trafeling kemana-mana...😅🥴


Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76

__ADS_1


@Bersmbung


__ADS_2