
"Apa kau mau ikut keatas, atau menunggu di sini!" tanya Vano mengalihkan pandangan ke wanita tersebut.
Sabrina menoleh seraya menatap tajam kearah Reno. "Huft! Kau masih saja meragukan kemampuanku, Tuan Reno!" cetus Sabrina kesal, lalu ia melangkah lebih dulu berjalan di depannya.
Reno hanya gelengkan kepala "Ayo kita bergerak!" perintah Reno pada Aldo dan bodyguard nya.
Mereka mulai bergerak dengan langkah kaki panjang menaiki bukit. Tanjakan yang terjal dan berliku tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus maju. Untungnya mereka sudah memakai sepatu kets bukan pantofel yang membuat mereka susah untuk bergerak.
"Berapa lama lagi kita sampai atas? Reno bertanya pada Aldo yang membawa ransel di belakang punggungnya.
"Sekita satu kilometer, perjalanan kita saja baru tiga ratus meter. Masih jauh untuk sampai di lokasi."
Reno mendesah panjang "Zidane, semoga kau baik-baik saja Nak, ma'afkan Daddy yang telah meninggalkan mu di mansion. Seandainya Daddy tahu kau akan di culik, pasti Daddy akan membawa mu ikut serta." sesalnya dalam hati.
Reno pria matang yang banyak melalang buana di jagat dunia hitam. Raja mafia se-Asia yang banyak di segani dan di takuti kalangan elite pembisnis dan politik. Sebenarnya Reno sudah pensiun sebagai Mafia kelas kakap dan mengundurkan diri semenjak Delena membunuh Thomas. Sang istri meminta Reno untuk tinggalkan dunia hitam yang penuh kekejaman. Delena tidak ingin suaminya menjadi pembunuh berdarah dingin. Reno memutuskan rantai dari akar permasalahan dan tidak ingin lagi berurusan dengan dunia hitam. Lagi-lagi Reno harus kembali ke dunia yang penuh darah demi menyelamatkan keluarga dan anak-anaknya dari tangan-tangan kelompok genk mafia yang ingin menghancurkan keluarga nya.
"STOP!
Sabrina menghentikan langkahnya di ikuti yang lain.
Reno mengeryitkan dahinya "Ada apa Sabrin? kenapa kau hentikan langkah kami?!" tanya Reno.
Sabrina menaruh jari telunjuk di bibirnya "Ssstttt..! lalu menunjuk kearah semak-semak yang bergerak.
"Sepertinya kedatangan kita sudah disambut." bisik Sabrina pada pria yang selalu berpenampilan cool dan Perfeksionis, kapan dan dimana pun. Mata Reno mengikuti arah telunjuk Sabrina, lalu ia mengangguk dan mengerti.
Seketika semua berjalan mundur, mengikuti arahan Reno. Sabrina menajamkan pendengarannya. Tiba-tiba dari semak-semak loncat seekor binatang hitam legam dan langsung menyerang. Sabrina yang posisinya di depan hampir saja terjatuh ke bawah bukit, yang bila terjatuh lumayan dalam. Untung saja, Reno yang berada di belakangnya menahan tubuh Sabrina agar tidak terjatuh.
"Kau tidak apa-apa? tanya Reno, menatap dalam netra coklat Sabrina. wanita itu menatap balik wajah tampan pria yang sedang menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Aroma maskulin menguar dari tubuh Reno yang membuat Sabrina terpana.
"Awasssss!
Teriak stive saat binatang hutan itu menyerang kearah Reno dan Sabrina. Dengan sigap Reno menarik tubuh Sabrina ke belakang punggung lebarnya. Secepat kilat Reno menendang telak babi hutan itu hingga tersungkur ke tanah.
"Thank brother! setu Sabrina
Binatang liar itu tak menyerah ia bangkit dengan wajah menyeringai dengan dua taring di kanan dan kiri hidungnya. Reno siap bertarung dengan tangan kosong. Babi hutan itu berlari kearah Reno, namun, belum sempat Reno melawan, Sabrina melompat dan melayang dari belakang tubuh Reno, lalu menghunuskan belati tajam ke tubuhnya dengan membabi buta. Suara erangan babi hutan itu terdengar menyayat, hingga tersungkur bersimbah darah di tanah.
"Impas bukan? aku tidak punya hutang budi padamu!" Sabrina menarik belatinya seraya tersenyum puas. Reno yang menyaksikan wanita tangguh itu hanya terkekeh.
"Semoga keberuntungan selalu bersama mu." tukas Reno, menaikan satu alisnya.
Stive dan keempat bodyguard tercengang melihat wanita tangguh berwajah cantik itu membunuh babi hutan dengan sekali hunus.
"Wanita yang kuat! gumam Aldo pelan, seraya menatap wanita berwajah Jepang itu
__ADS_1
"Ayo jalan! perintah Reno. Reno menoleh kearah asistennya yang hanya bengong tanpa mengikuti langkahnya.
"Hey! apa yang sedang kau pikirkan. Apa otak mu sedang traveling?! baiklah, kau tunggu disini saja."
Mendengar suara tuan nya, Stive menarik atensinya dari wajah Sabrina "Heh.. tidak tuan, saya ikut!" Pria berusia 32 tahun itu melangkah cepat agar tidak ketinggalan.
Menempuh perjalanan yang menanjak dan di penuhi tanaman merambat juga pepohonan tinggi yang menjulang sungguh melelahkan, Namun tidak bagi Reno dan Sabrina yang sudah terbiasa menempuh perjalanan jauh. Svite selalu ketinggalan, terkadang ia berhenti sejenak untuk menepis rasa lelahnya. Nafasnya tersengal, keringat jagung keluar deras dari pori-pori kulitnya.
"Steve lama sekali jalannya. Cepatlah waktu kita tak banyak."
"Sebentar Tuan, saya ngaso dulu." ucapnya dengan nafas naik-turun.
Reno melirik angka jarum jam di pergelangan tangannya "Sudah pukul dua dinihari."
"Ren! sepertinya suasana disini tidak bersahabat. Apa kau tidak merasa aneh dengan cuaca malam ini?! Sabrina berseloroh, matanya terus menyoroti keadaan sekitar.
"Sejak tadi aku juga merasakan energi negatif. Sepertinya mereka sudah tahu akan kedatangan kita."
"Waspada lah! ucap Vano pelan.
Sabrina mengangguk
"Sebentar, Steve membawa laptop untuk melacak keberadaan anakku."
Steve yang nafasnya tersengal-sengal berjalan cepat kearah Reno "Apa anda butuh minum?!
Reno menaikkan satu alisnya seraya gelengkan kepala "Aku tidak haus! tukasnya datar.
"Apa Nona..."
"Tidak! saya tidak haus! potong Sabrina.
"Steve! cepat kau lacak keadaan tempat ini, berapa lama lagi kita sampai atas, dan di mana posisi Zidan di sekap."
Steve melepas tas ranselnya dan mengambil laptop dari dalam ransel. ia mulai mengaktifkan laptop dan mencari pengaturan tentang daerah yang sedang ia tuju. Laptop canggih itu sudah di rancang khusus hingga apa saja yang berada di dekatnya akan terdeteksi.
"Tuan, lihat ini! Steve memperlihatkan layar monitor kearah Reno. "Lihat tanda merah ini, sepertinya mereka menaruh jebakan di setiap sudut tempat ini."
"Sial! ternyata mereka lebih licik daripada belut! seru Reno geram dengan tangan mengepal kuat.
"Lebih baik kita berpencar Ren! kalau kita bersama mereka akan mudah melacak keberadaan kita di sini!"
Reno manggut-manggut "Kau cerdas juga. Ternyata aku tak salah meminta mu jadi partner kerja!"
Wanita itu lagi-lagi berdecak "Jangan coba merayuku Tuan Reno. kepala mu nanti hilang!" seloroh Sabrina melipat tangannya di dada.
__ADS_1
Reno hanya tergelak melihat wanita itu bertambah galak, Namun di mata Steve terlihat mempesona.
"Steve! panggil Reno, yang melihat asistennya Sejak tadi banyak melamun.
"Kenapa kau tidak fokus. Tidak seperti biasanya!"
"Hehehe... " pria itu hanya terkekeh.
"Coba kau lacak dimana saja ia menaruh jebakan!"
"Sebentar! Steve mulai mengutak-atik laptop di depannya. "Ada banyak yang tersebar. Tapi bagaimana kita berpencar kalau laptop ini hanya ada satu."
"Aku ada camera canggih di dalam jam tangan ku. Jam tangan ini di rancang khusus untuk mendeteksi apa saja. Tapi, aku tidak tahu sampai mana kekuatan sistem nya."
"Berikan jam tangan anda Tuan, saya akan memprogram nya dan mengaktifkan akses baru agar sistemnya bisa melacak benda asing di sekitar kita."
Reno tersenyum tipis "Good job! aku sangat suka dengan cara kerja mu. kau sungguh jenius Steve!" Reno terlihat bangga pada Asisten nya yang bisa di andalkan.
Setelah mengakses jam tangan milik Reno buatan madein Jerman limited edition, Steve mengembangkan pada Reno "Sudah selesai."
"Baiklah, sekarang kita berpencar. Sabrin, kau bersama Steve dan satu orang bodyguard. Aku bersama dua orang bodyguard."
"Tidak, aku lebih baik sendiri. kalian bisa jalan berempat."
"Ck! kau selalu saja keras kepala, ingat Sabrin, kau seorang wanita."
"Aku paling tidak suka di remehkan! Sabrina mencabik. "Aku punya nyali!"
"Aku tahu kau wanita kuat dan tangguh, tetap saja aku tidak bisa biarkan wanita sendiri."
Sabrina menarik nafas dalam, lalu dihembuskan kasar "Oke, aku bersama Steve!"
Steve yang sedang merapikan laptop kedalam ransel, mengangkat wajahnya, ia tersenyum bahagia "Akhirnya bisa berdua." batinnya terkekeh.
"Okay! sekarang kita berpencar. Aku arah barat, Steve dan Sabrin arah timur." Mereka berdua mengangguk dan mulai melangkah terpisah.
💜💜💜
@Asisten Reno yang baru bukan Aldo ya All, nama nya Bunda ganti jadi "Steve"
Jangan lupa follow IG dan tiktok bunda ya All, Agar Bunda lebih semangat Up nya.
Oiya, ma'af tadi Bunda salah upload 😁🙏
@Bersambung
__ADS_1