
Sebuah sedan hitam yang tadi mengejarnya terbalik dan menghantam trotoar hingga menimbulkan ledakan dan asap hitam. Mobil besar yang menolong Vana pergi begitu saja setelah membantu Vana. Ia melaju dengan berlainan arah.
"Siapa mereka..? kenapa mobil itu menolong aku? Apa dia mengenal aku? aku tidak melihat nomor plat mobil itu." Zevana menghela nafas lega "Siapapun dia yang telah menyelamatkan nyawa ku, aku sangat berterima kasih. Semoga suatu saat aku bisa bertemu dengannya."
Vana melajukan mobilnya kembali menuju mansion.
Setengah jam kemudian mobil sudah berhenti di depan gerbang yang menjulang itu. Vana turun dari mobil karena melihat di depan teras mansionnya begitu banyak orang-orang.
Seorang sekuriti yang melihat kedatangan Vana membuka gerbang besi itu.
"Ada apa ini Pak?! tanya Vana panik
"Mbak sari yang bekerja disini mati mengenaskan, jantung dan ususnya hilang. Jari kaki dan tangannya putus. Perbuatan mereka sangat sadis! seru sekuriti.
"Apa...?! Vana membekap mulutnya tak percaya. "Berarti apa yang mereka katakan adalah benar!" Vana berlari dan meninggalkan mobilnya di depan gerbang. Ia mendekati sebuah peti yang berisi mayat Asisten rumah tangganya yang sudah bekerja cukup lama.
"Ya Tuhan! pekik Vana. saat melihat mayat ART nya dalam kondisi mengenaskan.
"Vana...?! seru Vano dan berjalan mendekat.
"Kakak! Vana memeluk kakaknya "Kenapa telepon kakak, Mommy, Savira dan Zidan tidak bisa di hubungi?
"Sepertinya ada yang mempermainkan kita. Mereka mulai ingin menunjukkan kekuasaan nya dengan cara menteror dan membunuh Asisten rumah tangga kita."
"Aku tahu pelakunya!" Vana menarik kepalan dari dada bidang sang kakak.
Vano mengeryitkan keningnya "Kau tahu darimana?!
"Aku di teror saat berada di rumah sakit. Seseorang telah mengirimkan potongan jari tangan dan ususnya. Bahkan ruangan laboratorium ku di BOM oleh mereka!"
Vano tersentak kaget "Kenapa kau tidak buru-buru menghubungi ku!"
"Sudah ku bilang, semua ponsel kelurga tidak bisa di hubungi!"
"Berarti sudah ada yang menyadap mansion kita!"
"Dimana Mommy dan lainnya..?!
"Mommy tampak syok melihat keadaan Mbak Sari, ia sedang istirahat bersama Vira. Daddy sedang berada di Jerman, gradpa sakit. Zidan sudah tidur, ia tidak tahu kejadian ini!
"Kak ini ada hubungannya dengan USB yang aku temui saat di rumah Oma."
"Darimana kau tahu? kejadian itu sudah cukup lama, saat usia kita 12 tahun."
"Pria yang menteror ku itu yang bicara, dia bahkan tahu kalau aku yang menemukan USB itu, dia bilang berisi pembantaian masal dan harta Karun."
Vano mengusap wajahnya kasar "Berarti mereka menuntut kita untuk mengembalikan USB itu!
"Apa kakak masih menyimpannya..?!
"Aku melupakan USB itu, aku taruh dimana?!" Vano terus berpikir dan mengingat USB yang ia taruh di suatu tempat.
__ADS_1
"Mas Vano.." seorang satpam setengah berlari. "Bagaimana dengan mayat Mbak sari? apa kita akan melakukan otopsi atau langsung di kuburkan."
"Tunggu pak! bagaimana awal kejadian ini? dan siapa yang membawa mayat Mbak Sari kesini!" tanya Vana penasaran.
"Tadi siang Mbak Sari izin Ingin ke supermarket untuk membeli makanan ringan dan Chiki untuk dek Zidan. Sampai menjelang malam tidak juga pulang. Kami semua panik dan khawatir, terutama Nyonya Delena. Ponselnya pun tidak bisa di hubungi. Tak berapa lama Mas Vano pulang. Sekitar jam delapan malam ada sebuah mobil melintas di depan gerbang. Kami pikir mereka numpang parkir. Tadinya saya mau tegur, saat saya membuka gerbang mobil itu sudah berlalu. Setelah kepergian mobil itu, saya melihat ada sebuah peti."
Vana menarik nafas panjang "Aku nggak tega melihat tubuh Mbak sari kak! seketika Vana menangis terisak "Mbak Sari sangat baik dan telaten mengurus Zidan. Sungguh biadab perbuatan mereka!" hiks... Vano memeluk adiknya dan menenangkan "Sudah jangan bersedih Dek, kita akan balas perbuatan mereka! Vano mengusap lembut kepala adiknya.
"Pak! segera makam kan dengan layak Mbak Sari, dan kabari kelurganya di kampung. Aku akan memberikan kompensasi untuk keluarga nya."
"Baiklah Mas!"
"Ayo kita masuk dek, kita bicarakan semua ini di dalam."
Vano merangkul pundak adiknya dan berjalan masuk kedalam mansion.
"Mommy..."
"Zee.. kau pulang nak? tanya Delena lemah.
Vana menghampiri sang Mommy dan duduk di sampingnya "Mommy tidak apa-apa kan?"
"Mommy hanya tidak tega melihat nasib Mbak sari, padahal dia gadis yang baik dan tekun bekerja. Siapa orang yang sudah tega dan jahat padanya?" Delena masih terisak
Vana mengusap punggung sang Mommy "Kita doakan semoga Mbak Sari tenang di alam barzah. Vana janji akan mencari pembunuh sebenarnya. Mommy yang sabar ya.."
"Hati-hati dalam bertindak sayang.." ucap Delena memperingati.
"Vir.. kamu istirahat saja, ini sudah malam. Oiya kamu sudah bekerja di kantor Daddy ya. Selamat ya semoga kamu betah menghadapi kakak kita yang digin ini!" Vana melirik Vano.
"Iya Kak! ya sudah aku ke kamar dulu. Mom, apa mau Vira antar ke kamar?"
"Tidak usah! kaki kamu saja masih sakit. Mommy di antar Vana saja."
"Iya Mom! Savira mencium pipi Delena, lalu berjalan kearah kamarnya.
"Kak, aku antarkan Mommy dulu. Nanti aku menyusul ke kamar kakak!
"Okay..."
Sementara Vana merangkul pinggang sang Mommy menaiki lift.
Sebelum masuk ke kamar, Savira berjalan menuju dapur untuk mengambil botol air. Tanpa sengaja Savira bertemu Vano di dapur, Vano membuka pintu kulkas dan mengambil minuman kaleng. Savira yang enggan bertemu dengan Vano membalikkan tubuhnya ingin meninggalkan dapur.
"Kenapa menghindar! tukas Vano seraya membuka tutup kaleng dan meneguknya.
Savira yang sudah melangkah beberapa kaki seketika berhenti dan memutar tubuhnya. "Saya hanya tidak ingin kehadiran saya membuat anda tidak nyaman!" cetus Savira
Vano tergelak "Terlalu mengada-ada. kau setiap hari akan terus bertemu dengan ku, Vira.." Vano berjalan kearah Savira dan menunduk melihat kaki Savira yang terlihat masih bengkak. "Kakak minta Ma'af, sudah membuat kakimu keseleo karena terburu-buru mengejar." ucapnya merasa bersalah.
"Tidak usah minta Ma'af, ini juga salahku yang tidak hati-hati! tukas Savira, seraya berjalan meninggalkan Vano dengan perasaan kesal.
__ADS_1
Didalam kamar, Vana menutup selimut untuk sang Mommy. "Sekarang Mommy tidur ya, Vana harus menemui kak Vano."
"Bisa temani Mommy sayang... Mommy masih syok. Kalau ada Daddy mommy pasti tenang."
"Zee hanya ingin membahas masalah Mbak Sari, malam ini juga Mbak Sari harus di kuburkan, kasihan mayatnya."
"Baiklah, nanti balik lagi temani Mommy."
"Iya Mom!
Vana keluar dari kamar Delena dan berjalan kearah kamar Vano yang masih berada di lantai dua.
"Ceklek!
Krekkk...."
"Kak!"
"Masuk Van!"
"Kakak sedang apa..?!" tanya Vana yang melihat kakaknya sedang berkutat di depan laptop.
"Ternyata benar, mansion kita ada yang menyadap! pasti orang-orang ini sudah mengintai aktivitas kita!"
"Berarti kelurga kita terancam! apakah ini perbuatan Genk kalajengking?!
"Kakak sedang melacak dan meretas mereka yang ingin membobol password dan pertahanan keamanan yang sudah kakak buat!
Vana duduk di samping sang kakak sambil terus menyimak.
"Brengsek! mereka berhasil membobol pertahanan kita!"
"Jadi bagaimana kak..?!
"Mereka telah kembali!" tukas Vano dengan mata tajam menatap layar laptop.
"Bersiaplah! kita akan melawan mereka menggunakan ilmu Ninja bayangan! Vano menoleh kearah adiknya "Kita harus buat startegi, kelompok kalajengking sangat kejam dan beringas, mereka juga sangat kuat."
Vana hanya mengangguk dan mendengarkan startegi yang akan kakaknya buat.
💜💜💜
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
@Bunda mau promosi novel terbaru..
"AKU BUKAN CINDERELLA"
Ayo mampir All.. kisahnya menguras emosi dan airmata loh...
@Bersambung.....
__ADS_1