Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Kelicikan Sabrina


__ADS_3

"Bawa dia! jangan biarkan pria penghianat ini kabur! seru Steve kepada anak buahnya. dua orang pria bertubuh tegap mengangkat tubuh Yanto untuk dibawa ke markas Reno.


"Wah! wah... kau sungguh hebat! langsung mematikan lawan!" seloroh Steve tersenyum kearah wanita di depannya.


"Cih! laki-laki kok penakut! sindir Sabrina dengan gaya cuek dan acuhnya. wanita itu langkah pergi meninggalkan Steve.


"Hey, mau kemana, tunggu!" Steve mengejar Sabrina yang melangkah cepat masuk kedalam villa.


"Ren, luka mu sangat banyak, pasti ini sakit! Sabrina menyentuh pipi Reno yang mulai membengkak.


"kau tidak usah khawatir ini tidak seberapa bagiku, bahkan tubuhku saja pernah mengalami sayatan pedang samurai. Apalagi hanya sebuah pipi yang bengkak." Reno terkekeh


"Tetap saja wajahmu tidak enak dilihat, ketampanan mu berkurang hingga 50%." goda Sabrina menaikkan satu alisnya.


Reno terus terbahak, tidak peduli rasa sakit di wajah dan sekujur tubuhnya.


"Biar aku carikan es batu di dalam villa ini. sepertinya tempat ini terawat walau di luar terlihat menyeramkan. Aku akan cari di dapur."


Tuan...! Steve berlari kearah tuan nya dan ikut terduduk di lantai. "Ya Tuhan... wajah tuan kenapa jadi begini?! pekik Steve.


"Kenapa masih bertanya? sudah tahu wajah nya terluka." cetus Sabrina "Andai saja tadi kita tak terlambat, tidak mungkin Reno mengalami luka seperti ini!


Pria itu menoleh kearah Sabrina "Tadi kan ada insiden ular itu, belum lagi tumbang nya pohon besar dan hampir menimpa kita."


"Jadi Kalian juga mengalami musibah saat ke lokasi ini?! Steve mengangguk "Memang Yanto sudah merencanakan ini semua dengan matang. Ia membuat jebakan arah timur dan barat, anak buahku tadi juga kena jebakan, kakinya terjepit paku yang sudah di rancang. Terpaksa dua orang bodyguard tidak bisa ikut kami."


"Lalu kenapa Tuan bisa tertangkap? bahkan kenapa Tuan tidak bisa melawan saat mereka memukulinya hingga babak belur? Bukankah Tuan memiliki ilmu bela diri yang tangguh." tanya Steve beruntun.


Sabrina menautkan kedua alisnya "Steve! kenapa tidak satu-persatu kalau bertanya?


"Saat sudah sampai ke villa, aku menghubungi kalian berdua, Namun tidak bisa terhubung, ku lihat jaringan nya tidak ada. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang memukul kepalaku hingga aku pingsan. aku tersadar kembali saat berada di sebuah ruangan dengan tubuh basah karena di siram air. Pintu ruangan terbuka lebar, masuk seorang pria memakai sepatu pantofel mengkilap, tubuhnya berbalut jas hitam. Tentu saja aku terkejut melihat orang itu yang tak lain adalah Yanto! bila teringat kejadian beberapa jam yang lalu membuat Reno geram. "Saat di pukuli aku tidak bisa berkutik, tubuh ku terasa lemas dan kaku, untuk sekedar menampar wajah Yanto saja aku tak mampu, hanya umpatan yang bisa lakukan." pria matang itu menceritakan semuanya.


Steve menatap lekat wajah Reno. "Sepertinya Anda telah di beri obat yang di minum atau melalui suntikan." tanya Steve curiga


"Tidak! aku tidak merasakan Yanto memberikan apapun, hanya saat aku tersadar tubuh ku lemas tak berdaya."


Steve menelisik pergelangan tangan Reno. Pria itu mengamati urat nadi tuan nya seraya menarik nafas dalam-dalam "Benar, tuan terkena racun mematikan yang akan melemahkan urat saraf dan otot-otot tubuh anda agar menjadi lumpuh. Namun, reaksinya tidaklah cepat, memakan waktu berhari-hari.


Reno menautkan kedua alisnya menjadi lipatan. Helaan nafas panjang terdengar lirih.


"Ren! ternyata di dapur banyak makanan. Aku menemukan es batu di kulkas. Aku kompres dulu wajah mu dengan es." Sabrina datang dengan terburu setelah tadi ia pergi mengambil es batu.


Tangan Sabrina menekan es batu di wajah Reno, namun ia menolaknya. "Biarkan saja!


"Ada apa Ren?! Sabrina menoleh kearah Steve seakan meminta penjelasan.


"Tuan Reno tekena racun lumpuh. seluruh otot-otot nya lemas dan aliran darahnya tidak lancar, bila tidak di beri penawarnya akan mengakibatkan kelumpuhan total."


"Ap-apa?! Sabrina membulat kan matanya dengan sempurna "Reno terkena racun?! pekiknya tak percaya.


"Pria itu pasti memiliki penawarnya. Aku harus menemui nya dan meminta penawar racun itu!." Sabrina terlihat geram, ia beranjak dan melangkahkan kakinya.


"Tunggu Sabrin!


Sabrina berhenti dan menoleh "Kenapa Ren!


"Anakku lebih penting, lebih baik cari Zidane. kasihan ia sudah enam hari menghilang. Aku tidak ingin mental Zidane terganggu."


"Anakmu pasti akan aku cari! kau pun sama pentingnya, ini belum terlambat Ren, sebelum racun itu menjalar kemana-mana." tanpa ingin berdebat dengan pria yang membawanya datang ke Jakarta, Sabrina melangkah keluar meninggalkan dua orang pria tersebut.


"Sabrina sangat keras kepala!" ujar Reno mendesah panjang.


"Wanita itu sangat bar-bar, namun ia sangat perhatian dan memiliki jiwa penolong."


Reno mengangguk "Kau benar, dia wanita yang tangguh dan tidak takut dengan apapun."


"Sungguh wanita idaman! celetuk Steve


Reno menoleh ke arah Steve "Tadi kau bilang apa?"


Saat tahu Reno mendengar gumaman nya, Steve menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Nggak ada Tuan! hehehehe....


"Sekarang bagaimana? apa Tuan mau saya papah keluar dari villa ini, saya tidak tega melihat wajah anda terluka."


"Aku tidak butuh belas kasihan dari siapapun Steve! simpanlah rasa kasihan mu itu."


Reno terdiam dan menatap kedepan, ia terlihat pasrah. Entahlah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.

__ADS_1


"Tuan! Steve menepuk pelan bahunya.


Reno menarik lamunannya dan menoleh pada pria di sampingnya. "Aku baik-baik saja, mungkin ini karma ku pada istriku yang telah ku tinggalkan di Jerman. Aku terpaksa berbohong agar ia tidak stres memikirkan Zidan yang hilang." ucap Reno datar, seketika hatinya menclos.


"Apa nyonya Delena sudah tahu, Zidane hilang!


"Belum, aku masih menutup rapat darinya. Saat istriku pulang semoga Zidane sudah kembali."


"Tuan tidak salah, anda telah melakukan hal yang benar dan menutupi sesuatu demi kebaikan istri Tuan, Anda telah berkorban banyak untuk kelurga. Saya sangat salut pada prinsip Tuan." tukas Steve bangga, ia sudah melihat kinerja Reno dalam bersikap dan mengambil keputusan yang tepat.


"Apa kita akan menunggu Sabrina disini?"


"Tidak perlu, ayo kita keluar dan secepatnya mencari anakku Zidane. Aku juga ingin berbicara pada Yanto, dimana Iya menyekap anakku Zidane!" ucapnya geram dengan nafas memburu.


"Ayo saya bantu berdiri." Steve membantu Reno berdiri dan menopang tubuhnya yang berat.


"Tunggu Steve! Reno menghentikan langkahnya.


"Iya Tuan?!"


"Darimana Ninja-ninja itu datang?!


Steve menarik nafas dalam dan di hembuskan perlahan "Saya membuat program jam tangan Tuan dan langsung terhubung di laptop. Saat sudah mendekati lokasi, saya melihat di laptop tidak ada pergerakan dari anda tuan, lalu saya melihat hanya ada satu titik yang ternyata berada di villa ini. Saya yakin kalau Tuan dalam masalah besar, lalu saya mengakses kode naga hitam untuk membantu dan share lokasinya. Dalam waktu singkat mereka datang.


Reno tersenyum dan menepuk pundak pria tampan yang menjadi asisten nya "Terima kasih kau sudah menolong ku. Aku berhutang nyawa pada mu."


"Aku tidak merasa begitu Tuan, bukankah aku bekerja pada anda, dan sudah seharusnya saya melindungi tuan." tukasnya di sela langkahnya berjalan keluar dari ruangan tersebut


"Tidak perlu di ragukan lagi, kau memang anak yang jenius. tidak menyesal aku merawat dan membesarkan mu hingga ke perguruan tinggi."


"Terimakasih banyak tuan, kalau bukan karena Tuan, saya bukan lah siapa-siapa."


"Panggil aku Paman! ucap Reno seraya mengacak rambut Steve.


"Baiklah, bila sedang berdua saya panggil Paman, Namun di depan orang lain, saya panggil Tuan, sebab saya menghormati anda sebagai orang yang lebih tua."


Reno mengangguk dan tersenyum.


***


"Pak Yanto berada di mobil itu Non! pria bertubuh kekar itu menunjuk kearah mobil hitam yang terparkir.


Sabrina melangkah cepat ke arah mobil itu dan membuka pintu mobil dengan kasar. Wanita itu melihat Yanto sedang meringkuk. lalu Sabrina menarik kerah bajunya yang sudah berumuran darah.


"Brengsek! kau apakan tuan mu bangs*t! teriak Sabrina murka di depan Yanto yang sedang meringis kesakitan.


"Ap-apa mak-su-d No-na? tanyanya dengan suara tercekat.


"Dimana penawar racun itu?! cepat katakan, atau kau ingin ku cincang hidup-hidup untuk makanan anjing!"


Yanto menggeleng, dengan ekspresi ketakutan.


"kau tidak mau mengatakannya Hah!


"Ak-u tidak tahu!


"Bohong! baiklah bila kau tidak mau mengatakannya, aku juga akan berikan kau racun! Sabrina tersenyum licik, ia mengambil botol kecil dari kantong celananya. Lalu membuka tutup botol itu ""Bersiaplah untuk menerima ajal mu!"


"Ja-ngan!


Sabrina menarik rahang Yanto dan menuangkan air dalam botol itu kedalam mulutnya.


"Uhuk.. uhuk... uhuk..


Yanto tersedak karena terus berontak. Setelah air itu larut dalam tenggorokannya ia memegangi lehernya kuat.


"Sekarang kita impas, bukan?! kau menelan racun dari ku dan kau berikan Tuan mu racun mematikan! Dasar manusia tamak! tuan mu yang sudah memberikan mu pekerjaan dan tempat tinggal yang layak, Namun kau malah menghianatinya!


BUGH!


Sabrina meninju wajah Yanto, hingga giginya rontok.


"Tunggu lah kematian mu beberapa menit lagi! Sabrina memberikan peringatan pada Yanto yang sudah babak belur. seketika wajah Yanto memerah, ia terlihat ketakutan dengan mata melotot.


"Berikan penawar nya, baru akan aku berikan untuk Reno!"


"Apa kamu bilang! Sabrina menarik kembali rahang Yanto dan menekannya lebih keras.

__ADS_1


"Aaahhhkk! sakiiiiittt.... pekik Yanto menghiba.


"Katakan Tuan Reno! ucap Sabrina penuh penekanan.


"I-ya, Tuan Reno.."


"Kau itu hanyalah seorang kacung yang bermimpi ingin menjadi bos besar tanpa bersusah payah. kau tahu dimana tempat mu sesungguhnya?! tanya Sabrina dengan tatapan menghunus. Yanto menggeleng cepat.


"Berasal dari sampah akan kembali lagi ke sampah! itulah diri mu, dan penghianat seperti kau, sudah sepantasnya berada di jeruji besi!"


"Ja-ng-an Nona...., baiklah akan saya berikan penawar racun itu, dan Nona juga harus berikan saya penawar nya juga."


"Aku bukan manusia ingkar sepertimu, cepat berikan dulu penawar itu. setelahnya aku akan berikan untukmu. Bila kau tidak ingin masuk kedalam jeruji besi, cepat berikan!


Yanto merogoh kantung celananya, lalu ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan diberikan pada Sabrina.


"Ini! sekarang berikan juga penawar itu untukku!"


Setelah Sabrina menerima penawar racun itu ia tersenyum devil. "tidak semudah itu, aku akan berikan dulu pada Reno setelah ia normal kembali baru akan aku berikan penawar itu untukmu!"


"Aahh.. sial! serunya seraya memegang rahang nya yang ngilu.


"Sabrin!


Sabrina menoleh, ia melihat Steve sedang memapah tubuh Reno. "Pucuk dicinta ulam pun tiba." Sabrina berjalan mendekat dan memberikan penawar racun itu pada Reno.


"Buka mulutmu! perintah Sabrina


Reno menurut, Ia membuka mulutnya lalu Sabrina menuangkan isi dalam botol itu ke dalam mulut Reno.


"kemungkinan reaksi penawar racun itu bisa menunggu sampai satu jam." kata Steve.


"Terima kasih Sabrin." ucap Reno sungguh-sungguh.


"Simpan dulu terima kasihmu, masih ada satu urusan lagi yang belum Aku selesaikan pada mantan kacung mu itu, Ren!


Sabrina membalikkan badannya dan berjalan ke arah mobil dimana berada Yanto di dalamnya.


"Cepat mana penawar nya? serahkan obat itu padaku! bukan kah tadi kau sudah berjanji akan memberikannya, setelah aku memberikan penawar itu untuk Tuan Reno."


"Bodoh,! padahal yang aku masukkan kedalam botol itu bukan racun, tapi air biasa." Sabrina terkekeh dalam hati. "Begitu lah, kelicikan harus di balas dengan kecerdikan! gumamnya dalam hati.


Sabrina mengeluarkan botol kecil dari saku celananya, namun ia tidak memberikannya kepada Yanto. Dia bukanlah wanita bodoh yang bisa di perdaya. "Satu lagi! dimana kau sembunyikan Zidane!


"Aku tidak tahu, aku tidak sembunyikan Zidan!


"Kau masih saja berbohong! wanita itu menjambak kasar rambut Yanto "Aku tidak akan memberikan penawar ini untuk mu, bila tidak kau katakan dimana Zidane!" bentak Sabrina geram.


"Sungguh aku tidak tahu!" tukas nya memelas


"Kau masih bersandiwara? baiklah, aku akan mengantarkan kematian mu hari ini! Sabrina mengeluarkan pistol dari saku bajunya dan menodongkan ke kening Yanto.


"Sekali DOR! tamat riwayat mu."


Yanto gelengkan kepala dengan mata melotot, ia sungguh ketakutan setengah mati, nyalinya seketika ciut "Mana kesombongan yang tadi kau perlihatkan!"


"Baiklah, ucapkan selamat tinggal!"


"Click!


Sabrina menarik pelatuk nya dan...


"Jangan! Zidane ada pada bos kalajengking!


Sabrina terkejut "Apa maksud mu!"


"Aku tidak berbohong! Zidane berada di tangan ketua Genk kalajengking, ia menuntut flashdisk yang di simpan Vano dan Vana."


Reno yang mendengar suara Yanto, terkejut saat tahu anak-anak nya terlihat dengan genk kalajengking.


"Yanto! ternyata kau kaki tangan dari Genk kalajengking, kau masuk kedalam mansion ku untuk menjadi mata-mata! Sial, aku sudah terjebak! pekik Reno emosi.


"Paman! jangan gegabah, kita akan mengorek keterangan dari Yanto tentang Genk kalajengking." ucap Steve, lalu di anggukan oleh Reno.


💜💜💜


@Bab ini lebih panjang, dua bab jadi satu. jangan lupa untuk terus dukung karya Bunda. Kopi sama bunga sesajen nya Bunda tunggu. ini tangan udah keriting 😂ðŸĪŠ

__ADS_1


__ADS_2