Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Father and Son


__ADS_3

"Dasar bodoh! seharusnya kau lihat dulu sebelum menyerang. Kau memiliki ilmu bela diri tapi tidak bisa melihat suasana. Itu lawan atau bukan!


"Sudah Daddy! jangan pukul kak Vano. Dia tidak bersalah, akulah yang salah Dad! pinta Savira memohon seraya meneteskan airmata.


"Mas! sudah cukup!" seru Delena "Kalau Mas masih mau tidur satu ranjang dengan ku, hentikan aksi gila mu!" teriak Delena, seketika Reno terdiam.


Delena menatap kesal pada suaminya, lalu berjalan kearah Vano yang terduduk pasrah di lantai. "Apa begini cara mendidik anak Mas!"


Reno menarik nafas dalam-dalam "Honey... aku hanya memberikan pendidikan yang terbaik, Vano harus belajar mengenal lawan, aku melakukannya bukan karena tidak sayang. justru ini untuk kebaikannya, ia tidak boleh gegabah dalam bertindak."


"Apa harus dengan memukulinya?


"Bukan begitu sayang, aku hanya__


"Sudah cukup Mas! aku tidak ingin berdebat dengan mu! potong Delena.


"Sudah mom! jangan berdebat lagi dengan Daddy! vano juga sudah tidak apa-apa, Semua memang salah Vano dan aku harus menerima sangsinya. Tangan Savira bengkak karena keteledoran Vano, dan Vano harus bertanggung jawab."


"Ayo Nak, mom bantu ke kamar."


Delena merangkul pinggang Vano dan membawanya Vano pergi dari hadapan Reno.


"Dad! hiks... Maafkan Vira, Semua ini kesalahan Vira."


Reno menoleh dan melihat Savira menangis "Tidak sayang, kau tidak bersalah." Reno mengusap lembut air mata Safira "Daddy melakukan itu karena ingin kakak kamu Vano belajar dari kesalahannya. kau tidak usah khawatir, kak Vano orang yang kuat dan tidak mudah menyerah."


"kalau begitu ayo Daddy antar ke kamar, ini sudah malam, kita harus beristirahat."


Savira mengangguk dan berjalan bersama Reno. Sebelum meninggalkan kamar anak angkatnya, Reno bertanya "Apa pangkal lengan mu masih sakit?"


"Sudah agak baikan Dad!


"Ya sudah, kalau ada apa-apa kau bisa hubungi Mommy atau Daddy. Daddy ke kamar dulu."


"Baik Dad!'


Reno berjalan kearah tangga dan menaiki satu persatu anak tangga. Sesampainya di depan kamar ia membuka pintu, tidak terlihat sang istri disana.


"Apa Delena ada di kamar Vano?!"

__ADS_1


Gegas Reno menutup pintu kembali, dan berjalan ke lantai tiga, tepat didepan kamar Vano,vReno mendengar suara Delena.


"Biar mommy obati punggung mu."


"Nggak usah mom! Vano bisa sendiri, lagian tidak ada yang terluka kok, cuma memar sedikit.


"Tapi Mommy tidak tega melihat kau seperti ini, Daddy mu memang keterlaluan!" kesel Delena mendesah panjang.


"Jangan pernah menyalahkan Daddy mom! tindakan Daddy sudah benar, ia melakukan apa yang sudah seharusnya. Disini Vano juga salah, kalau Daddy tidak menghukum Vano, pasti Vano akan merasa bersalah seumur hidup Vano, karena telah melukai Safira!" ucap Vano dengan mata berkaca-kaca. Delena yang melihat anaknya begitu tegar dan ikhlas langsung memeluknya


"Terima kasih nak, kau memang anak yang baik dan tulus, terima kasih sudah tidak membenci Daddy mu, walau ia telah menghukum mu."


Vano tersenyum "Daddy adalah panutan buat Vano, Reno Mahesa adalah seorang ayah yang luar biasa baik dan penyayang kelurga. Daddy tegas pada siapapun tanpa pilih kasih, itulah pemimpin yang sebenarnya."


Diluar kamar Reno menelan salivanya, ia sangat terharu mendengar ucapan anaknya pada sang mommy. Ternyata di luar dugaan, Vano Tidak membenci dirinya justru merasa bangga padanya. Tanpa terasa cairan bening menetes dari sudut matanya, Reno mengusapnya. Reno adalah seorang laki-laki yang pantang meneteskan air mata, kecuali untuk istri dan anaknya "kau memang anak yang sangat luar biasa Vano! gumam Reno pelan.


Reno mendengar suara langkah kaki menuju pintu, dengan cepat ia bersembunyi di balik dinding. suara pintu terbuka dan keluar Delena dari kamar lalu menutup pintu itu. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik berjalan menuruni anak tangga.


Setelah kepergian Delena, Reno membuka pintu kamar Vano.


"Ceklek!


Vano tersenyum dan berjalan mendekat "Mana punggung mu yang memar?"


"Hah..?! Ti-dak ada dad! hanya merah sedikit. lagian tadi tidak sakit kok?" dusta Vano tersipu.


"Berikan salepnya biar Daddy yang obati."


"Tapi dad, ini tidak apa-apa kok! aku bisa obati sendiri."


Reno mengambil salep dari tangan Vano. "Balikan badanmu! perintah sang Daddy. Vano tidak membantah lagi dan membuka kaosnya. Reno yang melihat memar di bagian lengan dan punggungnya merasa iba, ia berusaha tidak meneteskan airmata. Tangannya mengoles lembut krim di bagian yang memar.


"Ma'afkan Daddy!'


Vano dibuat terkejut dan membalikkan tubuhnya "Apa aku tidak salah dengar? Daddy meminta maaf pada ku?!"


"Maafkan Daddy! ulang Reno dengan mata berkaca-kaca. "Tidak Daddy tidak bersalah!' Vano langsung memeluk erat sang Daddy dan menangis haru "Daddy jangan minta maaf pada Vano, Daddy tidak bersalah. Daddy sudah melakukan yang benar." isak Vano.


"Daddy juga bersalah sudah menghukummu keterlaluan." Reno meregangkan pelukannya dan mengusap surai Vano "Kau anak yang kuat dan hebat! Daddy bangga memiliki mu!" sekali lagi Reno memeluk sang anak.

__ADS_1


"Sudah lama kita tidak berbincang. Hari hampir menjelang subuh, apa kita habiskan sampai pagi untuk main catur?


"Ide yang bagus Dad! kalau begitu ayolah kita main catur!" Vano terlihat girang dan bahagia, sudah lama ia tidak pernah main catur dan berbincang bersama sang Daddy, sebab kesibukan masing-masing.


"Zevano! panggil Reno di tengah ia masih main catur.


"Iya Dad


"Jaga raja dan ratu mu, jangan sampai Daddy bunuh, lihatlah benteng mu tinggal satu, dan ingat jangan sampai salah langkah!"


"Tentu saja Dad! Vano masih terus berpikir bagaimana caranya menjaga raja dan ratu nya dari serangan sang Daddy.


"Anggap saja kita bukan hanya bermain catur tapi kita sedang belajar menyusun strategi dari musuh-musuh kita yang ada di luar sana."


Vano menatap sangat Daddy dan mengangguk setuju. "Baik Dad!


"Kau harus paham! kenapa Daddy memberimu pelajaran. Bila suatu hari nanti kau dihadapkan oleh musuhmu, dan tiba-tiba ada orang yang disandera dan kau harus membunuh orang itu tanpa bisa melihat dirinya karena ia tertutup oleh karung. Bagaimana bila di dalam karung itu adalah Daddy, mommy, Vana, Savira atau Zidan? apa kau langsung membunuh nya tanpa melihat dulu isi karung itu?!


Vano terkejut dengan pertanyaan sang Daddy, ia gelengkan kepala.


"Itu sama halnya yang terjadi pada Shafira, kau tiba-tiba memukulnya tanpa melihat dulu Siapa orang itu!


"Ingat nak, dunia bisnis itu sangat kejam dan penuh darah! sebelum kau lahir Daddy adalah manusia paling kejam dan tak punya hati nurani pada siapapun, termasuk musuh-musuh Daddy!


"Jadi Genk kobra itu milik Daddy?


"Genk kobra? darimana kau tahu tentang Genk kobra?!" seru Reno, langsung berdiri


Seketika Vano di buat tercengang oleh pertanyaannya sendiri.


💜💜💜


@Kisah Novel "AKU BUKAN CINDERELLA" sudah update ya. Yuk ikuti kisah kelanjutannya. InsyaAllah Bunda akan konsisten. Selamat Membaca 🙏🥰


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76


@Bersambung

__ADS_1


__ADS_2