Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Mendapat Ancaman


__ADS_3

"Benarkah..? Mata Bella berbinar cerah dengan senyuman lebar. Tanpa sadar ia berlonjak memeluk tubuh kekar Vano. "Terimakasih sayang.."


Vano yang mendapat pelukan spontan dari Bella, sempat terkejut.Tiba-tiba ke-duanya terdiam dengan netra saling bersitatap. Bella baru tersadar dengan perbuatannya, ia merasa gugup dan mulai mengendurkan eratan tangannya yang menggantung di leher vano. Bella memalingkan wajahnya karena malu.


Vano yang melihat Bella malu dan salah tingkah menarik dagunya hingga mata mereka saling beradu pandang. Aura hangat menyapu wajah Bella, karena nafas Vano tepat di depan wajahnya. Vano mengusap lembut bibir ranum Bella dengan ujung jarinya. Tahu apa yang ingin Vano lakukan, jantung Bella berdebar dan bertalu-talu bagai gendang mau perang. Ia memejamkan bola matanya, hingga sebuah bibir kenyal menempel di bibirnya. Vano mencumbunya dengan lembut penuh perasaan. Bella begitu menikmati lidah Vano yang terus masuk kedalam, akhirnya Bella membalas ciuman Pria yang sudah menjadi kekasihnya itu.


Ciuman itu terlepas setelah sebuah suara ponsel berdering. Vano merogoh ponsel yang berada di dalam saku jas nya.


"Sebentar aku angkat telpon dulu."


Bella mengangguk cepat dan menggeser tubuhnya kesamping. Vano berdiri di depan balkon.


"Iya Mom!


"Kau dimana Van?


"Aku__" Vano menoleh kearah Bella "Sedang ketemu seseorang. Ada beberapa pekerjaan yang harus di bahas." dustanya, tidak ingin membuat Delena curiga.


"Apa kau tahu Savira keseleo kakinya?!"


"Bukankan Dev mengantarkan Savira pulang duluan?"


"Iya Dev mengantarkan setelah pulang dari tukang urut, kamu ini bagaimana sih Van! adikmu terjatuh dan keseleo malah tak perduli dengan menyerahkan Vira pada Dev, Kau yang bertanggung jawab pada adik sekaligus sekertaris mu. Baru satu hari Vira bekerja di kantor sudah dapat musibah." omel Delena pada anak lelakinya.


"Sudahlah Mom itu hanya kecelakaan kecil, lagian ada Devan yang sudah membantu dan antarkan Vira pulang."


"Ya sudah cepatlah pulang, ada yang harus Mommy bicarakan."


"Okay Mom, selesai urusan disini Vano pulang."


Sambungan telpon berakhir, Vano menghela nafas panjang.


"Bell, Mommy meminta aku untuk segera pulang. Kau tidak marah kan?" Vano kembali duduk di samping kekasihnya.


Savira tersenyum lembut "Perintah seorang ibu adalah titah seorang raja. Pulanglah jangan sampai Mommy menunggu lama." ucap Bella penuh pengertian


Vano menarik tangan Bella dan menciumnya "Aku tidak salah mencintaimu, kau sangat baik dan pengertian. Terimakasih sudah menunggu aku hingga saat ini."


"Maaf tadi aku mendengar nama Safira, ada apa dengannya?"


"Savira sudah menjadi sekertaris ku sekarang. Dia menggantikan sekertaris lama yang bermasalah. Baru hari ini masuk, siangnya aku ajak pertemuan di hotel Horizon. Karena terburu-buru mengikuti langkahku ia terjatuh. Aku baru tahu kalau tadi Dev bawa Savira ke tukang urut dan Mommy menanyakan keberadaan ku. Maaf Bell, tadi aku berdusta pada Mommy."


"Ya sudah tidak apa-apa, Cepatlah kau segera pulang. jangan sampai Mommy menunggu lama."


"Aku pulang ya." Vano mencium lembut kening Bella, ia beranjak dari duduknya meninggalkan apartemen Bella.


*


Malam ini Vana tidak pulang ke apartemen, Sebab banyaknya pasien yang harus ia tangani.


"Ceklek!

__ADS_1


"Dokter Vano..? boleh saya masuk."


Vana yang sedang membaca bekas pasien di tangannya mendongakkan kepalanya "Dokter Herman? masuklah."


Dokter bernama Herman masuk kedalam dengan membawa dua cup kopi panas dan memberikan satu untuk Vana.


"Ini kopi susu kesukaan mu, aku bawakan."


"Terimakasih Dok.."


"Apa bu Dokter lembur malam ini?


"Iya! banyak pasien yang membutuhkan tenaga medis."


"Maaf, Dokter Vana adalah pemilik rumah sakit ini, aku rasa jangan terlalu terbebani dengan semua pasien. Masih banyak Dokter yang bertugas disini. Kesehatan Bu Dokter sangat penting."


"Terimakasih Dokter Herman. Saya tidak bisa mengabaikan pasien. Hati nurani saya terpanggil untuk membantu mereka."


"Memang ya hati bu Dokter begitu lembut, tulus dan baik hati. Saya sangat bangga bisa menjadi mitra di rumah sakit Dokter Vana." tukas Dokter Herman seraya menyeruput kopi panas yang ia pegang.


"Jangan terlalu berlebihan dalam menguji saya, itu tidak baik." Vana terkekeh


"Tapi itu kenyataan bu Dokter, Jangan menutupi kelebihan anda! Oiya Dok, apa mau aku pesankan pizza..?!


"Tidak usah, aku tidak makan malam."


"Sekali-kali lah, hari ini anakku ulang tahun. Aku ingin berbagi kebahagiaan bersama Bu Dokter."


"Tidak usah repot-repot Bu Dokter." ujar Dr Herman seraya membuka aplikasi goofood dan memesan pizza yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit.


Sedang mengobrol, tiba-tiba seorang suster datang kerungan Vana.


"Maaf Bu Dokter. Kami mencari Dokter Herman. pasien atas nama Maria mengamuk."


Mereka berdua terperanjat. "Apa..? Pasien saya mengamuk? Maaf Bu Dokter, saya permisi dulu untuk menangani pasien."


"Kenapa bisa sampai mengamuk?


"Pasien bernama Maria depresi dan terus ingin bunuh diri."


"Kalau begitu aku juga ingin melihat nya."


"Oke ayok.." Mereka berdua meninggalkan ruangan Vana menuju bangsal pasien.


Setengah jam kemudian Vana kembali keruangan nya setelah menenangkan pasien.


"Ceklek..."


Vana masuk kedalam ruangan dan berjalan kearah meja kerjanya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat sebuah kotak terbungkus rapi.


"Kotak apa ini? bukankah Pak Herman pesankan pizza? kenapa yang datang kotak kado? tunggu ada tulisannya."

__ADS_1


"Untuk Dokter Zevana, silakan di buka suprise dari pengagum rahasia!"


"Kotak ini untuk ku? siapa yang mengirimkan kado ini? tidak ada nama pengirimnya. Dan siapa yang telah menaruh di ruangan ku?


Vana yang begitu penasaran mencoba terus berfikir "Dari pengagum rahasia? daripada mati penasaran lebih baik aku buka saja."


"Dengan perlahan Vana mulai membuka bungkus kontak itu. "Ahh.. kenapa bungkusan nya berlapis-lapis! Vana mendesah kesal.


Hingga bungkusan kotak itu mulai terlihat. Vana membuka tutup kotak itu. Seketika matanya terbelalak sempurna. Aroma busuk dan bau anyir menyeruak ke penciuman Vana. Rasa mual dan ingin muntah saat melihat potongan tangan, jari-jari dan usus berlumuran darah di dalam kotak itu. Aroma bau bangkai membuat Vana benar-benar muntah.


"Huek.. huek.. huek..."


Tiba-tiba terdengar suara dering telepon, membuat antesi Vana beralih ke ponselnya di atas meja.


"Tidak ada nama si penelpon? gumamnya pelan. Akhirnya Vana mengangkat sumber suara yang tidak berhenti.


"Hallo...."


"Bagaimana hasil karya buatan ku Dokter Zevana?! bagus bukan? pasti kau sudah membuka bungkus kado itu kan?


"Siapa kau..?! apa maksud mu mengirimkan potongan tangan tangan usus bau bangkai itu!"


"Hahahaha... itu baru saja permulaan Dokter Vana. Aku akan buat penawaran untuk mu!"


Vana menautkan alisnya yang berkerut-kerut. "Penawaran apa yang kau maksud!" seru Vana seraya menutup tutup kotak itu yang berbau busuknya sangat menyengat.


"Dimana flashdisk harta Karun itu? kau masih menyimpannya bukan? bila tidak kau berikan pada kami, seluruh rumah sakit ini akan hangus terbakar. kami sudah menaruh BOM di beberapa tempat!"


Vana terperangah, ia masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan si penelpon itu.


"Flashdisk apa..?


"Jangan pura-pura bodoh! kau menyimpan flashdisk pembunuhan harta Karun itu!"


Seketika Vana teringat akan flashdisk itu. ia teringat pernah menemukan USB di dekat rumah nenek nya.


"Jadi yang dimaksud orang ini flashdisk itu? bisik Vana dalam hati. "Bukankah flashdisk itu di simpan kak Vano!" Vana menutup mulutnya.


"Cepat katakan dimana kau simpan flashdisk itu? kau tahu konsekuensinya bila tidak memberikan flashdisk pada kami. Seluruh nyawa di rumah sakit ini akan mati sia-sia, dan kaulah yang akan bertanggung jawab!" bentak suara Pria di ujung telepon.


💜💜💜


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


@Bunda mau promosi novel terbaru..


"AKU BUKAN CINDERELLA"


Ayo mampir All.. kisahnya menguras emosi dan airmata loh...


@Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2