
"Savira jangan lakukan itu, itu akan menyakiti dirimu sendiri." Dev berusaha menarik tangan Savira dari jambakan rambutnya.
Ceklek!
"SAVIRA!
Seorang pria masuk kedalam kamar rawat inap Savira dan memeluk tubuhnya erat.
Dave menautkan kedua alisnya dan menatap bingung pria yang baru saja datang, lalu memeluknya erat.
"Savira.. apa yang sudah kau lakukan?
"Lepaskan! Savira berusaha berontak sekuat tenaga, namun pria itu tidak berniat melepaskannya.
"Hey! Kenapa kau tiba-tiba datang memeluk adikku! seru Dave tak terima.
Seperti tidak ingin mendengar peringatan dari Dave, pria itu tetap memeluk Safira erat "Savira, tenangkan dirimu. aku sudah datang untuk menemui mu, ma'afkan aku datang terlambat." Ajaib, seketika Savira tidak berontak atau berteriak lagi. Hanya terdengar suara sesenggukan dari bibirnya.
"Syukurlah akhirnya kau tenang." Pria berpostur tubuh tinggi tegap dengan berbalut jas hitam mengusap lembut punggung Savira.
"Hey siapa dirimu?! tanya Dave sebab pria itu memunggungi Dave.
Pria tampan itu mengurai pelukannya dan mengusap airmata Savira yang terus berjatuhan "Look me..." Savira menatap pria yang tersenyum padanya.
"Jangan takut, aku akan selalu ada bersama mu."
"A-ku sud-ah..." hiks..
"Sssttttt...." pria itu menaruh jari telunjuknya di bibir Savira seraya menggeleng pelan "Kau gadis baik, kau masih suci." potong pria itu menatap teduh wajah Savira.
Dave semakin penasaran, ia lantas berdiri dan menarik pundak pria itu "Siapa kau?! seketika Dave terkejut, ia menatap tak percaya dengan pria di hadapannya.
"Tuan Kelvin?! An-da__
"Apa kabar Tuan Devan? wajah tegas dengan rahang kokoh itu tersenyum tipis.
"Apa aku tidak salah lihat? darimana Anda tahu keberadaan Savira."
"Apa anda lupa? saya memiliki orang-orang yang bisa terpercaya. Mudah bagiku mengetahui kondisi Savira."
"Tapi anda dan Savira__
"Sudah lah Tuan Dave. Aku kesini bukan ingin berdebat, tapi melihat kondisi Savira." potong Kelvin mengalihkan pandangannya kearah Savira yang masih sesenggukan.
"Savira, di lantai sangat dingin. Ayo naiklah keatas ranjang." Kelvin meraih tangan Savira, seperti terhipnotis, Savira mengikuti perintah Kelvin dan naik keatas ranjang. Dengan penuh kasih sayang dan perhatian, Pria macho itu mengusap lembut pucuk kepala Savira yang berbaring dan menyelimutinya sebatas dada.
"Tuan Kelvin, bisa kita bicara sebentar." Dave seperti menonton drama Drakor di depannya dengan perasaan entahlah tidak bisa di gambarkan.
Kelvin menoleh kearah Dave dengan raut muka dingin, lalu mengangguk. "Kita bicara diluar!"
pria itu mengangguk
"Sebentar, aku keluar dulu." pinta Kelvin pada Savira. Saat Kelvin ingin pergi, tangan Savira menahannya dengan menarik tangan Kelvin. Kelvin menoleh kearah Savira penuh tanya, lalu Savira menggeleng dengan tatapan memohon.
"Maaf, aku tidak bisa meninggalkan Savira. Sepertinya ia membutuhkan ku." ucapnya datar.
Dave menoleh kearah Savira dengan tatapan bingung. Bahkan ia tidak percaya dengan sikap Savira Yang berubah penurut setelah kedatangan Kelvin.
"Baiklah, aku harus menemui Vano untuk melihat keadaan adik kembarnya. Kalau membutuhkan aku hubungi saja. Untuk keperluan Savira sudah di tangani Dokter dan suster yang berjaga."
"Salam kan pada Tuan Zevano, bila sempat aku akan mengunjunginya."
Dave mengangguk seraya membuang nafas kasar "Savira, kakak pergi dulu. Nanti kembali lagi." Dilihatnya wajah datar Savira tanpa ekspresi. Dave melangkah pergi dengan perasaan gusar, ia memegangi jantungnya yang terus berdetak kencang.
__ADS_1
"Ada hubungan apa Safira dengan Tuan Kelvin? tanyanya pada diri sendiri "Sejak kapan mereka dekat? setahu ku Savira gadis lugu dan polos, ia tidak mudah dekat dengan seorang pria, apalagi Pria sekelas Kelvin." begitu banyak pertanyaan dalam benaknya.
"Ck! ada apa dengan jantung ku coba? kenapa rasanya sesak dan nyeri begini? decak nya seraya melangkah dengan kaki panjang. Saat sudah di ruangan tunggu operasi, Dave tidak menemui sosok Vano.
"Kenapa ruangan ini sepi? kemana Vano? Dave merogoh ponsel dari saku celananya dan mulai menghubungi Vano.
"Tidak diangkat!"
"Suster! Vano memanggil seorang wanita memakai pakaian putih-putih.
"Iya, ada yang bisa saya bantu, Pak?
"Dimana Pak Vano, pemilik rumah sakit ini? tadi ia masih menunggu di sini."
"Ohh Tuan Zevano? saudara kembar dokter Vana?
Dave mengangguk
"Tuan Zevano berada di ruangan private VVIP kamar anggrek."
"Dokter Vana sudah selesai di operasi?
"Sudah Tuan!
"Baiklah, terima kasih."
Gegas Dave melangkah pergi menuju ruangan rawat inap Vana. Ruangan khusus Keluarga yang berada di ujung koridor dengan keamanan super ketat. Berdiri empat orang sekuriti di depan pintu masuk menuju ruangan anggrek.
"Saya asisten Tuan Zevano."
"Silakan Tuan! sekuriti itu membuka pintu kaca tanpa banyak bertanya.
JEGLEK
"Bagaimana sudah bisa? tanya Dr Irwan pada Dr Nella.
"Alhamdulillah sudah. jarum infusnya masuk ke urat nadinya dan memudahkan Dr Vana untuk menerima cairan antibiotik."
"Syukurlah, semoga Dr Vana bisa melewati semua ini."
"Baiklah Tuan, kami pergi dulu. Kalau ada apa-apa dengan Nona Vana, tekan tombol ini." ujar Dr Irwan memberikan sebuah remote control pada Vano.
Vano mengangguk. Setelah usai pemeriksaan, ketiga Dokter yang menangani Vana, keluar dari ruangan pribadinya.
"Dev! kemarilah."
Dave mendekat dan melihat keadaan Vana yang masih banyak selang infus dan alat-alat medis di tubuhnya.
"Bagaimana keadaan Vana?" tanya Dev pelan.
Vano menghela nafas panjang, Masih ada binar kesedihan di pelupuk matanya. lalu Vano mengusap lembut pucuk kepala sang adik "Vana belum sadarkan diri, banyak luka sayatan di punggung dan bahunya. Dokter sudah menjahit semua luka Vana, Namun kondisinya masih belum stabil pasca operasi.
"Apa darahnya bisa mencukupi untuk Vana?
"Kata dokter Irwan, beruntung pendonor cepat datang dan langsung memberikan tindakan transfusi darah. Bila terlambat sedikit saja, mungkin nyawa adikku tidak akan tertolong." Vano menarik nafas dalam-dalam dan di keluarkan perlahan "Aku sangat berterima kasih dengan pria asing itu. karena sudah menyelamatkan nyawa adikku."
"Aku berhutang budi padanya." ucapnya lirih dengan sorot mata sendu.
"Aku akan cari tahu siapa pria asing itu? balas Dave. "Apa kah pria itu mengenal Vana? Yang tiba-tiba saja datang."
"Apa kau masih mengingat wajahnya?
"Sedikit, kalau tidak salah matanya berwarna biru dan berwajah blasteran."
__ADS_1
"Carilah informasi tentangnya, Aku ingin memberikan hadiah dan berterima kasih padanya."
"Baiklah, aku bisa memulai dari CCTV saat ia datang ke rumah sakit ini dan mencari identitasnya."
Vano mengangguk "Oh iya, Bagaimana keadaan Safira apa dia baik-baik saja?
Dave menarik nafas dalam dan di hembuskan kasar "Safira tidak baik-baik saja, Iya masih menyisakan trauma saat kejadian di danau.'
"Aku akan menemuinya!"
"Jangan sekarang! Dave menahan Vano yang ingin melangkah keluar.
Vano mengeryitkan keningnya dan menatap aneh pada sahabatnya "Kenapa tidak boleh? aku juga ingin melihat keadaan adikku."
"Tapi Safira sudah ada yang menemani?
"Maksudmu? Vano semakin nggak mengerti dengan arah pembicaraan Dave. "Tentu saja ada Suster yang menemani."
"Bukan Suster!"
"Lalu..."
"Tuan Kelvin!
"What?! bola mata Vano membulat, seakan tidak suka dengan kehadiran Kelvin. "Untuk apa ia datang kemari dan menemui Savira!"
"Entahlah." Dave menggendikan bahunya.
***
Sementara itu, seorang pria berpostur tinggi tegap berbalut pakaian serba putih dengan memakai masker di wajahnya, melangkah pasti menuju ruangan anggrek seraya membawa tas hitam di tangannya.
"Boleh saya masuk? tanyanya, Saat berdiri di depan sekuriti yang berjaga di depan pintu.
"Anda siapa? tolong perlihatkan wajah anda."
"Saya Dokter Ilyas." Pria itu memperlihatkan nametag pada sekuriti itu "Kebetulan saya sedang flue, tidak baik bila menemui pasien dalam kondisi flue."
"Anda seorang Dokter, seharusnya lebih mementingkan pasien daripada diri Dokter sendiri yang sedang sakit. Apalagi yang ingin dokter temui adalah nona Zevana, pemilik Rumah Sakit ini."
Pria itu memutar otaknya agar bisa masuk ke dalam ruangan rawat inap Vana. Ia menatap keatas pintu, ada cctv disana. Pria berpakaian putih itu terus menjaga sikap nya.
"No.. no.. saya sedang tidak sakit. Saya sedikit flue dan itu bukan penyakit mematikan. Seharusnya kalian pahami dulu sebelum bertanya. Bukankah kalian juga memakai masker? gunanya untuk apa? tanya pria itu balik. "Bukankah rumah sakit rawan firus dan di haruskan memakai masker setiap pengunjung."
Seketika mereka semua terdiam dan saling tatap "Tapi, yang dokter ingin kunjungi pemilik rumah sakit ini." katanya lagi penuh ragu.
"Apa kalian tidak percaya dengan saya! apa kalian pikir saya seorang ******* yang ingin membunuh dokter Vana? Baiklah bila kalian menyulitkan saya untuk masuk kedalam, akan saya temui dokter Arif selaku humas di rumah sakit ini. Mungkin setelah ini, kalian semua akan dipecat! ucapnya tegas dengan sorot mata tajam.
Mereka Semua terlihat gusar, lantas sekuriti itu membuka pintu kaca dan membiarkan pria berpakaian dokter itu masuk ke dalam ruangan anggrek.
Pria itu bernafas lega, ada senyuman di sudut bibirnya saat melangkah masuk kedalam ruangan private milik Vana.
"Siapakah Pria berbalut pakaian serba putih tersebut?
💜💜💜💜
@Mana nih komentar kalian. Bunda udah update setiap hari loh. Demi sayang bunda pada kalian... akan update setiap hari dan bisa update sehari 2x. Semoga bunda terus di kasih kesehatan ya All, agar bisa tuntaskan novel ini 🥰
@Jangan lupa follow IG Bunda 😍 ( @bunda. eny_76)
@Follow juga tiktok bunda ( Eny. 76 shop)
BERSAMBUNG....
__ADS_1