Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Kepergok Delena


__ADS_3

Biar kakak gendong, kamu sangat sulit berjalan." tanpa meminta persetujuan dari Savira, Vano mengangkat tubuh langsing adik angkatnya.


"Tidak usah Lepaskan!


"Diam! nanti jatuh seperti tadi lagi! omel Vano dan berjalan masuk melalui pintu dapur. setelah melewati pintu dapur dan sudah berada di ruangan makan, Vano mendudukkan Savira di salah satu kursi makan.


"Sebentar, kakak lihat dulu lukanya."


Savira terus menolak dengan mengatakan tidak apa-apa, Namun berbeda bagi Vano, ia tidak akan berhenti sebelum melihat kondisi Savira yang sebenarnya. Di tariknya lengan baju tidur Vana dan terlihat pangkal lengan nya yang sudah membengkak.


"Apa ini sangat sakit? tanya Vano


"Jangan di pegang! pekik Savira "Tentu saja sakit, kau yang telah memukul ku."


"Dek, sudah berapa kali kakak bilang, kak Vano tidak sengaja? apakah kau mau balas kembali? nggak apa-apa kakak siap kok menerima pukulan darimu."


"Tidak perlu! bahkan aku sudah sering menerima rasa sakit lebih dari ini! sindir Savira membuang wajahnya kesamping.


"Dek! apa maksud perkataan mu? Vano mencoba meraih jemari tangan Savira, dengan cepat Savira menepisnya.


"Huh! Vano menghela nafas panjang lalu beranjak dari duduknya dan mengambil sebuah botol minyak di dalam kotak obat.


"Aku akan oleskan dulu minyak urut ini ke pangkal lengan mu, ini sedikit panas."


"Aku sendiri yang akan melakukan nya."

__ADS_1


"Jangan membantah, aku paling tidak suka di bantah!' tegas Vano pada sang adik.


Savira berdiri dan berkata "Pak Zevano yang terhormat, anda di kantor memang atasan saya, maka saya tidak akan berani membantah anda. Tapi bila di rumah, anda adalah kakak saya, jadi saya berhak menolak untuk di bantu!" Savira menarik botol urut dari tangan Vano "Permisi dan selamat malam." Savira memutar tubuhnya dan berjalan.


"Savira! Vir....!"


Vano yang merasa bersalah karena telah melukai lengan Savira, terus berusaha mengejar dan menarik tangan Savira.


"Aku berniat baik untuk membantu mu, tapi kenapa kau malah menolak?!


"Lepaskan!" pekik Savira.


"Apalagi mau mu kak! sudah puas menyakiti aku? bukan hanya tubuhku saja yang sakit, tapi juga hati dan perasaan ku yang terluka! apa kakak pikir mampu mengobatinya?!!! seketika Vano terkejut dengan ucapan Savira yang tiba-tiba.


"Enggak kan!! Pak Zevano tidak akan sanggup mengobati luka hati sekertaris nya sendiri!"


"Hah! Savira menghela nafas kasar "Kenapa masih berpura-pura bodoh kak!


"Savira....!!" Vano mencoba meraih tangan adik angkatnya "Dengarkan aku, kau jangan salah paham dulu, iya aku mengaku salah, tapi kita tidak sedang membicarakan masalah kantor? aku hanya ingin membantu mu, lihatlah lengan mu bengkak, aku merasa bersalah dan ingin mengobatinya?!


"Hahahaha... Savira tergelak bersamaan keluar nya butiran bening dari sudut matanya. "Kau ingin mendengar kejujuran ku kak?! tanya Savira menahan sesak.


"Kenapa kau menangis Vira? kakak minta maaf. Apapun akan aku lakukan untuk menebus kesalahanku." Vano berusaha ingin mengusap airmata Savira, lagi-lagi Savira menepisnya.


Savira terdiam sambil mengusap butiran airmata yang terus berjatuhan.

__ADS_1


"Kejujuran apa yang ingin kamu katakan?! tanya Vano datar.


Savira tersenyum masam "Kenapa sikap kakak berubah tiba-tiba?! bukankah selama ini kakak acuh padaku? bahkan seakan enggan untuk melihatku? apa kesalahan aku pada kakak? sikap dan perubahan kakak yang tiba-tiba dingin dan cuek sangat terlihat jelas. Bahkan selama ini, bukan hanya di kantor saja, tapi di rumah pun kakak selalu menjaga jarak denganku!!!


Wajah Vano terlihat tegang dan kaku, seakan sebuah tamparan keras menerpa wajahnya. Ia bingung mau bicara apalagi, perkataan Savira adalah benar semua. Sikapnya yang cuek dan dingin telah membuat adik angkatnya terluka. Sebenarnya ia sadar itu, Namun ada beban berat di hatinya. Ya.. Vano harus bisa menjaga perasaan Bella, wanita yang telah mengisi hatinya, ia selalu berusaha mengusir jauh perasaannya pada adik angkatnya sendiri.


Wajah Vano yang tadi tertunduk, ia angkat. lalu menatap sendu wajah wanita di depannya. "Dek! ma'afkan kakak." Vano berjalan mendekat, tapi Savira memundurkan langkahnya kebelakang. "Kakak bisa jelaskan semuanya, kakak tahu kau begitu sakit hati dan terluka oleh sikap kakak selama ini. Tapi..." tiba-tiba Vano terdiam, ada perasaan ragu untuk di ucapkan.


"Sudah cukup kak! tidak perlu di teruskan. Aku sudah tahu jawabannya!" Dengan cepat Savira memutar tubuhnya untuk pergi menghindar. Namun, siapa sangka Vano yang tidak ingin Savira pergi begitu saja, menarik tangan Savira hingga ia terkejut dan hampir terjatuh. Reflek dengan cepat Vano menarik tubuh Savira kedalam pelukannya. Savira tidak berontak lagi, ia hanya pasrah dengan tubuh lemas. Nafas dan detak jantung keduanya terdengar cepat, bagaikan irama melodi yang bertalu-talu. Vano memeluk erat pinggang Savira dan kedua kening mereka saling menyatu, Kedua tangan Savira ia rapatkan kedada bidang Vano. Tidak ada suara satupun dari keduanya, mereka begitu menikmati momen langka yang mereka ciptakan sendiri. Sekian menit kemudian.


"Vano! Savira....! apa yang sedang kalian lakukan disini?!


Seketika keduanya terkejut dan melepas pelukan masing-masing.


"Mommy.....!!!


Reflek Vano dan Savira berseru bersamaan dengan wajah merah merona menahan malu.


💜💜💜


@Kisah Novel "AKU BUKAN CINDERELLA" sudah update ya. Yuk ikuti kisah kelanjutannya. InsyaAllah Bunda akan konsisten. Selamat Membaca 🙏🥰


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76

__ADS_1


@Bersambung


__ADS_2