
Singkat cerita empat tahun sudah Renata bekerja di Jakarta dia bukan hanya terjadi pabrik dia juga jualan pakaian dan barang barang yang di minta oleh teman teman sesama buruh du sana, dengan sistim cicilan.
Renata pun selalu rajin ikutan lembur di pabrik, jarang waktu bermain dan bersantai untuk nya, semua waktu di habiskan untuk bekerja dan membantu bibi, dan istirahat di rumah, jarang yang pergi keluyuran seperti teman teman sebayanya.
Renata juga sudah bisa merenovasi rumah dan membuat warung sembako di samping rumah Ibunya, bulan lalu Renata juga mengirim uang untuk sang Ayah, membeli sepasang kambing untuk di kembang biakan, adiknya Renata lah yang menyekolahkan.
Tentu saja Orang tuanya bangga kepada Renata, yang berhasil mencapai cita citanya.
"Ta..." panggil Amel, saat mereka keluar dari pabrik pagi ini.
"Apa Mel..." jawab Renata.
"Kita ke Mall yuk... sesekali, ngeram aja di rumah" ajak Amel.
"Iya deh, tapi temanin gue belanja pesanan anak anak dulu ya?!"
"Siap juragan" ledek Amel.
__ADS_1
"Ncek... loe ya, suka banget ngeledek gue" kesal Renata.
"Ya gimana ngak juragan coba, loe kerja jarang izin, lembur ikut terus dan jualan juga di pabrik, gue yakin tabungan loe udah bejibun. ucap Amel.
"Mel, gue datang kejakarta niat buat bantu orang tua gue mel, ngak kayak loe, yang cuma iseng iseng doang, orang tua gue orang ngak mampu, bisa nyekolahin gue aja sampai tamat SMA sudah syukur. jadi sekarang sebelum menikah gue harus bisa nyenangin orang tua gue, biar mereka ngak jadi buruh orang terus" curhat Renata.
"Iya iya, maafin gue, gue cuma bercanda kok?!" ucap Amel tidak enak hati.
Amel kerja ke jakarta karena tidak mau lanjut kuliah, otaknya tidak mampu alasannya, Amel juga anak orang lumayan kaya di kampungnya, jadi dia datang ke kota cuma untuk mencari pengalaman aja, padahal dia punya usaha sendiri di kampung, karena dia punya teman seperti Renata di sini yang akrab dengannya, jadi lah dia keterusan kerja di pabrik.
"Ok, gue bawa mobil, jadi loe ngak usah bawa motor ya" jawab Amel.
"Anjay... buruh pabrik bawaannya mobil dong" ledek Amel.
"Sialan loe, loe juga sebenarnya bisa beli mobil kan loe getol nyari uang" dengus Amel.
"Hahaha... iya iya, gue ngak mau beli mobil Mel, gue pengen buka toko sembako aja deh, biar di jalanin oleh bibi gue.
__ADS_1
"Itu juga bagus Ta... kali nanti loe bisa beli tanah di sini dan jadi juragan kontrakan, jadi loe tinggal ongkang ongkang kaki deh di rumah, uang ngalir terus" celoteh Amel.
"Aamiinn... mudah mudahan do'a loe di dengar sama malaikat trus di aminin oleh dia, dan terkabul do'a untuk gue yang rakyat jelata ini" celoteh Renata.
"Dasar loe Ta... tapi. klau iya pun gue senang" ucap Amel tersenyum.
"Ya udah ah pulang, mengahulu mulu, ingat habis zuhur jemput gue sama mobil mahal loe ya, klau telat gue tinggal" ancam Renata.
"Dih... ngak salah itu, setiap pergi pergi, yang ada gue yang nungguin loe sampe bulukan, lah ini gue juga yang di ancam" dengus Amel.
"Hahaha... iya iya, sahabat baik gue, yang cantik anak pak Tarno tukang sulap, Bye...."
Ledek Renata sambil mencubit bibir Amel yang sudah panjang itu dan lansung berlari kabur.
"Renata sialan loe ya, awas loe...!!" teriak Amel yang di cuekin oleh Renata yang sudah hilang di belokan.
Bersambung...
__ADS_1