
Sesampai di rumah Renata gegas ke kamarnya untuk mengganti baju nya dengan baju rumah, baju ke banggaan mak mak, apa lagi klau bukan daster.
Setelah itu dia pergi ke dapur, karena rumah lagi sepi, Ibu dan Ayahnya tidak ada di rumah.
"Masak apa ya...?" bingung Renata saat membuka kulkas.
"Ah... masak kesukaan Heru dan Lila aja lah" gumam Renata, sambil mengeluarkan beberapa bahan dari dalam kulkas dan dia gegas ke kebun belakang rumahnya, untuk memetik sayuran di sana.
"Untung di rumah tersedia sayuran segar" kekeh Renata sambil memetik sayuran, tomat dan cabe.
Renata masuk ke dalam rumahnya lagi dan memulai memasak apa yang ingin dia masak.
"Loh... kok masak banyak amat Ren...." tiba tiba Ibu Renata muncul di samping Renata yang sedang fokus memasak.
"Astagfirullah.... Ibu... kenapa ngagetin aku sih...." Renata terlonjak kaget, dan mengurut dadanya agar menghilangkan rasa kagetnya itu berkali kali.
"Hehehe.... maaf nak, dari tadi Ibu sudah baca salam, ngak ada yang jawab, pas masuk rumah kecium harum masakan, dari sana Ibu sudah manggil kamu, tapi kamu ngak jawab jawab" cengengesan Ibu Renata tak enak hati melihat anaknya yang pucat pasi.
__ADS_1
"Iya bu... ngak pa apa, saking fokus masak jadi ngak dengar ibu ngucap salam" ucap Renata menenang kan hati sang Ibu.
"Oh... iya, kamu kok masak banyak, emang mau ada tamu...?" tanya Ibunya lagi.
"Iya Bu... tadi di toko Mas Edo ada adik adiknya, aku suruh ke sini buat makan malam" ucap Renata jujur.
"Maksud kamu Lila sama Heru? emang mereka sudah ketemu, sejak kapan?" ucap Ibunya ikutan kepo.
"Iya Bu... sekarang mereka ada di sana, katanya baru beberapa hari di sini, dan lansung nyari Mas Edo, mereka selama ini ada di kota x Bu... mereka kerja di sana" tutur Renata panjang lebar.
"Oh... tapi mereka sehat kan...?" tanya Ibunya lagi, Ibu Renata kenal Lila memang tidak dekat, mereka pernah bertemu beberapa kali, dari yang Renata bicarakan klau Lila dan Heru lah yang baik dan selalu membela Renata saat tinggal di rumah mantan mertuanya itu, dan Ibunya Renata juga tau klau selama ini adik adik Edo itu menghilang dari keluarganya.
Ibunya hanya mengangguk anggukan kepala tanda mengerti, dia mah dukung dukung saja apa yang di kerjakan sang anak, selagi itu baik, dan tidak merugikan orang lain, ngak jadi masalah, apa lagi untuk menolong orang lain, tentu saja dia setuju, karena Ibu Renata pernah merasakan hidup susah, makanya dia tak keberatan untuk menolong orang yang membutuhkan.
"Ayah bangga sama kamu nak, kamu tidak memendam dendam di hati kamu, kepada orang orang yang menyakiti mu, dan kamu mau membatu mereka" ucap Ayah Renata yang dari tadi sudah menguping pembicaraan sang anak dan istrinya.
"Ayah..." ucap Renata dan dia berjalan ke arah sang Ayah dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Ayah Renata itu menyambut pelukan sang anak dengan hangat, sebesar apa pun Renata, namun di mata Ayahnya Renata tetap lah peri kecilnya, yang harus dia jaga sampai akhir hayatnya.
"Semua itu adalah ajaran dari Ayah, tak baik memendam dendam di hati, itu akan merusak diri sendiri, lebih baik memaafkan mereka bukan...? itu yang selalu Ayah ucapkan saat aku hancur dan Ayah selalu bilang ikhlaskan apa yang sudah terjadi, itu mungkin sudah jalan hidup yang Allah tetapkan untukku, begitu kan kata Ayah" ucap Renata memandang Ayahnya dengan lembut.
Ayah Renata tak mampu berkata kata lagi, anaknya sangat tegar dan sangat kuat menjalani hidup, mulai hidup susah di kampung dan bisa mencapai cita citanya, namun tidak beruntung dalam rumah tangga, Ayah Renata benar benar tak tau harus berbicara apa lagi kepada sang anak.
"Ayah.... aku sangat beruntung punya Ayah, Ibu, Bagus, Angga, Elko, Paman dan Bibi, aku ngak tau akan seperti apa hidup ku ini, kalau tidak ada kalian, kalian yang selalu ada di sisiku, baik itu susah maupun senang, kalian selalu ada di sampingku, tak pernah meninggalkan aku sendiri" ujar Renata dengan suara serak dan mata berkaca kaca.
"Terimakasih... Ayah Ibu kalian adalah sumber kekuatan ku" ucap Renata, dan mereka pun berpelukan, menumpahkan rasa yang ada di dalam hati mereka.
"Kami menyayangi mu nak, berbahagia lah" ucap Ayah Renata di sela sela pelukan mereka.
Renata haya mampu untuk menganggukan kepalanya.
Bersambung....
**Hai.... maaf ya, novelnya di bulan puasa ini up nya ngak rutin, soalnya outhor sedikit sibuk di bulan puasa ini, in syaa allah, habis lebaran nanti baru fokus lagi menulis nya, maaf ya... tolong di maklumi, anak outhor sedang ujian 22 nya, satu ujian naik kls dan satu ujian untuk ke lulusan, maklum outhor punya anak istimewa satu jadi sedikit ribet mengurusnya, namun outhor bersyukur mempunyai dia, karena allah percaya klau outhor mampu membimbingnya๐๐๐๐๐๐
__ADS_1
Makasih**.....