Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 110


__ADS_3

Ayah... nanti hari minggu kita jalan jalan ke pantai yuk... aku mau ke pantai Yah..." ajak Angga dengan wajah menggemaskannya.


"Ok, nanti kita ke pantai, mau nginap di pinggir pantai ngak, kita bikin kemah di sana?" ujar Edo.


"Mau... mau... Yah... aku mau...!" ujar Angga ke girangan, itu adalah impian dia, justru dia juga ingin berkemah di puncak namun belum ke sampaian, sekarang satu persatu mimpi anak itu mulai terwujudkan.


"Ok, nanti kita kasih tau Bunda..." putus Edo, padahal tanpa di kasih tau, keluarga Renata sudah mendengarnya, masalahnya Edo dan Angga bicara dengan suara lumayan besar saking semangat nya.


"Bunda ikut aja, asal anak bunda senang" jawab Renata tanpa di tanya oleh ke dua laki laki yang sangat dia cintai itu.


"Ehhh... Bunda udah tau, padahal kami belum kasih tau" kekeh Angga yang tersentak kaget, karena bundanya mendengar pembicaraaanya dengan sang Ayahm


"Gimana ngak tau bunda, klau kalian ngomongnya kencang banget, jangan kan bunda, tuh nenek kakek sama om kamu juga denger" kekeh Renata menunjuk ke kursi meja makan tersebut.


Membuat Edo dan Angga terkekeh dengan tingkah mereka sendiri.


"Hehehe..." cengir Angga dan menuju ke arah sang bunda.


"Ya sudah ayo kita makan dulu, nanti di bahas lagi" ujar Renata membukan kursi untuk sang anak, dan mengambil kan makan ke dalam piring anak dan suaminya bergantian.


"Makasih sayang" ucap Edo setelah menerima piring berisi nasi goreng seafood, telur dadar dan kerupuk, hati nya begitu menghangat mendapat perlakuan manis seperti dulu saat mereka menikah pertama kali, namun rasa itu berbeda yang di rasakan Edo, dulu dia bukan manusia yang pandai bersyukur apa yang di lakukan oleh sang istri buat dia itu hanya hal sepele, namun tidak saat ini, dia sudah sadar dan pandai bersyukur, jadi hal sekecil apa pun yang di lakukan oleh sang istri membuat dia tersentuh dan senang.


"Iya mas makan lah" ujar Renata sambil tersenyum lembut, dia juga menyantap sarapan yang sudah dia ambil ke piringnya sendiri.


Ayah dan Ibunya Renata begitu bahagia melihat pemandangan itu, apa lagi melihat semangat sang cucu jauh lebih baik dari hari hari lalu.


"Duhhh.... sekarang tinggal aku yang belum ada yang melayani saat makan, semua orang dapat layanan nasi di piring mereka, sementara aku harus iri dan mengambil sendiri hiks... hiks..." seru Bagas sambil berpura pura menangis.

__ADS_1


"Hahahaha..." semua orang tertawa mendengar celotehan Bagas itu.


"Oohhh... kasihan sekali adik kakak ini, sini sini kakak ambilin" bujuk Renata sambil mengambil piring kosong yang berada di depan sang adik.


"Ngak usah kak ngak usah repot repot, sudah biasa kok di abaikan, biasany adiknya di layani, sekarang mentang mentang sudah ada orang yang mau di layani, adeknya di lupakan" seru Bagas dengan wajah masamnya.


Renata terkekeh dan lansung menyendokkan nasi ke piring adik semata wayangnya itu.


"Makan lah, ngak usah pakai merajuk lagi" kekeh Renata.


"Di sindir dulu baru di ambilin" cibik Bagas sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Semua orang yang ada di meja makan itu terkekeh mendengar celotehan Bagas yang sedang merajuk itu.


"Ngak nyaka ya bu, padahal bentar lagi wisuda namun kelakuannya masih sama kaya Angga" kekeh Ayah Renata itu.


Beberapa saat berlalu kini semua orang sudah kembali melakukan aktifitas mereka masing masing.


Sementara itu Renata dan Edo mengantarkan anak mereka ke sekolah, karena permintaan Angga yang ingin di antar Ayah Bundanya.


"Sekolah yang pintar ya nak, perhatiin guru menerangkan pelajaran, dan jangan nakal" ucap Renata lembut dan mengelus kepala Angga dengan lembut.


"Siap komandan..." ucap Angga dengan memberi hormat ala ala tentara, membuat Ayah Bundanya terkekeh, Edo mengeluh sayang kepala anaknya.


"Masuk sana, sebentar lagi bel sekolah berbunyi" ujar Edo, dan Rido menyalami tangan Ayah Bundanya secara bergantian sebelum masuk ke pekarangan sekolah.


"Da.... Ayah Bunda aku sekolah dulu" ujar Angga sambil melambaikan tangannya ke arah Ayah Bundanya.

__ADS_1


"Dadaaaa....." sahut Renata dan Edo ikut melambaikan tangannya.


"Kita cari hotel yuk sayang...." bisik Edo di kuping sang istri, dia merasa belum puas menggempur istrinya itu, karena kemaren baru sore saat selesai acara dan malam setelah larut malam dia bermain dengan sang istri, karena anaknya minta di temani tidurnya oleh ke dua orang tuanya itu.


"Ngapain ke hotel" bingung Renata.


"Mau main kuda kudaan, mas belum puas, habis klau di rumah ngak enak ada ibu, masa dia mau dengar suara merdu kita, kan ngak mungkin" kekeh Edo.


Bisa saja Edo mengurung sang istri di kamar setengah hari sebelum anaknya pulang sekolah, tapi dia tidak enak hati dengan mertuanya.


Renata yang kasihan sama suaminya itu hanya menurut saja, lagian sudah kewajiban dia melayani suami itu, dia tau suaminya merasa kurang nyaman melakukan siang hari di rumah mereka, karena ada ibunya di rumah.


"Ya udah tapi kita ngak bawa pakaian ganti lo mas" jawab Renata.


"Yess....." girang Edo, karena istri cantiknya mau mengikuti permintaannya.


"Ngak usah di pikirin sudah mas sediain dalam mobil kok" ucap Edo menggaruk tengkuknya tang tidak gatal.


"Hohoho... sudah di rencanain ya...." goda Renata menaik turun kan alisnya.


Edo hanya terkekeh dan mengangguk pasrah karena ketahuan oleh istrinya itu, mau bagai mana lagi, memang kenyataannya begitu.


"Ya sudah ayo... tapi ngak usah yang jau dari sekolah, kasian nanti anak kita nunggu kelamaan" putus Zahra.


"Siap... sayang" ucap Edo dan melaju kan mobil ke arah sebuah hotel yang tidak terlalu jauh dari sekolah anaknya, dengan wajah berseri seri membayangkan pertempuran nanti sama sang istri, dan membayakan gaya jungkat jungkit mode terbaru di otak mesum nya itu.


Renata hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan sang suami, dia sudah tau apa yang di pikirkan oleh otak mesum suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2