
"Apa maksud kamu, ngak mungkin Edo datang menemui kamu, pantang bagi anak saya memungut sampah, yang sudah di buang!" murka Mertua Renata itu.
"Benarkah... tapi kenapa ana Ibu, mengemis ngemis sama sampah ini, untuk mencabut gugatan cerai, dan minta balikan sam sampah ini" ucap Renata acuh.
"Ngak mungkin itu..." teriak mertua Rena.
"Klau ngak percaya tanya aja sendiri" acuh Renata.
"Sudah Bu... klau ngak ada urusan lagi silahkan pergi, aku mau istirahat" usir Renata.
"Ehh... urusan saya belum selesai!!"
"Mau apa lagi Ibu datang ke sini?" tanya Rena.
"Bagi dua itu perabotan rumah yang kamu bawa, saya juga berhak sama perabotan itu!"
"Hahaha.... berhak dari mana Ibu mertua, semua perabotan pakai uang aku, anak ibu ngak pernah beliin apa apa asal ibu tau, ngasih uang bulanan cuma 500rb, klau di hitung hitung anak ibu itu cuma numpang tidur di kontrakan saya" kesal Renata.
"Pokoknya saya ngak mau tau, kamu sudah tidur sama anak saya, jadi kamu harus ganti rugi!!"
"Oohhh.... jadi benar... Ibu jual burung anak Ibu, apa jangan jangan burung Bapak juga Ibu jual" hina Renata, renata di lawan gadis bar bar saat di sekolah.
__ADS_1
"Tutup mulut kamu ya...!! jangan kurang ajar kamu menantu sialan!!" teriak Ibu mertua Renata itu.
"Kenapa harus tutup mulut, emang nyatanyakan Ibu jual burung anak ibu, sudah berapa orang itu burung yang nyicipin, yang ketahuan cuma tiga" ucap Renata mendadak geli sendiri sama dirinya.
"Ya Allah... Astagfirullah.... jangan sampai anak aku kayak gitu, biarin bapaknya aja yang kayak gitu, anak aku jangan sampai" gumam Renata, mengelus perutnya.
"Balikin uang mahar dan uang seserahan yang sudah kami berikan!!" teriak Ibu mertua laknat Renata itu.
"Baiklah..... tapi minta sama anak ibu, untuk balikin keperawanan aku!!" tantang Renata.
Orang tua Edo itu lansung tidak bisa berkata kata lagi oleh Renata.
"Sekarang pergi Ibu dari rumah aku, jangan pernah bikin ribut lagi di sini, dan satu lagi, aku tidak akan pernah membagi apa pun yang aku beli dengan uang ku, dan tidak akan pernah memulangkan mahar yang sudah di berikan anak Ibu kepada saya camkan itu!!" marah Renata.
Renata masih meredakan emosinya, dadanya masih naik turun.
"Sudah sayang, jangan emosi lagi, dia sudah pergi, kasian kandungan kamu" Bi Darmi mengeluh punggung Renata agar keponakannya itu bisa tenang.
"Astaga Re... itu orang ngak tau malu banget ya. Ya Allah... gimana bisa loe sabar menghadapi mereka, klau gue mungkin dari pas baru nyampe di rumah dia lansung balik kanan dah..." cerocos Amel, karena dari Renata pulang orang sudah rame di depan rumah Bi Darmi, membuat Amel ikut penasaran, ada apa di sana, ternyata eh... ternyata Rena dan mertuanya adu mulut.
"Ncek... itu baru satu, masih ada tiga lagi di sana yang gue hadapi, strongkan gue" kekeh Renata mengangkat tangannya ala ala binaragawan.
__ADS_1
Sementara itu mama Edo sampai di rumahnya dengan muka penuh emosi.
"Do... Edo... di mana kamu...!!" teriak mamanya.
"Ada apa sih... ma, datang datang sudah kayak toa mesjid aja" omel Heru.
"Diam kamu..!!" bentak mamanya.
"Ada apa sih mama..." tanya Edo yang keluar dari kamar dengan tampang kusutnya.
"Kamu tadi nemuin Renata?"
"Hmmm..." jawab Edo lemas.
"Kan sudah mama bilang, ngak usah nemuin dia, kenapa kamu bandel banget sih..." omel mamanya.
"Kan aku minta batalin gugatan cerai aku ma... sama Renata"
"Apa...!! ngak ngak ada acara batal batalin gugatan cerai, mama ngak sudi punya mantu kayak dia!!" tegas Mama Edo.
Edo hanya diam mendengar ocehan mamanya itu, dia sudah pusing dengan masalahnya.
__ADS_1
Bersambung....