
"Bun... bunda di mana...?" panggil Angga saat pulang sekolah dia mencari bundanya, karena tadi hanya ayahnya saja yang menjemput Angga, kata ayahnya bunda lagi kurang enak badan, anak itu lansung khawatir dengan sang Bunda.
"Bun...." panggil Angga lagi, namun sayang panggilannya tidak di sahuti oleh bundanya.
"Coba lihat ke kamar sayang" titah Edo yang juga ikut masuk ke dalam rumah, karena dia juga penasaran, karena istrinya itu ngak ada suara sama sekali padahal sudah di panggil berulang kali oleh sang putra.
Gegas Angga berlari menuju kamar bundanya.
Ceklek.....
"Bundaaa.... hiks.... hiks...." pekik Angga melihat bundanya yang terkapar di lantai dekat kamar mandi.
"Kenapa sayang" tanya Edo ikut berlari masuk ke kamar mendengar teriakan sang anak.
"Astagfirullah.... Sayang...." pekik Edo saat melihat sang istri, yang tergeletak taksadarkan diri di lantai.
"Sayang... kamu kenapa sayang" ujar Edo mengangkat sang istri dan meletakannya di atas kasur dengan wajah paniknya.
"Re... hai... bangun sayang" ujar Edo sambil menepuk nepuk pipi Renata, namun tidak ada reaksi dari Renata.
"Kasih minyak kayu putih hidung Bunda Yah..." ujar Angga memberikan minyak kayu putih ke tangan Edo, Angga tau ayahnya panik melihat sang Bunda pingsan.
"Makasih sayang" ujar Edo mengambil minyak kayu putih dari tangan putranya itu.
"Dek... bangun dong" ujar Edo lirih melihat sang istri belum juga membuka matanya, begitu pun Angga, anak laki laki itu sangat cemas melihat ke adaan sang Bunda belum juga sadar dari pingsannya.
__ADS_1
"Tolong Ayah nak, kita bawa bunda ke klinik" ujar Edo menggendong sang istri, Angga mengangguk mengikuti ayahnya dari belakang menuju mobil, membukakan pintu mobil agar sang ayah mudah memasukan bundanya ke dalam mobil.
"Angga duduk di sini, pangku kepala bundanya" ujar Edo yang masih khawatir.
"Iya Yah..." ujar Angga menuruti perintah sang Ayah.
Edo melajukan mobil ke klinik namun apesnya klinik itu tutup, dengan cepat Edo lansung membawa sang istri ke rumah sakit terdekat.
"Dokter... suster.... Tolong istri sayan" ujar Edo berlari menggendong sang istri di susul Angga ikut berlari di belakang sang ayah.
"Perawat lansung membawa brangkar untuk Renata, Edo meletakan sang istri di atas brangkar tersebut, dan mengikuti perawat membawa sang istri ke UGD.
"Bapak silahkan tunggu di luar" titah perawat itu, saat sampai di depan pintu UGD.
Dengan patuh Edo menunggu sang istri di depan UGD dengan perasaan cemas, seumur umur dia baru kali ini melihat Renata sakit.
"Hiks... Hiks... Bundaaaa..." isak Angga memanggil nama sang bunda.
"Sayang, kemari nak" ujar Edo yang baru sadar ada sang anak yang dia lupakan karena terlalu panik dengan ke adaan sang istri.
Angga langsung menghambur kedalam pelukan Ayahnya.
"Bunda kenapa Yah... kok lama banget sadarnya, aku takut Yah" ujar Angga sesegukan.
"Bunda ngak kenapa napa sayang, kita do'ain bunda biar cepat sadar ya" bujuk Edo menenangkan sang anak, walau hatinya sendiri juga tidak tenang memikirkan sang istri di dalam sana.
__ADS_1
"Yah... telpon Nenek Yah..." ujar Angga yang mengingat sang Nenek.
"Ohhh... Iya Ayah lupa" ujar Edo dan mengambil Hp dan lansung mengabari mertuanya.
"Keluarga Ibu Renata..." panggil seorang perawat.
"Iya, saya suaminya" jawab Edo dan mendekat ke arah perawat tersebut.
"Bagaimana ke adaan istri saya sus" tanya Edo panik.
"Istri Bapak susah sadar, tapi masih di observasi sama dokter, jadi sekarang bapak tolong urus ruang rawat Bu Renata ke admin ya pak" ujar Suster tersebut.
"Alhamdulillah... baik sus" ujar Edo dan pergi mengursur ruang rawat Renata, tak lupa dia juga menggandeng tangan putranya.
"Bunda gimana Yah..." tanya Angga penasaran .
"Alhamdulillah..." ucap Angga ke girangan.
Setelah mengurus semua kelengkapan di administrasi, Edo kembali ke UGD.
"Apa saya sudah boleh menemui istri saya sus?" tanya Edo.
"Tunggu sebentar ya pak, sebentar lagi Bu Renata akan kami pindahkan ke ruangan" ujar suster tersebut.
Edo dengan pasrah hanya mengangguk, walau hatinya ingin menemui sang istri.
__ADS_1
"Edo.... Angga...."
Bersanbung....