
"Hallo gantengnya bunda, sholehnya bunda, bangun yuk nak... kita sholat subuh dulu" Renata membangunkan Angga, walau masih kecil, Renata sudah mengajarkan Angga kewajiban nya kepada sang pencipta.
"Uummm.... Iya bunda... bentar lagi ya bun... mata Angga masih ada lemnya, jadi susah kebuka" rengek bocah tampan itu.
Renata terkekeh mendengar ucapan sang anak, ada aja alasannya untuk mengundur bangun dari tidur.
"Oooo... ya udah deh, klau Angga ngak mau bangun ngak apa apa, nasi goreng sea food biar di habiskan sama om Bagas" ucap Renata, dengan sedikit mengancam dengan makanan ke sukaan bocah tampan yang masih betah memeluk guling itu, memeng pagi ini cuaca rada mendung, bahkan sudah gerimis, membuat hawa malas untuk bangun.
"Jangan Bun... ini Angga sudah bangun, Angga mau sholat dulu" anak ini lansung buru buru bangun dan masuk ke kamar mandi untuk berwudu'.
Renata hanya terkekeh melihat anaknya masuk ke dalam kamar mandi dengan tergesa gesa, setelah Angga masuk ke kamar mandi, Renata lansung merapikan kamar tidur Angga.
Sementara di tempat lain, di rumah Mama Eni, Pak Bandi bisa terlepas dari sang istri, dia menyelimuti istrinya dengan selimut tebal dan memberi guling, agar sang istri tidur pulas, dia ke luar dari kamar pelan pelan dan masuk ke dalam kamar sang mantan menantu, beruntungnya Heru tidak pulang, Bu Eni tidur begitu nyenyak karena subuh itu hujan lumayan besar dan membuat orang betah dalam selimut dan mata semakin susah untuk di buka.
__ADS_1
Pak Bandi, membuka selimut Seli, dan matanya lansung melotot, Seli tidur tidak menggunakan penutup gunung kembarnya, dan yang di bawah juga tersingkap mempertontonkan body semok mantan menantunya itu.
Dengan tidak sabar, Pak bandi lansung naik le kasur itu, dan lansung meremas buah kesemak di sana dengan gemes, Pak bandi menarik ****** ***** seli dan melempar ke sembarang arah, dan beruntung dia hanya memakai sarung selepas tadi main kikuk kikuk sama sang istri, belum di mana mama susah KO duluan.
Dia menerobos hutan belantara itu tanpa permisi, karena burung pipit itu sudah berubah wujud jadi burung rajawali, dan melesat masuk tanpa hambatan, tidak perduli si empunya badan masih tidur nyenyak.
Tangannya sudah bermain main di gundukan itu dengan lihai, meremas, memelintir tombol di sana, membuat sang empunya terbangun dan ******* karena perbuatan seseorang di atas tubuhnya lagi berjoget ria, dan ******* ***** si gunung kembar yang menantang indah itu.
"Pa... apa yang kamu lakukan nanti ketahuan mama " tanya Seli dengan ********.
Seli menggit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara merdunya dan tangan memegang pinggang Pak Bandi.
Pak Bandi takut kasur jedag jedug menarik Seli turun ke lantai, beruntung ada karpet bulu di sana, dan Pak Bandi semakin menggila saat posisi Seli menungginginya di menyodok dari belakang dan berpegangan dengan erat di dua bukit yang berguncang sana sini itu.
__ADS_1
Seli kembali mengganti posisi Pak Bandi ingin Seli yang menunggang kuda, dan Seli mengikutinya, Pak Bandi menyedot sumber ke hidupan di sana dengan rakus.
Tak puas di sana pak bandi kembali membalik ke adaan dia sudah sampai di puncak dan siap melepas tembakan dari rudalnya itu.
"Aagghhh... Pak Bandi ******* panjang setelah melepas tembakannya.
"Makasih... sayang"
Cup...
Setelah itu dia kabur dari kamar Seli, takut ke tahuan oleh sang istri.
Seli hanya bisa menangisi nasibnya untuk sementara, menjadi pemuas ***** mantan mertua, sampai tujuannya tercapai.
__ADS_1
"Bersambung..."