
Seli pergi dari rumah itu, dan menuju rumah temannya sudah tau masalah Seli dan mantan mertuanya, dan dia juga sudah tau seluk beluk rumah itu, kebetulan teman Seli itu juga sedang mencari rumah, Seli lansung menjual rumah itu kepada temannya dengan harga yang sudah mereka sepakati.
"Ok... makasih Rin, Mas, sudah mau bantu aku" tutur Seli sopan kepada teman dan suami temannya itu.
"Iya sama sama Sel, sudah kewajiban kami juga membantu kamu" tutur teman Seli itu.
"Jadi kapan kalian akan mengusir mereka?" tanya Seli.
"Setelah kamu pergi dari kota ini, dan mereka sedikit lengah, kami takut klau kamu masih di sini, bisa saja mantan mertua kamu yang brengsek itu menyuruh teman temannya mencari kamu" ucap suami Rina.
"Iya juga ya... aku harus pergi dari kota ini, dan aku juga ngak mau tinggal di kota ini lagi, banyak derita aku di kota ini" keluh Seli sedih.
"Iya pergi lah ke kota xx, di sana ada teman aku, dan aku sudah menghubungi dia, dan aku harap kamu bisa hidup bahagia di sana, dan jangan sampai terjerumus ke dunia malam lagi" tutur Rina lembut, menasehati Seli.
"Iya, aku akan berubah, dengan uang yang lumayan ini, aku akan mencari rumah yang sekaligus bisa buka usaha di sana" ucap Seli semangat.
"Iya, pergilah cepat, aku takut orang itu sadar kamu kabur dan membawa uang banyak, pergi lah, itu ada teman saya yang akan mengantar kamu ke kota xx?!" ucap suami Rina, memang di luar sudah ada mobil yang menunggu Seli.
__ADS_1
"Iya mas, Rin, makasih sudah bantu aku, aku pergi ya" ucap Seli memeluk temannya itu.
"Iya hati hati, jangan lupa kabarin kami, buang nomor lama kamu, dan ganti sama nomor baru" ucap Rina, yang hampir lupa dengan hal sepenting itu.
"Oh... iya, hampir saja gue lupa?!" teriak Seli bertahan.
"Bro... tolong jaga adik gue, dan antarkan dia ke rumah sodara gue dengan selamat ya?!" tutur suami Rina, kepada temannya yang akan mengantar seli ke kota xx.
"Iya... tenang aja Bro, gue berangkat dulu, takut kelamaan ketahuan sama si Bandi" tutur temanya suami Rina itu, yang juga sudah tau masalah Seli, mereka kasian sama Seli, dan membantu Seli secara suka rela.
"Selamat tinggal kota jakarta, selamat menikmati ke sengsaraan manusi manusia serakah" gumam Seli dalam hati.
Sementara itu Bu Eni yang baru pulang dari arisan, masuk ke rumah dengan ke adaan pintu tidak terkunci, suaminya masih tidur pulas di sofa ruang tengah itu.
"Ya ampun pa.... tidur apa tidur, pules banget sih" gumam Bu Eni, melihat Pak Bandi yang masih tidur pulas.
Bu Eni masuk ke dalam kamar, dan mengganti pakaiannya, namun dia tidak curiga sama sekali, karena Seli kembali merapikan pakaian di lemari seperti semula.
__ADS_1
"Li... Seli... di mana kamu, bikinin aku teh manis!!" teriak Bu Eni, seperti bos besar.
Namun tidak ada sahutan sama sekali.
"Huufff.... capek sekali, pengen di pijat deh, ah iya, suruh Seli aja yang mijat, lumayan juga dia tinggal di sini, aku kan jadi ngak ngerjain apa apa, sudah ada pembantu gratis, dan sekalian tukang pijat gratis" gumam Bu Eni terkekeh sendiri dengan omonganya.
Lama menunggu Seli tidak juga datang, sampai Bu Eni kesal sendiri.
"Seli... Li... Seli....!! dimana kamu! jangan malas malasan deh jadi orang, sudah numpang juga, kok enak enakan kamu, mau di usir ya!!" teriak Bu Eni, yang tidak tau mantan menantu nya sudah pergi dari rumah itu.
"Huu.... apa sih maunya perempuan itu, benar benar pengen di usir kali!!" gerutu Bu Eni, dia lansung berdiri dan mencari Seli ke kamar Seli, ternyata tidak ada, dan mencari ke dapur dan ke belakang rumah, Seli pun tetap tidak ada.
"Kemana perempuan itu, apa keluar kali ya? bodo ah... mending tidur dulu" gumam Bu Eni.
"Ntar dulu kunci pintu dulu, biar ngak bisa masuk perempuan itu, biar tau rasa, sebentar lagi hari ujan, sudah mendung banget, siapa suruh pergi lama lama, kedinginan kedinginan deh di luar?!" kekeh Bu Eni.
"Nah... kayak gini baru bagus, tinggal tidur deh... kedinginan kedinginan lah... dia di luar sana, emang gue pikirin" kekeh Bu Eni menuju kamarnya.
__ADS_1