Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 73


__ADS_3

Angga begitu menikmati makan siangnya, menurut Angga ini lah makan siang yang ternikmat dalam hidupnya, karena makan siang kali ada keluarga lengkapnya, ada Ayah dan Bundanya, si tambah Ayahnya mau menyuapi Angga makan, anak kecil itu bahagia sekali.


Edo pun sama, hatinya bahagia, sedih, sesal menjadi satu, bahagia karena bisa makan bersama sang anak dan bisa menyuapi anaknya, sedih karena tidak bisa setiap saat melakukan itu untuk sang anak, sesal karena perbuatan dia harus berpisah dari anak dan istrinya, kenapa dia tidak sadar dari dulu, ingi. berandai andai namun percuma, kini Edo hanya menjalani takdir yang tuhan berikan kepadanya, setidaknya Ibu dan keluarga dari mantan istrinya tidak menjauhkan anaknya dari Edo, Edo masih bersyukur tentang itu.


Renata juga terharu melihat sang anak, melihat wajah bahagia anaknya ada sedikit nyeri di hati Renata, karena tidak bisa memberikan kasih sayang yang anaknya minta.


"Yah... tau ngak ini adalah makan siang yang sangat spesial buat Angga, karena ada Ayah di sini, makan bareng sama Angga dan mau nyuapin Angga" ucap Angga dengan mata berbinar dan senyum manis terkembang di wajah anak itu dengan sempurna.


Tes...


Air mata Edo langsung jatuh tanpa permisi mendengar ucapan sang anak.

__ADS_1


"Maafin ayah nak" ucap Edo dengan suara seraknya, dia tidak mampu lagi untuk bicara, ingin meminta Zahra kembali kepadanya itu tidak mungkin, Zahra jauh lebih segala galanya, dari dia apa lagi ekonomi Zahra lebih dari pendapatannya, satu lagi yang di fikir Edo, dia tidak mau ibu nya akan kembali mengacaukan rumah tangganya, biarlah dia menjalani seperti ini, dia berjanji akan selalu ada untuk sang anak, Edo tekankan dalam hatinya.


Hati Ayah Renata ikut sesak mendengar perkataan sang cucu.


"Do, bukan kah kamu mau cari kontrakan dekat dekat sini, di depan jalan raya, itu ada toko yang baru Renata buka, kau isi saja yang di sana salah satunya, dan kau bisa buka usaha di sana, kau bisa melihat Angga setiap hari" putus Ayah Renata itu, sungguh dia tidak tega melihat cucunya itu.


Deg...


Jantung Edo lansung berpacu sedikit lebih kencang, dia tidak menyangka klau Ayah Renata masih mau berbaik hati kepadanya.


Ibu Zahra, Bagus dan Zahra hanya diam mendengar pembicaraan antara mantan menantu dan mantan mertua itu bicara, mereka yakin ayahnya melakukan yang terbaik untuk Angga, dan Ayahnya mungkin sudah melihat perubahan di diri Edo.

__ADS_1


"Saya melakukan itu untuk cucu saya, saya ingin melihat cucu saya bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita, sejak lahir hingga masuk sekolah kemarin dia hanya di asuh sama Saya, neneknya dan omnya, bahan Renata tidak bisa 24 jam bersama Angga, Renata ada hanya saat dia libur saja, di Renata sibuk mencari nafkah untuk anaknya dan kami ini, baru baru ini Angga merasakan kasih sayang Ibunya dan memilikinya" ucap Ayah Renata dengan suara serak dan menahan sesak di dadanya, dia tidak mengangka hidup anak perempuan yang sangat dia sayangi dan dia jaga selama ini akan bernasip seperti ini.


"Maafkan saya, ini gara gara saya" ucap Edo sambil tertunduk merasa bersalah, telah menelantarkan istri dan anknya saat itu.


Renata juga tertunduk menahan sesak di dadanya, dia tau selama ini tidak bisa menghabiskan waktu lama bersama sang anak, itu semua dia lakukan juga untuk kelangsungan sang anak di masa mendatang, tidak kekurangan suatu apa pun, namun dengan apa yang dia lakukan ternyata menyakiti hati anaknya, membuat sang anak haus kasih sayang orang tuanya.


"Maafkan Bunda nak" ucap Renata dengan menangis tergugu melihat ke arah sang anak.


Angga melihat sang Bunda menangis lansung turun dari bangkunya lansung mendekat ke arah sang bunda dan memeluk Bundanya dengan erat.


"Bunda tidak salah, bunda pergi kerja buat mencari uang buat beli susu Angga dan sekolah Angga, dan bunda janji kalau nanti Angga masuk sekolah Bunda akan berhenti bekerja, selalu ada untuk Angga, semuanya sudah terbukti kok, sekarang Bunda sudah ada sama Angga, dan selalu bersama Angga, kemana pun bunda pergi, Angga selalu bunda ajak, jadi... Bunda ngak boleh sedih lagi, semua adalah takdir, jadi Angga sudah menerimanya kok dengan Ikhlas" tutur anak itu sok bijak membuat tangis Renang makin me jadi dan Edo pun ikut menangis menyesali dirinya.

__ADS_1


Bersambung....


Janga lupa like komen dan Vote ya.... biar outhor semakin semangat nulis😁😁😁


__ADS_2