Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 43


__ADS_3

"Cepek Bun...." keluh Angga ngos ngosan, setelah puas bermain.


"Oohh.. anak Bunda capek ya...? udahan mainnya apa mau lanjut?" tanya Renata keadaan sang anak.


"Udahan Bun... Angga lapar" cengir anak kecil itu.


Akhirnya Renata membawa Angga makan di restoran jepang, Renata sengaja memesan makanan kesukaan sang anak.


"Tunggu sebentar ya, jangan kemana mana, bunda mau ke toilet" ucap Renata yang ingin menuntaskan hajatnya.


"Ok Bun..." cengir Angga, dia asik memainkan game di hp bundanya.


"Haaiii... ganteng sama siapa?" tanya seseorang yang melihat Angga hanya sendirian di restoran itu.


"Sama Bunda..." jawab Angga acuh, dia tidak mengenal orang yang sok akrab dengannya itu.


"Trus bundanya mana, kok ngak ada?" tanya orang itu penasaran.


"Lagi ke toilet" jawab Angga seadanya.


"Ooo..." jawab orang yang tidak di kenal oleh Angga itu.


Tidak lama Renata keluar dari kamar mandi, dan menuju ke tempat anaknya duduk, namun langkahnya terhenti, melihat laki laki yang bersama Angga.

__ADS_1


"Ncek... ngapain lagi dia?!" kesal Renata


"Sayang....?!" panggil Renta kepada anaknya, Angga pun menoleh kepada sang Bunda.


"Bunda..." girang Angga yang tidak nyaman dengan keberadaan orang yang tidak di kenal itu.


Renata memandang orang itu dengan tatapan sinis.


"Ngapain kamu di ini" omel Renata kesal, sudah mengganggu anaknya.


"Re.. maafkan mas, mas menyesal Re..." gumam Edo dengan penyesalan yang dalam.


"Ncek... ngak usah drama di sini, sana pergi, mengganggu saja" omel Renata dengan suara tegas.


"Re... apa dia anak kita" tanya Edo tanpa malu, melihat penuh kasih kepada anak yang pernah dia tolak ke hadiranya.


Renata hanya tersenyum sinis melihat ke arah Edo.


"Dia cuma anak aku, dan hanya anak aku, dia tidak mempunyai bapak, bagi aku dan anakku bapaknya sudah mati!" teriak Renata.


Hati Edo bagai di tusuk ribua belati, mendengar penolakan Renata.


"Tapi dia tetap anak aku Re, klau bukan karena aku, mana mungkin dia ada!" teriak Edo yang tidak tau diri, masih tetap ingin mengambil anaknya.

__ADS_1


"Iya anak yang kamu bikin dan setelah itu tidak kamu akaui, dan ingat bukan kah anak itu tidak kamu terima keberadaannya, dan kamu suruh gugurkan!" kesal Renata.


"Maaf... waktu itu aku khilaf" sesal Edo.


"Maaf Om... Angga ngak punya Ayah, dan Angga ngak butuh Ayah, Angga cukup punya Bunda yang sangat menyayangi Angga dan punya nenek, kakek dan om Bagus, sudah itu saja sudah cukup, Angga ngak butuh siapa siapa lagi" ucap Anak kecil itu lantang.


Duarrr....


Edo kaget mendengar penuturan anaknya, sakit hatinya saat anak itu memanggil dirinya dengan sebutan om, dan tidak menginginkan seorang Ayah, cukup Bunda saja, hati Edo benar benar hancur dengan penolakan anaknya.


Angga bocah kecil itu, sangat mengerti dengan ibunya, dia diam diam suka menguping pembicaraan sang ibu dan neneknya, tentang Ayah Angga dan tidak jarang melihat sang ibu menangis minta maaf karena tidak bisa memberikan keluarga lengkap, membuat bocah itu paham, bahwa dia punya Ayah, Ayahnya masih ada namun tidak menginginkannya, karena itu Angga tidak pernah bertanya siapa Ayahnya dimana Ayahnya.


Renata juga ikutan kaget dengan perkataan sang anak, dia tidak pernah mengajarkan Angga bicara seperti itu, tapi kenapa anaknya bisa bicara seperti orang dewasa, dan bilang tidak ingin mempunyai ayah, Renata bingung.


"Nak... ini Ayah..." gumam Edo melihat anaknya itu dengan tatapan sendu, sungguh hatinya sakit, begini kah rasanya di tolak, sesakit inikah.


"Tapi Angga ngak mau punya Ayah... jadi om pergi aja dari sini, cukup ada Bunda saja" ucap Anak itu memeluk sang Bundanya.


Sakit... sungguh sakit tidak diterima oleh anaknya.


"Pergi Angga mau makan" omel Angga.


Mau tak mau Edo pergi dari sana dengan langkah gontai, hati sakit, tidak di akui oleh anaknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2