Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 79


__ADS_3

"Bun... kenapa nenek itu jahat banget ya, kok Ayah... di marah marahin sama dia, trus Angga di tarik tarik sama dia" ucap Angga sedih.


Nyesss....


Hati Renata sakit mendengar ucapan sang anak, tidak seharusnya anaknya melihat dan mendapatkan kekerasan yang di lakukan oleh mantan Ibu mertuanya itu.


Renata tersenyum dan menatap sendu anaknya itu, dia bingung mau menyahut apa.


"Emang meneh itu siapa sih ma... kok jahat" ucap Angga lagi.


"Nenek itu, Mamanya Ayah Edo" ucap Renata jujur.


"Bearti neneknya Angga dong?" tanya anak itu lagi.


"Iya, nenek Angga sama kaya nenek yang di rumah ini" sahut Renata membelai kepala Angga.


"Tapi kok dia jahat, ngak seperti nenek" kata Angga membandingkan ke dua neneknya.


Renata di buat bingung menjelaskan kepada anaknya itu, dia tidak tau cara menjeleskannya.


"Nenek ngak jahat, cuma mungkin tadi dia lagi kesal aja sedikit" jawab Renata bingung, dia menyesal membiarkan Angga tadi lansung pergi ke tempat Edo, klau bakal terjadi seperti tadi, lebih baik dia tidak bertemu dengan mantan Ibu mertuanya dan tidak mendapatkan pertanyaan dari sang anak, tidak mungkin juga klau Renata berkata jujur kepada sang anak, dia juga ngak mau Angga membenci neneknya, walau pun bagaimana sifat neneknya itu, tetap saja Bu Eni adalah nenek kandung Angga.

__ADS_1


"Ih... ngak jahat gimana... waktu itu kan Angga juga pernah di tarik tarik sehabis kita makan ayam kakek" cemberut Angga.


Renata hanya menepuk jidat mendengar ucapan sang anak yang terlalu tajam ingatanya


"Angga... mandi yukkk.... habis itu ikut Om ya... Om mau ke pasar malam" tiba tiba bagus datang dari dalam menyelamat kan sang kakak, dia tau kakaknya kebingungan menjawab pertanyaan dari keponakannya yang sok dewasa itu.


"Yeeee.... ok, aku mandi dulu" sorak Angga kegirangan dan berlari ke kamar mandi, dan melupakan pertanyaan yang dia berikan kepada sang Bunda.


Hufff.....


Akhirnya Renata bernafas lega dan melihat ke arah adiknya yang sudah menatap Renata dengan tatapan tengilnya.


"Hah.... pasti ada maunya nih anak" gerutu Renata dalam hati.


"Hu... dasar matre ingatnya cuma uang uang mulu" dengus Renata.


"Yeee... normal itu mah, uang ngak akan di bawa mati, tapi tanpa uang hidup serasa mati" kekeh Bagus.


"Ncek... mau mu itu" kesal Zahra dan memberikan beberapa uang lembaran merah ke tangan bagus.


"Nih... sisanya kembaliin" canda Renata.

__ADS_1


"Mana ada gitu, sisanya ya masuk kantong lah" dengus Bagus dan duduk di samping sang kaka, sambil menunggu Angga.


"Ayah dan Ibunya hanya terkekeh melihat kelakuan Bagus itu, bisa bisanya manfaatin kakanya dalam keadaan genting gitu.


"Kamu itu ya gus, gus, nyari kesempatan dalam kesempitan" kekeh sang Ibu.


"Ya kapan lagi toh.. bu, mamfaatin kaka, ya klau ada kesempatan ya hajar" ucap Bagus terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Puk....


puk....


Tiba tiba Renata sudah melemparkan bantal sofa ke arah sang adik, membuat adiknya terkekeh.


"Ayo Om... aku sudah rapi" pekik Angga semangat.


Semua orang menatap ke arah bocah itu.


"Wiihhh.... ponakan Om sudah ganteng dan wangi, lets go kita ke pasar malam" ucap Bagus sok sok berbahasa inggris.


"Bun, Nek, kek, Angga mau ke pasar malam ya" ucap anak itu minta izin kepada Renata dan kakek neneknya

__ADS_1


"Iya hati hati, jangan bandel pegangan sama Om" jawab Renata.


Bersambung....


__ADS_2