Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 23


__ADS_3

Dari subuh Sehabis Sholat subuh Renata, sudah mulai membersihkan rumah mertuanya dan seperti biasa banyak pakaian habis di cuci yang di tumpuk di atas kursi sana.


Mau tidak mau Renata kembali melipatnya, dari pada melihat rumah berantakan, dan melanjutkan menyapu, mengepel dan mencuci piring yang menggunung di belakang, entah sengaja atau entah memang jorok Rena ngak tau, cucian piring itu di cuci pagi dan besok pagi akan menumpuk lagi seperti cuma rena saja mencuci piring piring itu, bahkan wajan penggorengan kemaren pun masih ada di sana.


Baru saja Rena selesai mencuci piring, dan masuk ke dalam rumah itu, kain yang tadi Rena lipatin sudah berhamburan di ruang tengah itu.


Siapa lagi pelakunya klau buka Rani ke hilangan sisirnya.


"Kok di berantakin lagi sih... Ran!" tegur Rena kesal.


"Gue nyari sisir gue" acuh Rena.


"Mana ada sisir di dalam kain yang sudah di rapiin" kesal Rena.


"Ya kali aja ada yang ngumpetin" acuh Rani.


Rena gondok setengah mati melihat Rani yang tidak ada rasa bersalah, di tambah di melihat banyak sampah tisu dan kapas habis dia berdandan berserakan di sana.


Rena ke depan mau membuang sampah pun sama, mertuanya lagi nyemilin kuaci sudah berserakan dimana mana, ingin rasanya rena berteriak sekencang kencangnya, sudah cukup dia menjadi menantu yang patuh dan mau membersihkan rumah mertuanya itu, dan tidak ada lain kali lagi, mulai hari ini Rena tutup mata melihatnya, masa bodo di katain menantu malas.


Rena masuk dan membangunkan Edo yang mau berangkat kerja.


"Bang... bangun, sudah pukul 6" ucap Rena membangun kan Edo.

__ADS_1


"Hmm... " jawab Edo, Rena yang tidak mau telat berangkat kerja, memilih pergi mandi dan meninggalkan suaminya itu.


Sehabis mandi Rena masuk kamar ternyata Edo belum bangun juga.


"Bang... mau kerja ngak! sudah siang ini... makanya klau malam jangan begadang kayak orang pengangguran!!" kesal Rena menarik giling di dalam pelukan suaminya itu.


"Iya iya.. ini bangun! cerewet banget sih" dengus Edo menyambar handuk di tangan Rena dan berlalu dari kamar itu.


Selesai merapikan kamar dan berdandan Tentang keluar kamar untuk membuat minuman dan mau mengambil sarapan untuk suaminya itu dan untuk rena sendiri.


Namun apa yan terjadi, tidak ada sarapan dan gula pun tidak ada di sana, mertuanya malah ongkang ongkang kaki sambil melihat gosip di televisi.


"Ma... " panggil rena.


"Mama ngak buat sarapan? trus gula sama teh juga ngak ada?" tanya Renata.


"Ngapain mama masak, percuma ada menantu di sini, dan ngapai mama nyediain gula sama teh segala, klau mau beli sendiri!" oceh mama mertuanya.


"Baik Rena masak dan beli gula, mana uang dapurnya" Rena menadahkan tangannya sama mertuanya itu.


Namun mertuanya tak bergeming malah fokus menonton TV.


"Ada apa sih... pagi pagi sudah ribut?" tegur Edo.

__ADS_1


"Mama ngak masak, gula sama teh juga ngak ada!" kesal Rena.


"Beneran ma...?' tanya Edo.


Mamanya cuma diam saja dan tidak menoleh sedikit pun.


Melihat itu Edo hanya menarik nafas dan meninggalkan mamanya di sana dan membawa Renata ke kamarnya.


"Aku ngak mau di sini lagi bang, aku mau ngontrak aja!" kesal Rena dengan air mata yang sudah menganak di sudut matanya.


"Sabar ya... dua hari lagi abang gajian habis itu kita cari kontrakan" bujuk Edo.


Renata cuma menganggukan kepalanya.


"Ya sudah kita sarapan di luar, sekalian abang antar ke tempat kerja" ajak Edo.


Renata mengangguk dan merapikan penampilannya yang sedikit kusut dan keluar dari kamar itu, pergi tanpa permisi, hatinya sudah benar benar sakit kali ini.


Bersambung..


Jangan lupa like komen dan vote ya...


"Terimakasih..."

__ADS_1


__ADS_2