Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 61


__ADS_3

Siang hari sepulang sekolah anak Angga meminta makan di restoran cepat saji di sebuah mall kepada sang Bunda, kebetulan mereka melewati mall itu, karena Renata akan pergi mngontrol tokonya di jalan xx.


"Bun... Angga mau makan ayam kakek ya bun, sama kentang goreng, sama es cream" cengir anak ganteng itu.


"Ok... kita ke ayam kakek" sorak Renata menyenangkan sang buah hati, buat Renata selagi dia mampu apa sih yang ngak buy dia berikan kepada sang anak, apa lagi dia pernah susah, menginginkan sesuatu harus sampai mengumpulkan uang dulu, tak jarang dia hanya mampu menelan ludah saat yang dia inginkan tidak tercapai, karena itu dia gigih berusaha mencari uang, agak kelak anak anaknya tidak merasakan apa yang pernah dia rasakan, selagi itu tidak di luar batas.


"Horee.... bunda yang terbaik.... Angga sayang banyak banyak sama bunda?!" sorak angga dengan binar bahagian di matanya, melihat kebahagian buah hatinya itu Renata ikut tersenyum senang.


"Angga sayang sam bunda, cuma gara gara di beliin ayam kakek doang?" tanya Renata kepada sang buah hati.


"Ngak kok, ngak di beliin ayam kakek juga Angga tetap sayang sama bunda, bunda adalah cintanya Angga" kekeh anak itu dengan gaya imutnya.


"Hmmm bisa aja ngelesnya" cibir Renata dengan senyum menawan, di balas kekehan oleh Angga.


"Hayuu.. turun, mau beli ayam kakek ngak?" ajak Renata yang sudah selesai memarkirkan mobilnya.


"Ok.. bunda, ya mau lah... siapa yang menolak" kekeh anak itu sangat.

__ADS_1


"Ya udah, tunggu di mobil, biar bunda buka pintu dulu!" ucap Renata membuka pintu, dia tidak mau anaknya itu turun duluan takut kenapa napa.


"Siap bunda..." jawab Angga, Angga patuh mengikuti perintah bundanya.


Saat mereka berjalan ke restoran cepat saji, dengan tidak sengaja Edo melihat Renata, yang semakin cantik bersama anak kecil yang mirip dengan wajah Renata itu, tidak ada sedikit pun anak itu mengambil paras sang ayah.


Iya Edo sedang berjualan tisu di jalanan depan mall tersebut, untuk memenuhi kebutuhannya, melihat sang mantan istri semakin sukses, dan cantik membuat nyeri di ulu hati Edo.


Dia mendapat istri yang cantik, dan di antara para mantan istri istrinya boleh di katakan Renata lah gadis perawan yang dia nikahi, yang lain sudah bolong duluan dan bahkan sudah punya anak malahan, ada rasa sesal dalam hatinya, kenapa dia terpengaruh dengan sang mama, kenapa dia begitu tidak perduli dengan Renata selama menikahi Renata tidak sedikitpun bersikap baik kepada wanita itu, membuat Edo menyesal.


"Renata, Anak ayah...." gumam Edo melihat ke arah Renata dan Angga yang melangkah dengan berpegangan tangan, dengan senyum terkembang di wajah ke dua orang itu.


Puk...


Tiba tiba seseorang menepuk punggung Edo dengan sedikit kencang, membuat Edo terlonjak kaget.


"Papa.. apaan sih, kaget tau ngak" omel Edo, karena kaget.

__ADS_1


"Lagian kamu dari tadi bengong aja, lihat siapa sih?" oceh Pak Bandi, yang kini juga ikutan jualan cang comen di jalan itu, dia sudah tidak mau lagi berjudi dan melakukan hal maksiat lain nya, kapok sudah Pak Bandi melakukan itu, melihat hancurnya Rani dan Edo tidak lepas dari campur tangan dia dan sang istri. Mana dua anaknya hingga saat ini belum pulang pulang, dan tiada kabar berita sedikit pun.


"Aku melihat Rena dan anak aku Pak?!" ucap Edo lirih.


"Apa... dimana mereka!" ucap Pak Bandi ikutan kaget, dia ingin melihat mantan menantu dan cucunya, selama Renata pergi dari rumah beberapa tahun lalu, belum sekali pun dia bertemu dengan Renata dan cucunya.


"Itu masuk ke dalam restoran ayam kakek sana!" tunjuk Edo dengan mata sendunya.


"Ayo... kita ke sana, Papa ingin bertemu dengan cucu papa" semangat Pak Bandi penuh binar, namun sayang di tahan oleh Edo.


"Jangan Pa... jangan bikin keributan, aku ngak mau menemui mereka, biarlah kita melihat mereka dari jauh" sendu Edo.


"Kenapa...?" tanya Pak Bandi bingung.


"Aku ngak mau, anakku berteriak dan tidak mengakui aku ayah nya pa, seperti beberapa bulan lalu" Edo menceritakan pertemuannya dengan Renata dan Angga saat itu, pak Bandi ikut sedih mendengar cerita sang anak, ada sesal di hatinya, yang ikut terlibat dengan perpisahan sang anak dan menantunya, seharusnya Edo bisa menghabiskan waktunya dengan anak istrinya, namun karena egonya malah menjerumuskan Edo ke dunia sesat.


"Ya sudah kita lihat dari sini saja" putus Pak Bandi ikutan sedih, sesak dadanya melihat luka di mata Edo.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2