
"Kira kira ayah bisa ngeluluhin hati bunda ngak ya nek?" tanya Angga, saat lagi duduk santai di kebun belakang menemani neneknya yang lagi memetik sayuran.
"Kita do'a in aja ya sayang...?" ucap ibu Renata itu, sambil mengelus lembut kepala sang cucu.
"Iya nek..." Angguk Angga dengan semangat.
"Emang adek pengen banget gitu, bunda balikan lagi sama ayah?" tanya Ibu Renata, yang penasaran denagan jawaban dari cucunya itu.
"Hmmm... iya nek, aku ingin seperti teman temanku, yang ada bunda dan ayahnya di satu rumah berkumpul bersama, bercanda bersama, tidur bareng ayah dan bunda, saat aku bangun aku bisa melihat ada ayah dan bunda ku di samping ku, dan ingin punya banyak adik, kami main bersama seperti teman temanku nek" ucap Angga penuh harap.
"Iya, semoga ayah kamu bisa secepatnya menikah lagi sama bunda ya sayang...?!" tutur Ibu Renata itu dengan lembut.
"Tapi.... kalau bunda ngak mau, juga ngak apa apa kok nek, jangan memaksa bunda, aku ngak apa apa kok, selagi bunda senang, yang penting bunda bahagia, dan ngak apa apa kok kami ngak satu rumah sama ayah, yang penting aku masih bisa ketemu ayah setiap hari" ujar Angga memaksakan senyumnya.
Nyessss.... hati Ibu Renata terenyuh mendengar penuturan sang cucu, "Re... ibu berharap, kamu mau menerima Edo kembali nak, demi kebahagian anak mu ini, Ibu tidak tega melihat dia yang selalu menahan perasaannya, demi melihat kamu bahagia" gumam Ibu Renata itu.
__ADS_1
Diam diam bagus merekam ucapan keponakannya itu, dan mengirimkan ke nomor sang kakak.
Di tempat lain di pantai sana, Edo semakin memberengut ulah Angga.
"Re... kamu masih ingat, waktu kita Renang dulu tiba tiba kaki kamu keram di dalam kolam renang, akhirnya aku menggendong kamu ke luar kolam renang, dan membawa kamu ke uks" tutur Angga, menyulut emosi Edo.
"Huu.... ngapain sih, laki laki sok ganteng ini membongkar semua kenangan mereka, pengen gue ceburin aja ke dalam laut sana" kesal Edo.
"Rena...... kue keman aja sih... kamu sudah capek nyari kamu tau ngak" omel seorang wanita cantik dan lansung memeluk Renata.
"Riniii.... loe juga ada di sini! ngak nyangka ya kita ketemu di sini barengan" oceh Renata bahagia.
"Apa.... jadi kalian beneran nikah, kok loe bisa terpikat sama cowok cupu ini" ledek Renata, yang tau sahabat nya itu sangat sangat tidak menyukai Angga dulunya, karena dulu Angga cowok cupu, kuper, dan banyak aja salahnya di mata Rini dulunya.
"Hehehe... waktu dia nembak gue, dia udah berubah jadi cowok tampan dan duitnya banyak, kerja bagus, sayang lah klau di tolak, rugi lah gue" kekeh Rini yang masih saja berkata terang terangan.
__ADS_1
Angga hanya geleng geleng kepala mendengar ocehan istri cerewetnya itu, dan sialnya dia sangat mencintai sang istri dari zaman sekolah dulu hingga saat ini.
Edo yang baru tau laki laki sok kecakepan di depannya itu, sudah punya istri, tentu saja tersenyum lega, walau sedikit kesal karena sudah di kerjai oleh Angga itu.
"Oiii iya... ini siapa Re..." tanya Rini melihat ke arah Edo.
"Oh... kenalin ini calon suami gue" Rena memperkenalkan Edo sebagai calon suaminya, tentu saja dia merasa ingin terbang ke langit ke tujuh.
"Ouuuhhh.... ganteng ya Re..." jujur Rini.
Edo tentu saja membusungkan dada, karena di puji oleh Rini, sahabat calon istrinya.
"Ngak usah muji muji cowok lain sayang, suami kamu ngak kalah tampan dari dia" dengus Angga tidak terima istrinya memuji laki laki lain.
"Ahh... tentu saja suami ku ini lebih tampan, tapi klau ada yang bening bening lewat depan mata kan lumayan sayang" kekeh Rini tertawa riang.
__ADS_1
Edo melihat Angga yang kesal karena sang istri memuji dirinya, tentu saja tertawa jahat dalam hati.
"Mampus kena kan loe, tadi loe yang bikin kepala gue berasap, sekarang rasain, bini loe sendiri yang bikin kepala loe berasap, makan tu karma" gumam Edo tentu saja dalam hati.