Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 59


__ADS_3

"Aapaaa... jadi ibu mau tinggal di sini, untuk selamanya" tanya Santi dengan suara yang lantang.


"Hmmm... iya, Mama tidak tau lagi harus tinggal di mana, satu satunya ya di sini?!" jawab Bu Eni enteng.


"Kenapa ngak ikut sama Bapak dan Rani saja?" tanya Santi ketus.


"Mama ngak mau, ogah Mama klau tinggal di kontrakan kecil itu, bisa gatau gatal tubuh Mama" oceh Bu Eni.


"Yang... bolehin ya, Mama tinggal di sini" rayu Edo


"Ngak, ngak akan pernah dia tinggal di sini, aku ngak sudi rumah ku di inapain sama Mama kamu!" omel Santi.


"Santiii.... jaga ucapan kamu dia orang tua saya!" Edo meradang saat mamanya di bentak oleh Santi.


"Kenapa emang, bukan Mama kamu itu jadi sumber masalah selama ini! berapa kali kamu kawin cerai sama istri kamu hu.... itu bukan karena ulah mama kamu itu!" tunjuk Santi yang tidak ada sopan sopanya.


"Haiii... perempuan tua! jaga omongan kamu ya! klau bukan anak saya, tidak akan ada yang mau sama kamu, sudah tua, banyak anak siapa yang mau sama kamu!!" sarkas Bu Eni.


"Hahaha.... kau pikir anak kamu itu berguna sama aku, iya berguna banget malah, buat jadi sopir dan jadi babu di rumah aku ini, apa yang bisa di andalkan sama dia kerjaan ngak punya, hidup numpang sama saya, itu kok di banggain, sekarang kau juga ingin tinggal di sini, ngak sudi saya nampung kamu, yang ada harta saya juga akan kau sikat!!" amuk Santi.


Membuat Edo dan Mamanya lansung emosi mendengar ucapan Santi itu, namun dia berusaha berkata lembut, sampai rencananya dan ibunya berhasil.

__ADS_1


"Yang... bukan gitu, kasian Mama Yang, tinggal di luar sana, ngak ada tempat tinggal" ucap Edo mulai melembut.


"Ncek... bukan ngak ada tempat tinggal, tapi ingin hidup enak tanpa usaha, pengen nikmati kerja keras orang, Bapak kamu sama Rani aja bisa tinggal di kontrakan kenapa ibu ini ngak mau tinggal di sana, bukankah sebelum nikah sama istri istri kamu yang dulu hidup kalian juga di kontrakan sempit!" sinis Santi.


"Buat apa punya menantu kaya klau tidak bisa kecipratan merasakan hidup enak di rumah gendongan ini, masa iya menantu kaya mertua tinggal di kontrakan" ucap Bu Eni.


"Ncek... ncek... pintar sekali kau berkilah, bukan kah kau, sedang mencoba membobol brangkas ku, dan sekarang mendatangkan ibu mu ini untuk membantu kau..., kau pikir aku ini bodoh, dengar ya, setiap sudut rumah ini, termasuk gudang di rumah ini, semuanya pakai cctv, dimana pun kau menelpon ibu mu ini aku tau, kau pikir aku bodoh seperti istri istri kau yang lain!!" sinis Santi.


Deg...


Jantung Edo dan Bu Eni lansung berpacu dengan kencang, ternyata rencana mereka sudah di ketahui oleh Santi.


Duarrr....


Edo dan Bu Eni benar benar kalah saat ini, bukannya mendapatkan harta sang istri, justru belum apa apa dia sudah ketahuan.


"Kenapa diam, apa kau tidak ingin mengakuinya" sinis Santi.


"Kalau iya aku ingin harta mu, emang kenapa, aku ini suami mu, dan aku berhak untuk menggunakan harta mu" sarkas Edo yang sudah menampakan belangnya.


"Tapi sayang, kau tidak akan mendapatkannya, mulai hari ini pergilah dari rumah ini, dan jangan balik lagi, hari ini juga kau bukan lagi suamiku!" Santi menatap nyalang Edo.

__ADS_1


"Ngak bisa gitu dong, aku masih suami kamu, dan klau kau mau cerai dari ku, serahkan harta mu, baru kau bisa cerai dari ku!" bentak Edo.


"Hahaha... dasar rampok, kau mau mengancam ku, noh lihat di belakang kau!" tunjuk Santi dengan dagunya.


Edo berbalik melihat arah yang di tunjuk Santi, dia lansung menelan salivanya, ternyata sudah ada beberapa orang berbadan besar melihat ke arahnya dengan tatapan nyalang, seketika nyali Edo menciut.


"Hehehe... gimana? keluar baik baik, atau keluar dengan ke adaan tidak utuh lagi!" kekeh santi.


Edo dan Mamanya memang tidak ada pilihan kini dia angkat kaki tanpa bisa mengeruk harta istrinya.


"Tunggu..." Edo merasa lega, Santi memanggilnya berharap santi hanya pura pura mengancamnya saja.


"Apa sayang... kamu ngak jadi ngusirku kan?!' tanya Edo sumringah.


"Ncek... Pede sekali kau, ini bawa barang barang sampah kau, dan talak aku sekarang juga!" sarkas Santi.


Edo hanya meringis melihat barang barangnya di lempar tanpa perasan oleh orang suruhan santi.


Mau tidak mau Edo menalak santi saat itu juga, tanpa banyak drama, karena banyaknya preman yang menatap lapar dirinya, lebih baik Edo cari aman


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2