
"Bunda....., bunda ngak apa apakan bun, mana yang sakit bun?" tanya Angga saat Renata baru sampai di rumah, anak laki lakinya itu lansung menyerang dengan banyak pertanyaan, dia sangat kawatir dengan bundanya.
"Sabar dulu sayang, di suruh dulu bundanya masuk baru di tanya tanya, kan kasian bunda baru pulang" ujar Ibu Renata memberi pengertian dengan lembut kepada cucunya yang dari tadi cerewet menanyakan keadaan Bundanya.
"Oh... Iya, aku lupa" ujar Angga menepuk jidatnya.
Yang lain hanya terkekeh melihat Angga.
"Yuk Bun, kita masuk, biar Angga papah" Angga lansung memapah bundanya, tanpa menghiraukan sang Ayah.
Renang hanya tersenyum haru kepada sang anak, mana mungkin anaknya itu bisa memapah tubuh Renata yang lebih gendut itu, namun tidak ingin mengecewakan sang anak, Renata tetap menarok tangannya di pundak sang anak, dan tanya Angga melingkar di pinggang sang bunda, walau tak sampai tangan itu di pinggang bundanya Angga tetap berusaha memapah bundanya.
"Ya Allah nak, masih kecil aja kamu sudah berusaha menjaga Ibu mu dengan sangat baik, maafkan ayah mu ini yang pernah ingin menghilangkan kamu dari kandungan ibu mu sayang" gumam Edo penuh sesal, mengikuti langkah anak dan istrinya dari belakang dengan mata yang berkaca kaca.
"Duduk di sini bun..." titah Angga membawa Renata ke sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Terimakasih... anak bujang Bunda..." ucap Renata kepada anaknya itu.
"Sama sama bunda, bunda mau minum apa biar Angga ambilin" tanya Angga setelah memastikan bundanya sudah duduk dengan baik, tidak hanya itu Angga juga memberi bantal di belakang punggung sang bunda.
Emang Abang ngak capek?" tanya Renata dengan senyuman lembut melihat sang anak.
"Ngak abang kuat, demi bunda dan dedek abang kuat" ujar Angga memperlihatkan ototnya.
"Aaahhh.... Benarkah, klau gitu bunda minta tolong ambilin air putih aja" seru Renata, dia tidak tega menolak permintaan anaknya yang terlalu bersemangat itu.
"Jangan lari lari abang, nanti jatuh" ujar Edo yang selalu di buat resah oleh anak pertamanya itu, yang paling tidak bisa berjalan baik baik, selalu saja harus berlari membuat dia yang meringis takut anaknya jatuh.
"Hehehe... Lupa ayah" cengir Angga lansung berhenti berlari, dan berjalan dengan benar, Edo hanya bisa geleng geleng kepala.
****
__ADS_1
"Mas, gimana ini? gara gara aku istrinya mas Edo pingsan" ucap Sely gelisah memikirkan Renata yang pingsan gara gara kedatangan dia tadi.
Bukan maksud hati Salah membuat Renata pingsan, dia hanya ingin bertegur sapa, dan minta maaf telah mengusir keluarga Edo dari rumahnya, namun apa yang dia niat kan malah bikin masalah buat Renata.
"Itu bukan salah kami sayang, mungkin istrinya takut kalau anak yang di perut mu itu anak suaminya juga, kan kamu tau sendiri bagaimana kelakuan mantan suami kamu itu dulunya" ucap suami Sely menenangkan sang istri, dia juga tidak mau istrinya itu banyak pikiran dan berefek pada kandungannya.
"Iya sih, tapi kan kasian mas, aku juga merasa bersalah, coba tadi aku ngak nemuin mereka, pasti istrinya baik baik aja" keluh Sely dengan wajah murungnya.
"Ya sudah nanti mas cari dimana mereka tinggal dan kita datang kerumahnya, minta maaf sama mereka" putus suami Sely yang tidak ingin istrinya itu berfikir terlalu dalam.
"Benar mas...." Ujar Sely penuh binar.
"Hmmm... benar lah, masa mas bohong sih" ujar Suami Saly sambil mengelus sayang rambut Saly.
"Aaakkk... Mas yang terbaik" ujar Saly berhambur kedalam pelukan sang suami.
__ADS_1
"Ya sudah sekarang tidur ngak usah banyak pikir, ingat kesehatan kamu dan dedek bayi" ujar Suami Saly sambil mengelus perut buncit sang istri.