Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 69


__ADS_3

"Duduk lah...!" titah Ayah Renata itu pada akhirnya, walau dia masih kesal dengan manta menantunya, namun apa salahnya klau orang mau meminta maaf, dan satu lagi walau bagai manapun dia tidak bisa memisahkan anak kandung dan ayahnya, Angga juga harus tau siapa ayahnya.


"Terimakasi Pak..." ucap Edo dengan senang hati, dia tidak menyangka keluarga Renata akan mempersilahkan dia duduk di sana, dia sudah membayangkan wajahnya penuh lebam tadi, namun semua itu sirna, ternyata itu hanya ketakutannya semata.


"Gas, panggil kakak sama Angga!" titah sang Ayah, ternyata orang yang mau dia panggil sedang mengintip di balik hordeng, membuat Renata terperanjat dan salah tingkah.


"Hayu loh... ngapain" goda Bagas.


"Ngak ngapa ngapain, cuma ngintip, kirain Ayah bakal mukul dia, ternyata ngak" kekeh Renata.


"Kakak berharap dia di pukul, dengan senang hati aku akan mengabulkan permintaan kakak" ucap adik Renata itu penuh semangat.


"Ncek... kau ini!" delik Renata kesal kepada sang adik.


"Habis aku sudah lama ngak praktekin ilmu ku kak, apa tendangan ku masih sekeren dulu" kekeh adik Renata itu, iya dia adalah pemegang sabuk hitam DAN 2 di taekwondo.


Renata hanya mendengus kesal melihat tingkah sang adik, dan berlalu pergi mencari sang anak, tanpa di pinta oleh Bagus tadi, dia sudah tau sang Ayah meminta dia keluar bersama Angga.


"Ayo Bun, kita keluar" panggil Angga di samping Renata.

__ADS_1


"Loh, kamu dari kapan di sini, Bunda kan belum bilang, klau kita di suruh keluar" bingung Renata.


"Kan Aku juga ikutan ngintip Bun...?!" polos Angga.


"Astaga anak ini" gerutu Renata dengan gemes.


Sementara anak itu hanya cengengesan tanpa dosa.


"Ya sudah ayo kita keluar" seru Renata pada akhirnya, dia melangkah keluar rumahnya untuk menemui manta suaminya itu.


"Astaga anak sama ibu itu kompak sekali untuk ngintip" kekeh Sang Ibu.


Puk....


"Kau ini!" gerutu sang Ibu yang mati kutu, karena tertangkap basah oleh sang anak, dan lansung meninggalkan ruangan itu, tanpa memperdulikan anak bungsunnya yang masih terkekeh di sana.


Di luar, Renata sudah berada di dekat sang Ayah dan Edo.


"Ada apa Yah....?" tanya Renata pura pura tidak tau.

__ADS_1


"Ncek, anak ini" gerutu sang Ayah dalam hati, dia tau anaknya itu mengintip dari dalam, sekarang dia pura pura tidak tau, memang ratu drama.


"Itu, Edo mau ngomong" tunjuk Ayah Renata itu, sambil menunjuk ke arah Edo, yang sedang terpaku melihat ke arah Angga.


"Ouh...." jawab Renata singkat, membuat sang Ayah geleng geleng kepala.


"Ada apa Bang Edo datang ke sini lagi!" tanya Renata datar.


"Eh..." Edo tersentak kaget, karena dia masik asik memandangi wajah sang anak yang rupawan itu, dia lupa di sana ada Renata dan Ayah Renenata.


"Abang mau minta maaf sama kamu Re, maafin kesalahan abang, sungguh abang sangat menyesal sudah memperlakukan kamu sangat buruk waktu itu sama kamu" ucap Edo penuh sesal.


Renata hanya diam mendengarkan keluh kesah Edo itu, tampa berniat untuk menyelanya sama sekali.


"Bahkan abang dengan tidak berperasaan meminta kamu untuk menggugurkan anak kita, abang sangat jahat Re, abang menyesal, dari itu abang ingin meminta maaf sama kamu, walau itu sangat sulit kamu kabulkan, tapi setidak tidak nya abang sudah berusaha, abang akan selalu datang kesini, sampai abang mendapat maaf dari lubuk hati kamu yang paling dalam, abang tidak mengharapkan apa apa, selain maaf dari kamu, anak kita, dan kelurga besar kamu Re" Edo menjeda kata katanya.


"Dan abang juga ingin memberi nafkah untuk anak kita mulai sekarang Re, izinkan abang ya, walau tidak sebesar yang kamu berikan kepadanya" ucap Edo menatap sendu sang anak yang berada di samping sang Bunda.


Angga juga menatap wajah Ayahnya dengan seksama, walau ada kerinduan di dalam lubuk hati bocah kecil itu, namun dia tidak berani mengungkap kan kepada sang Bunda, dia takut Bundanya sakit hati dan menangis sendiri setiap malam, Angga tidak mau itu terjadi, dia hanya memohon kepada sang kuasa di setiap do'anya, agar di pertemukan dengan ayah kandungnya walau hanya sekali, dia ingin memeluk Ayahnya, cukup hanya itu, dia tidak ingin berharap banyak, dia hanya ingin merasakan pelukan dan di gendong oleh ayahnya seperti teman teman sebayanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2