Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 67


__ADS_3

Edo pergi dari rumah itu tanpa arah dan tanpa tujuan, yanga ada dalam pikirannya sekarang adalah, pergi sejauh mungkin dari Mamanya, dan memulai hidup lebih baik lagi, dan mencari kerja yang halal, setelah itu menemui manta istri dan anak ya, memohon maaf kepada mereka, untuk menikah Edo belum kepikiran lagi, cukup sudah petualangannya selama ini, dia ingin tobat.


Kini di sinilah Edo di sebuah rumah petakan yang baru saja dia kontrak untuk tempat di berteduh dari hujan dan panas, tempat dia melepas lelah setelah seharian bekerja di luar sana.


"Huff.... tempat ini cukup nyaman untukku sendiri, di sini aku akan berubah segalanya" gumam Edo sambil melihat sekeliking kamar kontrakan yang tidak seberapa luas itu, namun ada kamar mandi di dalamnya.


"Aku harus beli kasur kecil untuk alas tidur ku" gumam Edo menghempaskan bokongnya di lantai tanpa belas tikar, sejatinya kontrakan itu masih kosong melompong.


Edo menarok tas ranselnya di sampingnya, entah karena terlalu lelah, lambat laun Edo tertidur di atas ubin dan berbantalkan tas ransel yang dia bawa tadi.


Beberapa jam, Edo terbangun dari tidurnya, karena perutnya sudah keroncongan dari siang dia belum sempat mengisi perutnya karena terlalu emosi dengan sang Mama.

__ADS_1


"Astaga... aku ke tiduran" gumam Edo, saat dia bangun terdengar kumandang adzan dari mesjid yang tidak jauh dari kontrakannya itu, hati Edo seketika tersentuh, entah sudah berapa lama dia tidak pernah melakukan panggilan tuhan itu, dengan tekad yang bulat, Edo ingin berubah dan bertobat, dia begegas ke kamar mandi dan membersihkan diri, dan Edo memakai celana panjang dan baju kemeja, dia langkahkan kakinya menuju mesjid untuk pertama kalinya.


"Ehh... mas, warga baru ya..." tanya tetangga kontrakan Edo ramah.


"Iya Pak, baru tadi siang masuk di sini" jujur Edo, dan di anggukin oleh Bapak itu.


"Ini mau kemana nih, ceritanya" tanya si bapak sedikit kepo.


"Mau ke mesjid Pak" balas Edo.


Edo Sholat dengan sangat khusuk ada gelayar aneh di dalam dadanya saat pertama masuk ke dalam mesjid itu, apa lagi saat dia sholat, Edo berdo'a dengan sangat Khusuk mengabaikan rasa laparnya, dia tersedu sedu mengingat segala dosa dosanya.

__ADS_1


Selesai sholat Edo baru lah mencari makan dan setelah itu dia membeli kebutuhan untuk di kontrakannya dan membeli makan malam, baru lah dia pulang.


Sebelum pulang Edo melewati toko pakaian muslim, di masuk ke sana dan membeli sarung, peci, baju koko, tasbih, dan tidak lupa satu buah mushaf, tekadnya sudah bulat untuk berubah menjadi lebih baik lagi.


Edo sampai di rumah kontrakannya dengan menyewa sebuah bajay untuk membawa barang barang yang dia beli tadi.


"Akhirnya sampai juga" gumam Edo saat membuka pintu kontrakannya.


Edo membawa masuk barang barang belanjaannya dan menatanya di kamar kecil itu, tidak banya yang Edo beli hanya satu buah kasur busa ukuran kecil, kipas angin dan sebuah lemari plastik untuk menyimpan pakaiannya.


Puas dengan hasil kerjanya Edo berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mencuci pakaian yang dia pakai tadi, karena memang dia tidak membawa banyak pakaian, selesai mencuci, Edo menjemurkan pakaiannya di bambu yang sudah tersedia di depan kontrakan, untuk menjemur pakaiannya, entah punya siapa, mungkin itu kepunyaan pengontrak lama.

__ADS_1


"Huff... akhirnya selesai" gumam Edo, dia berjalan ke kamar mandi untuk berwudu' dan melaksanakan sholat isyah di rumah, dan melanjutkan membuka mushaf yang sudah lama tidak pernah dia baca itu, dengan terbata bata dia memulai bacaannya, namun Edo tidak pantang menyerah.


Bersambung....


__ADS_2