Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 85


__ADS_3

"Jadi loe tinggal di sini Ran?" tanya Dewi saat sampai di depan rumahnya, ternyata rumah Dewi melewati rumah rani, walau pun rumah Rani tidak terlalu di pinggir jalan, harus berjalan beberapa meter untuk sampai ke rumahnya.


"Iya... yuk, mampir" ajak rani.


"Kapan kapan deh Ran, sudah sore, gue juga ada janji sama mak gue mau ngajak dia makan di luar" ucap Dewi.


"Ya udah kalau gitu, makasih ya Wi..." ucap rani tulus.


"Iya sama sama, besok tunggu gue di depan ya?!" ucap Dewi lagi.


"Ok..."


"Ya udah gue balik ya Ran... bye ... bye..." Dewi melajukan motornya menuju ke rumahnya.


"Pulang sama siapa Ran...?" tanya Pak Bandi yang ternyata sudah berdiri di teras rumah.


"Sama teman satu kerjaan Pa..." jawab Rani jujur. Dan di anggukin oleh Pak Bandi tanda mengerti


"Gimana hari pertama kerja?" tanya sang Papa lagi.


"Alhamdulillah... lancar Pa, teman temannya pada baik, kerjaannya mudah kok, lagian dulu di jakarta sama kok kerjanya, cuma ya masih bagus di jakarta sih Pa, tapi... di sini juga ngak buruk buruk amat, walau gajinya ngak segede di kota" tutur Rani.


"Alhamdulillah... atuh, ngak pa apa, namanya juga tinggal di daerah ya pasti gajinya kecil lah, tapi kan cukup buat kamu, di tambah klau kita di kampung punya lahan luas buat nanam cabe dan sayuran dan tinggal petik deh" ucap Pak Bandi.


"Iya ya pa... jadi sama aja sih ya, klau di kota gaji gede kebutuhan juga gede, di daerah gaji kecil tapi kebutuhan dapur ngak selalu kudu beli, tinggal petik ya pa..." kekeh Rani.


"Hmm... betul, lebih sehat pula, tanpa pengawet" tutur Pak Bandi.

__ADS_1


"Oh.. iya gimana kerjaan papa?" tanya Rani, balik bertanya kepada sang Papa.


"Buat ternak lele Alhamdulillah... sudah selesai ini, nanti Papa juga namanya sayuran di atasnya kerenkan" ucap Pak Bandi.


"Wahhh... bener pa... jadi dapat untung dua kali ya pa, lele dapat sayuran juga dapat" kekeh Rani.


"Iya dong" jawab Pak Bandi.


"Trus Papa ngak jadi bikin kandang ayam?" tanya Rani lagi.


"Jadi dong, besok di lanjut kerjanya" jawab Pak Bandi semangat.


"Iya Pa... semoga berhasil ya Pa... usahanya" do'a tulus Rani.


"Aamiin..."


"Ok... Pa, oh... iya Mama kemana Pa, kok ngak kelihatan?" tanya Rani lagi.


"Ada di dalam lagi merajuk, cuekin aja, sampai kapan kuatnya" ucap Pak Bandi acuh.


"Iya Pa... klau gitu Rani masuk dulu ya Pa..." Izin Rani masuk ke dalam rumahnya itu.


"Iya..." ucap Pak Bandi sambil mengangguk.


Rani masuk ke dalam Rumah, Pak Bandi melihat punggung anak gadisnya itu sampai hilang di balik pintu, dulu anak gadisnya itu selalu menggunakan pakaian kurang bahan dan wajah penuh dempulan, kini anak gadisnya mulai berubah, sudah memakai hijab walau tidak hijab syar'i namun juga tidak berpakain yang ketat sedikit longgar dan wajah yang dulu penuh dempulan, kini Hanya memakai bedak tipis tipis namun tidak mengurangi kadar kecantikannya, bahkan cantikan dia tidak memakai dempulan.


Huff....

__ADS_1


"Maafkan Papa nak!" ucap Pak Bandi Sendu, ada rasa sesal dalam dirinya, yang sudah menghancurkan masa depan ke dua anaknya, dan kin dua orang anaknya tidak tau dimana rimbanya, karena Heru dan Lila tidak sependapat dengan dirinya, dan memilih pergi dari rumah semenjak perceraian Edo dan Renata.


"Lila, Heru kalian dimana?, maafkan Papa, semoga kalian baik baik saja dimanapun kalian berada" gumam Pak Bandi sambil menerawang jauh ke depan.


Di dalam rumah Bu Eni melihat Rani masuk ke rumah lansung menghadang sang anak.


"Oh... bagus kamu ya... ninggalin mama di rumah, kamu malah enak enakan di luar sana" Omel Bu Eni.


"Mama ini apa apaan sih, emangnya aku pergi keluar buat main main, aku kerja ma..." ucap Rani.


"kalau kamu kerja mana uangnya, bagi mama!" Bu Eni menadangkan tangannya.


"Mama ini kenapa sih, aku baru kerja mana ada lansung gajian" kesal Rani.


"Lagian adapun aku uang, aku ngak akan ngasih mama, kecuali buat makan dan jajanan akan aku belikan nanti, bukan mama yang pegang uang, klau mama mau punya uang, ya kerja bantuin papa di rumah" sela Rani lagi.


"Ngak mau, ogah mama ngurusin lele sama ayam, itu bau menjijikan" ucap Bu Eni dengan muka meringisnya.


"Bau bau dan menjijikan itu bakal menghasilkan uang banyak ma..." kesal Rani, memang lah... mamanya itu susah untuk di sadarkan.


"Bodo amat, pokoknya mama ngak mau bantuin" kesal Bu Eni.


"Ya udah klau ngak mau bantuin, jangan ngarapin duit dong" ucap Rani dan berlalu masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri, dari pada di luar lama lama bersama mamanya akan menguras emosi saja.


Bersambung....


Hai... jangan lupa like komen dan vite ya...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2