Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 49


__ADS_3

Dua bulan berlalu, kini Angga sudah masuk sekolah, dan hatinya sangat senang, karena keinginannya dari dulu terkabul, sang bunda kini sudah tidak bekerja lagi, hari harinya sekarang adalah menemani Angga di sekolah, tempat ngaji mau pun les, anak kecil itu sangat senang dengan keberadaan sang bunda selalu ada di sampingnya.


"Bun... nanti pulang sekolah kita mau kemana Bun...?" tanya Angga saat mereka berada di meja makan.


"Bunda nanti mau ke toko yang ada di dekat PT bunda kerja dulu, adek mau ikut?" tanya Renata.


"Mau bun... aku ikut kemana Bunda pergi" ucap anak kecil itu penuh binar.


Kakek dan neneknya, begitu terharu melihat Angga yang lebih semangat saat ada Renata di sampingnya, tidak salah orang tua itu menyuruh anaknya untuk berhenti bekerja, dan fokus sama usaha dan anaknya saja, terbukti anaknya sekarang lebih periang, dengan keberadaan sang Bunda.


Memang mereka butuh uang, namun kebahagian anak juga lebih penting, apa lagi yang Angga punya hanya Renata sang Bunda, anak kecil itu butuh kasih sayang dan perhatian orang tuanya.


Usaha Renata sudah cukup untuk sekarang, punya dua toko sembako, sato toko pakaian, beberapa kontrakan, mobil, motor, lumayan hanya untuk menghidupin Angga, dan apa lagi tiga bulan sekali mereka dapat kiriman hasil panen dari kampung dan setoran bagi hasil warung sembako yang di kampung, dan bapaknya juga ada usaha ternak sapi dan kambing di kampung, walau kini di percayakan sama keluarga di kampung, tetap mendapat hasilnya.


"Ya sudah... habisin sarapannya nanti telat" titah Renata, dan di anggukin oleh Angga.

__ADS_1


"Ayah ke toko dulu ya.." Ayah Renata memang mengisi hari harinya ikut ke toko sembako, agar tidak jenuh di rumah, karena kakek itu biasa kerja dari dulu, tiba tiba di suruh diam dia malah tidak suka, alasannya badannya pada pegel klau ngak ngelakuin apa apa.


Begitu pun dengan Ibu Renata, setalan Angga ada Renata yang mengawasi, dia ikut ke toko, setelah kerjaan di rumah selesai.


"Iya Yah... hati hati, Ayah mau bawa motor?" tanya Renata.


"Ngak lah, jalan kaki aja, biar sehat, hitung hitung olah raga" ucap Ayah Renata.


Renata sambil menunggu Angga selesai sarapan, dia membersihkan meja makan, dan mencuci piring habis sarapan mereka tadi.


Sementara itu, Bagus sudah berangkat sari jam setengah enam tadi, karena ada urusan katanya.


"Waahhh... anak Bunda pintar sekali, sudah bisa bantuin Bunda" puji Renata kepada Angga, bocah kecil itu pipinya lansung bersemu merah, karena dapat pujian dari bundanya.


Renata terkekeh melihat pipi Angga yang memerah.

__ADS_1


"Ya sudah... ambil tas dan pakai sepatu, sebentar lagi bunda selesai" titah Renata, yang hampir selesai mencuci piring.


Angga lansung berlari ke dalam kamar, mengambil tasnya, dan ke luar untuk memasang sepatu sekolahnya.


Renata selesai ke mencuci piring lansung ke kamarnya, untuk mengambil tas dan merapikan penampilannya sedikit berantakan, tidak lupa dia membawa pakaian ganti untuk Angga.


"Bu.... kamu berangkat ya...?" seru Renata, karena Ibunya lagi berada di kamarnya.


"Iya, hati hati, bawa mobil jangan ngebut, makan siang di rumah apa ngak?"


"Ngak tau deh bu... soalnya mau ke toko di xx juga sih, ngak usah siapin makan buat kami bu, biar nanti Re beli aja" ujar Renata yang tidak mau merepotkan sang Ibu.


Ibunya menjawab dengan anggukan di kepala.


"Nek Angga sekolah dulu ya... nenek hati hati, jangan lupa kunci pintu" anak kecil itu mengajari neneknya.

__ADS_1


"Iya... cucu nenek hati hati ya..." kekeh sang nenek, yang mendapat perhatian dari cucunya.


Bersambung....


__ADS_2