Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 15


__ADS_3

Renata benar benar melongo melihat isi kamar Edi, rumah bagus dan terkesan mewah ini. dan kamar Edi yang katanya pengantin baru itu tidak ada kesan kamar pengantin baru, hanya seperti kamar bujangan kebanyakan.


Bayang kan kasur busa yang di letakan di bawah dan klau tidur berdua tidak akan bisa bergerak sama sekali, belum lagi lemari baju yang sudah usang dengan ruangan yang berantakan.


Bahkan kamar adik perempuannya saja tadi Renata lewati, lengkap seperti kamar yang baru di isi perabotannya.


"Mari masuk dek, ini kamar kita" ucap Edi dengan bahagianya tanpa bersalah sedikitpun .


"Emang kamar kita cuma begini aja bang?" tanya Renata hati hati.


"Iya... Emang mau bagaimana lagi? uang abang kan sudah habis buat acara nikahan kita kemaren" ucap Edi tanpa beban.


Padahal mah biaya pernikahan itu biaya berdua.


"Oh..." hanya itu jawaban keluar dari mulut rena.


"Dasar... klau ngak niat nikahin orang ngapain ngajak nikah, ya kali tidur begini, gue aja merantau ke jakarta tujuan merubah nasib. Alhamdulillah... bisa merubah nasib, sekarang menikah kembali ke laptop" dumel Rena dalam hati.


"Bang... kita ngak akan muat tidur berdua di kasur ini" ucap Rena.


"Iya juga sih... tapi gimana ya, abang ngak punya uang, buat besok aja sampai gajian ngak tau nih mau makan gimana" rena lansung cengok mendengar keluhan Edo.


"Gini ya bang, kita kan nikah, pasti sepengetahuan orang tua abang? Bahkan mereka datang dengan dandanan menor, emang orang tua abang ngak ada gitu buat ini siatif membersihkan kamar abang dan ke dua adik perempuan abang?" tanya Rena.

__ADS_1


"Mereka sibuk" jawab Edo singkat dan padat.


Huufff.... Rena menarik nafas dalam dalam dan membuangnya, klau hidup Edo miskin kayak hidup orang tuanya sih rena maklum kali, lah ini dandanan mereka aja ngalahin kaum sosialita.


"Ya sudah bang cariin sapu dan pelan" kesal renata.


Edo keluar dan mencari sapu pelan dan ember berisi air pelan, sedangkan orang tua dan adik adiknya sibuk memakan makanan yang di bawa oleh keluarga Renata tadi, tanpa niat menawarkan Rena sedikit pun.


"Bawa apaan kamu Do?" tanya bapaknya.


"Ini ngambil pelan sama sapu" ucap Edo berlalu.


"Kepala keluarga itu ngak ada yang megang mengang kayak gituan, bukan kerjaan kamu itu, merendahkan martabat laki laki saja kamu" oceh sang Bapak


Rena mendengarkan semua ocehan Ayah mertuanya.


Edo datang membawa semua yang di butuhkan Renata.


"Nih dek, lain kali jangn suruh abang bawa ginian ya, ini bukan kerjaan abang tau" dumel Edo.


"Lalu ini kerjaan siapa?" tanya Renata.


"Ya kamu lah, sebagai istri" jawab Edo.

__ADS_1


"Klau gitu kerja abang apa?" tanya Renata membalikan kata.


"Cari nafkah buat keluarga" ucap Edo dengan tegas.


"Kalau gitu, mana nafkah aku untuk hari ini?" Renata lansung menadangkan tangannya.


Edo lansung kikuk, mendapat permintaan sang istri, uangnya semuanya sudah di tangan sang Ibu, kemaren di minta ibunya, karena tau mereka akan tinggal di sini, jadi ibunya maunya uang dapur dia yang pegang.


"Mana?" tanya Rena lagi.


"Gini dek, kata ibu karena kita akan tinggal di sini, jadi uang dapur biar ibu yang mengelola" ucap Edi.


"Jadi... aku fungsinya apa buat abang?" tanya rena lagi dengan menatap tajam Edo


"Kamu kan istri abang, yang tentunya bisa nemamin abang" jawab Edi.


Kesal sekali hati rena saat ini, bagaimana tidak, di ajak tinggal di rumah mertuanya tapi malah tidak di hargai sama sekali.


"Baik lah, besok kita pindah dari sini, aku mau ngontrak, klau abang ngak mau, jangan harap dapat malam pertama" ancam renata"


Beruntungnya dia belum melakukan *** ***.


Edo lansung kaget dengan ucapan sang istri, dari semalam dia sudah menahan si otong sekarang niat ingin melepas dahaga malah kena ancam.

__ADS_1


"Apaa...."


Bersambung...


__ADS_2