
Pernikahan Edo dan Renata sudah berjalan tiga bulan, mereka terlihat sangat bahagia, walau kadang kala ada cekcok hal sepele masalah anak namun itu semua tidak mengurangi kadar cinta merek, justru itu sebagai bumbu bumbu cinta yang mewarnai hari hari mereka.
Walau sudah berlalu tiga bulan, Renata belum juga kunjung hamil, bagi Edo tidak masalah, karena dia masih bisa bermanja manja dengan sang istri, tapi putra tampan mereka yang selalu rewel menanyakan kapan adik ada, namun Edo selalu berhasil memberi pengertian kepada sang anak, dia tidak ingin istrinya terlalu memikirkan masalah bayi, takut sang istri menjadi stres.
Di belahan kota lainnya Rani sedang di pinang oleh teman satu kerjaannya, laki laki itu mau menerima Rani dengan segala kekurangan dan kelebihannya, tanpa memandang masa lalu Rani yang buruk, bagi dirinya semua orang punya masa lalu berbeda beda, termasuk dia sendiri yang hanya hidup sebatang kara, tidak tau siapa ayah dan ibunya, di rawat di panti asuhan sampai mau masuk smp, dia keluar dari panti karena tidak mau menyusahkan orang lain sama sekali.
"Bagaimana dek, kamu mau kan menerima lamaran abang?" tanya laki laki yang bernama Rinto tersebut.
"Bang, kenapa abang ngak cari wanita yang masih gadis aja, aku itu bukan orang baik bang, aku punya masa lalu yang buruk dan mama ku orang yang suka merendahkan orang lain, judes" ujar Rani memberi tahu laki laki tersebut, dia tidak mau ada yang di tutup tutupi, selain itu dia juga masih belum yakin. takut Rinto hanya kagum sesaat karena kecantikan Rani yang memang jauh lebih cantik dari pada teman teman di tempat dia bekerja, dan dia tidak ingin kembali menerima perlakuan saat menikah dulu.
"Cinta tidak memandang siapa orangnya, apa kerjaannya, masa kalung seperti apa cinta tidak memandang itu dek, asal kamu tau, sebelum abang memberanikan diri melamar kamu, abang sudah melalukan sholat istiqaroh tiga kali dek, namun jawaban tetap memang kamu di setiap mimpi abang, jadi tolong pertimbangkan permintaan abang ini dek, abang kasih kamu waktu satu minggu agar kamu melakukan sholat istiqaroh, untuk mencari jawabannya" putus Rinto yang kekeh tidak mau di tolak.
Baik lah klau gitu aku pulang dulu ya bang" ucap Rani.
__ADS_1
"Abang antar ya...?" ucap Rinto yang ingin mengantar wanita yang sudah sangat lama dia sukai itu, namun baru kali ini dia berani menyatakannya setelah melaksanakan sholat istiqaroh, dia juga takut hanya itu cinta sesaat atau hanya sekedar kagum dengan ke gigihan Rani melayani para pembeli di toko, dan ke baikan Rani kepada para karyawan toko tersebut, di tambah lagi Rani wanita dewasa yang cantik menurut Rinto, bukan hanya Rinto yang suka sama Rani, banyak laki laki yang sudah menyatakan cinta terang terangan, namun semuanya di tolak oleh Rani.
"Aku bawa motor bang?!" jawab Rani tidak enak hati.
"Ya sudah klau gitu abang iringi dari belakang" putus Rinto yang juga ikut beranjak dari duduknya.
Mau tidak mau Rani terpaksa membiarkannya, di tolak pun percuma, laki laki itu juga kekeh tidak dapat di bantah.
"Maaf Ras, saya mau pulang bareng sama Rani, kamu pulang sendiri aja" ujar Rinto tanpa melihat ke arah Rasti.
"Kan Rani bawa motor bang, biarin aja dia pulang sendiri, sudah besar ini" ujar Rasti menatap sinis ke arah Rani, karena memang dari dulu saat pertama masuk kerja Rasti orang yang pertama kali dan sampai sekarang tidak menyukai Rani, karena Rani di sukai oleh banyak orang, kecantikan Rani jauh di atas Rasti, di tambah bosnya suka memuji cara kerja Rani, dia sudah capek capek cari muka, tidak pernah di puji bos, di tambah Rani pintar membuat pelanggan membeli produk mereka dan keseringan dapat bonus dari bosnya itu.
"Yang sopan sedikit Rasti, Rani itu jauh lebih tua dari kamu umurnya, masa kamu hanya panggil dia nama saja" tegur Rinto sedikit kesal dengan kelakuan Rasti tersebut
__ADS_1
"Dih... beda 4 th doang ribet amat sih" gumam Rasti dengan mata kesal melihat ke arah Rani.
Rinto hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Rasti tersebut, Rani malah cuek aja tak perduli dengan kelakuan songong Rasti tersebut, dia pernah lebih parah dari Rasti makanya Rani harap maklum, yang penting Rasti tidak kelewat batas saja, masih bisa di toleransi oleh Rani.
"Ayo Ran, kaya nya mau hujan" ujar Rinto mengajak Rani, dan Rani hanya mengangguk lansung menaiki motor dan memakai helm.
"Bang, aku gimana?" tanya Rasti sedikit merengek manja.
"Bukan urusan saya, kamu bukan siapa siapa saya, adik bukan saudara bukan" ketus Rinto yang kesal melihat tingkah Rasti yang tidak ada sopan sopanya sama orang yang lebih dewasa dari dirinya.
Rinto melajukan motornya mengikuti Rani yang sudah jalan lebih dulu, Rasti di buat kesal oleh Rinto dia menghentak hentakan kaki dan mengumpati Rani yang tidak tau apa apa.
Bersambung....
__ADS_1